Arsip Kategori: Tauhid

Konsep Surga dan Neraka

Seorang kawan saya yang mualaf pernah menuturkan bahwa salah satu sebab beliau mengucap dua kalimat syahadat adalah konsep “surga dan neraka” dalam Islam.

Dahulu, beliau hidup di tengah kehidupan agamis yang kental. Kawan saya ini (sebut saja namanya “L”) adalah salah satu anak kesayangan sang Ayah. Setiap akan berangkat berkhotbah, sang Ayah akan berkhotbah terlebih dahulu di hadapan si L, “Bagaimana menurutmu khotbah Bapak?”
Lanjutkan membaca Konsep Surga dan Neraka

Tersembunyi

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/12/tersembunyi.html

 

Abu Al-Jauzaa’ :, 10 Desember 2011

*

Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ ابْنُ سَلَمَةَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ، بِهَذَا الْإِسْنَادِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ، وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Sa’iid Al-Jurairiy dengan sanad ini, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab, ia berkata : Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’iin adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais. Ia mempunyai ibu, dan ia dulu mempunyai belang putih. Carilah ia, lalu mintalah ia agar memohonkan ampun kepada kalian” [Shahih Muslim no. 2542].

Ya, dialah Uwais Al-Qaraniy rahimahullah. Seorang yang sempat sejaman dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun belum pernah bertemu dengan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Keutamaan yang dimiliki Uwais salah satunya karena sifatnya yang enggan dengan kemasyhuran[1]. Ia senantiasa menyembunyikan diri dalam ketaatan, hingga ketika ada orang menemuinya karena mengetahui keutamaan yang disebutkan ‘Umar dalam hadits di atas, Uwais berkata :

Lanjutkan membaca Tersembunyi

Tergores dan Tersandung

Tidaklah seseorang terkena goresan [ranting] atau tersandung melainkan akibat dosa yang ia perbuat”. [Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran 9/236 , Al-Qurthubi, Muassah Risalah, cet.1, 1420 H]

Sumber: Facebook social plugin di blog Ustadz Aris Munandar hafizhahullah

(*) Nasihat ini bagus diingat pas kita kesandung, terluka, terantuk batu, kejedot dinding, atau terkena jenis “kecelakaan ringan” lainnya.

Ketika Tidak Ada Orang yang Melihat atau Mengetahui

Diantara tanda keikhlasan seseorang adalah ia semakin gembira dan bahagia tatkala semakin tidak ada orang yang melihat atau mengetahui amalan sholeh yang ia kerjakan. Tatkala ia mengetahui bahwasanya hanyalah Allah yang mengetahui amalan sholehnya maka hatinyapun berbinar-binar.

Pernahkan anda merasakan kebahagiaan tersebut?? jika pernah maka bergembiralah, pertahankanlah kebahagiaan tersebut, semoga anda termasuk orang-orang yang ikhlas.

Namun jika tidak pernah anda rasakan maka berangan-anganlah jika anda beramal sholeh baik haji atau umroh atau bersedekah atau ikut pengajian atau berdakwah atau membantu orang lain agar tak seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah ta’aalaa.

Angan-angan ini sangatlah berat dan sulit…akan tetapi berdoalah…Allahlah yang membolak-balikan hati anda

http://firanda.com/index.php/artikel/36-status-facebook/210-antara-keikhlasan-dan-menyembunyikan-amal-sholeh

Bersabarlah, Kemenangan Itu Pasti ‘kan Tiba

Yang namanya “menanti” dan “bersabar” adalah pekerjaan yang melelahkan, untuk sebagian orang. Akan tetapi, tidak begitu adanya dengan orang-orang yang telah diteguhkan hatinya oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Banyak tetumbuhan dakwah yang mesti berjuang menerabas tanah untuk menguatkan akar. Sungguh sabarnya ia, menembus rapatnya butir-butir tanah. Meski begitu, dengan kuasa Allah semata, akar itu kian menyerabut, hingga bertambah bulu-bulu halus, dan semakin kokohlah cengkeramannya di dasar bumi.

