Konsep Surga dan Neraka

Seorang kawan saya yang mualaf pernah menuturkan bahwa salah satu sebab beliau mengucap dua kalimat syahadat adalah konsep “surga dan neraka” dalam Islam.

Dahulu, beliau hidup di tengah kehidupan agamis yang kental. Kawan saya ini (sebut saja namanya “L”) adalah salah satu anak kesayangan sang Ayah. Setiap akan berangkat berkhotbah, sang Ayah akan berkhotbah terlebih dahulu di hadapan si L, “Bagaimana menurutmu khotbah Bapak?”

Si L dimintai pendapat. Si L jadi salah satu harapan besar sang Ayah untuk mewarisi darah pengkhotbah dalam dirinya. Dan memang, si L termasuk anak yang berbakat untuk itu: cerdas dan agamis.

Sampai suatu ketika dia berjumpa dengan seorang muslim yang memercik kehidupannya dengan warna kelabu. Membawa aroma ragu-ragu terhadap akidahnya.

Awalnya dia yakin bahwa bisa menaklukkan si muslim ini. Dia akan mematahkan argumentasi-argumentasinya. Dia akan membuat si muslim bertekuk lutut kepada keyakinannya: agamanya adalah agama keselamatan.

Berbulan-bulan waktu berjalan ….

Di luar dugaan, yang terjadi malah sebaliknya. Si muslim ternyata punya argumentasi yang kokoh, alasan-alasan yang dahsyat, dan logika yang masuk akal.

Lambat laun, keyakinan diri si L memudar. Goncang!

Pahit memang … tapi itulah kenyataan. Dia kalah. Akidahnya mulai oleng. Perlahan-lahan dia utarakan maksudnya untuk memeluk agama Islam. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada keluarganya.

Bisa ditebak reaksi keluarganya, ‘kan? Menolak! Jelas menolak!

Mau ditaruh ke mana muka mereka? Anak pengkhotbah malah keluar dari agama keselamatan mengikuti “domba-domba yang tersesat”. Sungguh tak bisa diterima.

Meski begitu, mau bilang apa coba kalau Allah sudah memantapkan hidayah di dada si L? Akhirnya, si L masuk Islam. Menggenggam hidayah. Alhamdulillah ….

Fundamental

Fundamental, atau bisa kita sebut sebagai “fitrah”. Konsep “surga dan neraka” dalam Islam menjelaskan sesuatu yang fundamental.

Dalam ilmu fisika, aksi-reaksi.
Dalam kehidupan, you get what you give.
Dalam bisnis, usaha-hasil.

Meski tinggal di negara makmur, belum tentu kita makmur. Tergantung kita mau berusaha atau tidak. Bagaimana mungkin berharap makmur kalau cuma ngeloyor tanpa tujuan?

Meski tinggal di neraka miskin, belum tentu kita ikut-ikutan miskin. Tergantung kita mau berusaha atau tidak.

Meski kita anak konglomerat paling tajir, belum tentu kita bakal terus-terusan tajir. Kalau duit dihambur-hamburkan tanpa perhitungan, kira-kira bagaimana efeknya terhadap neraca keuangan?

Meski kita anak ilmuwan paling jenius sedunia, kalau kita tidak mau belajar, kira-kira kita bisa mengikuti jejak orang tua kita?

Akidahnya yang terdahulu sudah diyakini sepenuh hati oleh si L.

Tapi, nuraninya merenung. Justru konsep “surga dan neraka” dalam Islam yang lebih logis.

Bukankah seseorang mendapat imbalan atas kebaikan yang dia perbuat? Dan seseorang mendapat ganjaran atas keburukan yang dia kerjakan?

Logis. Fundamental. Fitrah.

Apakah karena beragama X, seorang yang berbuat tindak kriminal akan selamat di akhirat nanti? Bukankah di dunia saja dia sudah terhukum atas kesalahannya; kenapa di akhirat justru selamat? Cukup dengan bersaksi bahwa dia beragama X.

Urusan dunia adalah urusan dunia. Jadilah hidup kocar-kacir.

Sedangkan dalam Islam, segala hal telah diatur rapi di posnya masing-masing. Dunia adalah tempat manusia berusaha, sedangkan akhirat adalah tempatnya menuai kerja.

Dalam Islam, persaksian “aku seorang muslim” saja tak cukup. Karena itu baru di ujung lisan. Amal perbuatannya yang akan membuktikan ke mana hidupnya akan berujung.

Bayangkan, kita menyatakan diri masuk Islam tapi belum tentu kita selamat! Hayyyoooo ….

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

Persaksian itu tak akan ada gunanya kalau kita malah bermaksiat, berbuat fajir, berbuat nista, bahkan berbuat tindak kekufuran dan kesyirikan.

Ada kata, mesti ada nyata. Betul begitu, ‘kan?

Kita kenal kutipan hadits ini:

القرآن حجة لك أو عليك

Al-Quran adalah hujjah yang membelamu atau balik menghukummu.”
(Hadits shahih; diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari; lihat Shahihul Jami’)

Seorang muslim kenal hukum Alquran, belum tentu dia selamat. Seorang muslim hafal Alquran, belum tentu dia selamat. Seorang muslim mengaku beriman kepada Alquran, belum tentu dia selamat. Amalannya yang akan jadi bekal keselamatan baginya.

Semata klaim tanpa bukti? Tidak … tidak … tidak ada jaminan bisa selamat di akhirat nanti.

Iman itu mesti diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Nah, agama mana coba yang “berani” seperti ini? Tak ada garansi keselamatan 100%. Usaha dulu, baru bisa dapat hasil!

Muslim turunan

Kita yang terlahir dari keluarga muslim mungkin tak pernah berpikir sedalam ini. Si L yang tumbuh besar di keluarga non-Islam ternyata mendapat hidayah Allah melalui sebuah proses dialog internal dengan dirinya. Sebuah bincang yang sangat pribadi antara dirinya dan fitrahnya.

Semoga Allah wafatkan kita di atas keselamatan. Lalu membangkitkan kita di alam kebahagiaan, tiada berujung, selamanya ….

Bayan Lepas, 20 November 2013,
Athirah

PS: Direvisi pada 27 November 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s