Tak berhenti sampai di situ, setelah akar tumbuh merambat, batang pun berkembang menjulang. Tak cukup itu saja, ranting membentang bagai menyapa angin, daun-daunnya juga merimbun hijau bersalaman dengan udara yang berkerumun di atas bumi.

Lihatlah, betapa tempat yang sempit menjadi awal sebuah keleluasan yang menenteramkan. Tanah yang begitu rapat menjadi mula dedaunan hijau tertiup-tiup kegirangan berkawan dengan bumi yang ramah. Hingga akhirnya, buah-buah yang siap dipetik akan tiba waktunya untuk dinikmati orang banyak.

Dengan keteguhan, dari hati, berlatarkan niat yang putih.

Jika Anda seratus persen meniru jalan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anda telah berada di jalur yang benar. Tugas Anda selanjutnya, menjalani dakwah tersebut dengan teguh bagai keteguhan seorang Muhammad bin Abdillah.

Berdakwalah dengan hati. Menasihati karena ingin manusia menjadi baik, bukan karena ingin mempermalukan mereka dengan kejahilan dan kemaksiatan yang terlanjur mereka lakukan. Mendidik manusia karena berharap mereka menjadi saudara seiman di dunia, dan tetangga Anda saat berdampingan di dipan-dipan Firdaus Al-A’la.

Putihkan baik-baik niat untuk berdakwah hanya untuk Allah semata, semata agar Allah semakin cinta kepada Anda, di dunia dan di akhirat. Titik tujuan satu saja: agar hanya Allah yang disembah di muka bumi, bukan sebatas manusia membungkukkan punggung, bertakbir, atau mengitari Ka’bah. Lebih mulia lagi cita-cita Anda daripada itu. Satu titik tujuan Anda: mereka benar-benar tunduk kepada Allah, kepada ketentuan yang telah Allah pilih untuk hamba-hamba-Nya. Tidak ada hawa nafsu yang diagungkan, tidak ada dewa-dewi yang disembah, tidak ada ego pribadi yang didahulukan, hanya Allah saja yang selalu paling dipatuhi.

Lawanlah bisikan setan jika dia menyuruh Anda berdakwah untuk menambah pengikut. Perangilah tipu daya setan, karena pemuliaan manusia terhadap diri Anda akan menjadi penghinaan Allah atas diri Anda jika Anda menyeru manusia supaya Anda memanen puja-puji dan kemasyhuran.

Bersabarlah, kemenangan itu pasti ‘kan tiba

Kalau di awal dakwah Anda merasa sendirian, tenanglah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun seperti itu. Kemenangan tidak datang serta-merta. Kalau bukan di dunia, bisa jadi kemenangan datang di akhirat menghampiri Anda.

Bersabarlah, kemenangan itu pasti ‘kan tiba.

Bandar Universiti, 2 Juli 2011,
Athirah

***

Catatan:

Judul ini menjadi pengganti dari judul sebelumnya. Penggantian judul pada hari Ahad, 3 Juli 2011. Atas nasihat dan ilmu baru dari para ikhwah, kami sampaikan “Jazahumullahu khairan“.

Faidah dari Kajian Kitab Al-Minzhar, Ahad, 15 Mei 2011

Kesalahan dalam Tauhid
====================

1. الدعاء هو العبادة
– Makna literal: ibadah itu hanyalah doa.
– Makna sebenarnya: hashr (pembatasan), yang bermakna bahwa hal tersebut sangat penting; seperti juga dalam hadis, الحج العرفة ; sehingga, makna hadis: doa merupakan bagian yang sangat penting dari ibadah.

2. Ada ulama yang berpendapat bahwa “ومن يدع مع الله اله آخر…” merupakan ayat yang menjadi dalil bahwa kemusyrikan=kekafiran, sebagaimana dalam hadis “الفرق بين الكفر والشرك الصلاة“. Namun, Syekh Shalih Al-Fauzan berpendapat bahwa ada kekafiran yang tidak termasuk kemusyrikan.

3. Hadis riwayat Abu Hurairah: “Siapa yang berbahagia dengan syafaatmu di hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه

4. فصل لربك وانحر
Pendapat ulama tentang ayat ini: Lanjutkan membaca Faidah dari Kajian Kitab Al-Minzhar, Ahad, 15 Mei 2011

Kemerdekaan Seorang Manusia

Orang yang paling merdeka di muka bumi adalah orang yang bertauhid kepada Allah, mengesakan Allah dalam segala bentuk peribadahan.

Segala persaksian tentang keesaan Tuhan, dia persembahkan hanya untuk Allah. Segala doa, dia panjatkan hanya kepada Allah. Segala darah dan daging hewan sembelihan yang mengalir, dia tujukan hanya untuk Allah. Rukuk dan sujudnya, segenap ibadah shalatnya, dia lakukan hanya untuk Allah. Tidak lagi tersisa sebuah ibadah, kecuali hanya untuk Allah, hanya untuk Allah.

Dalam dirinya, tidak ada tempat bagi sifat ingin dipuji, ingin dilihat, ingin disanjung, ingin dielu-elukan. Dalam jiwanya, tidak ada keinginan selain mengharap ridha Allah.

Dia adalah orang yang paling merdeka, karena dia tidak perlu tersiksa karena harus mencari-cari muka di hadapan orang lain. Dia adalah orang yang paling merdeka, karena dia tidak perlu mencari-cari keridhaan manusia. Keridhaan manusia akan datang sendiri kepadanya seiring dengan ridha Allah yang meliputi dirinya.

Dia adalah orang yang paling merdeka, karena dia tidak perlu merana ketika seluruh orang mencampakkan dirinya yang berpegang teguh dengan kebenaran. Dialah orang yang paling merdeka, karena sebumi harta berpaling darinya tidak menjadikan bermuram durja serasa tak ada lagi pintu rezeki yang akan terbuka.

Dialah orang yang bertauhid kepada Allah, yang mengesakan Allah, dan tidak ada tempat yang paling utama di hatinya melainkan pasti itu hanya untuk Allah.

Dialah orang yang mengisi citanya dengan harapan menjadi kekasih Allah, yang membumbungkan angannya setinggi Firdaus Al-A’la. Dialah orang yang yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara alam semesta, bahwa hanya Allah satu-satunya yang bisa melapangkan kesulitan dan mendatangkan kebahagiaan, bahwa hanya Allah satu-satunya tempat memohon dan berkeluh kesah.

Dunia menaunginya, akhirat merindukannya. Duhai orang yang bertauhid kepada Allah, betapa merdeka jiwa dan ragamu ….

Bandar Universiti, 12 Mei 2011,
Athirah

Senantiasa Menggantungkan Hati kepada Ash-Shamad

Ketika hendak beribadah, kita sepatutnya menggantungkan hati kepada Allah; berharap agar Allah menjadikan niat kita ikhlas mempersembahkan ibadah kita hanya untuk-Nya.

Ketika sedang beribadah, hati kita tetap digantungkan kepada Allah; berharap agar Allah menjadikan tata cara amalan kita selalu lurus menurut pada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun ketika kita telah selesai beribadah, hati pun tak boleh lepas dari ketergantungan kepada Allah; berharap agar amal ibadah yang telah kita lakukan berkenan Ia terima di sisi-Nya.

Itulah intisari nasihat Ustadz Abu Isa–semoga Allah menjaga beliau dan keluarga beliau–beberapa tahun silam. Sungguh, nasihat yang disampaikan hari itu, benar-benar masih teringat dengan baik hingga kini.

Bandar Universiti, 30 Maret 2011,
Athirah binti Mustadjab


Kotakata:
Ash-Shamad (Ar): Salah satu nama Allah; silakan lihat di surat Al-Ikhlas, ayat ke-2.