Arsip Kategori: Alquran

Mengulang-Ulang Hafalan dan Sering Melihatnya

Menjadi seorang penuntut ilmu syar’i adalah pekerjaan yang sangat mulia jika diniatkan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah. Allah subhanahu wa ta’ala memberi derajat (degree) yang tinggi (yaitu sebanyak beberapa derajat) bagi orang yang berilmu, sebagaimana firman-Nya,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebanyak beberapa derajat….” (Q.s. Mujadilah: 11)

Ilmu syar’i yang dimiliki seorang penuntut ilmu syar’i akan mampu membuat dirinya takut kepada Allah, sebagaimana firman Allah,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama ….” (Q.s. Fathir: 28)

Melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dijelaskan ganjaran bagi seorang penentut ilmu syar’i, yakni kemudahan jalannya menuju surga. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ الله لَهُ به طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.r. Muslim)

Juga, kepahaman seorang terhadap ilmu syar’i merupakan tanda kebaikan yang diberikan Allah pada dirinya. Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن يُرِدِ الله به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang diiginkan kebaikan oleh Allah, dia akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Mengingat pentingnya ilmu syar’i tersebut, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut atau mencarinya. Di antara bentuk kesungguhan tersebut adalah dengan berusaha menghapalnya sesegera mungkin ketika memperolehinya. Mafhum, menghafal adalah salah satu bagian yang harus ada pada diri seorang penuntut ilmu syar’i.

Menghafal itu merupakan pekerjaan yang menyenangkan bagi seseorang jika dia sudah terbiasa dengannya. Walaupun demikian, menghafal terkadang menjadi ketakutan tersendiri di masa awalnya menuntut ilmu syar’i. Ketakutan tersebut merupakan waswas (bisikan-bisikan) dari setan untuk melemahkan semangat orang tersebut sehingga dia lari dari menuntut ilmu syar’i.

Lalu, bagaimanakah mengatasi ketakutan dalam menghafal tersebut sehingga berubah menjadi pekerjaan yang menyenangkan?

Lanjutkan membaca Mengulang-Ulang Hafalan dan Sering Melihatnya

……………

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian.

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah pahalamu disempurnakan.

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.

وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

(Q.S. Ali Imran:185)

Problematika dalam Menghafal Alquran

Mendengar orang lain mengulang hafalannya dengan tak jemu memang bisa jadi sindiran plus pemantik semangat untuk kita. Ada orang yang saya jumpai setiap hari selalu mengulang hafalan Alqurannya, meski tanggung jawab beliau yang lain pun terbilang lumayan banyak. Namun, apa mau dikata, kalau sudah jadi cita-cita, terik dan dingin pun insya Allah ‘kan dilalui dengan kesabaran.

Saat ingin rihat siang hari, di depan deretan buku, saya berdiri. Terambillah sebuah buku bersampul kertas HVS kuning, yang berjudul Buku Panduan Santri Pesantren Mahasiswa Ma’had Al-‘Ilmi, terbitan Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari, tahun 1429 H/2008 M.

Untuk Anda, saya kutipkan satu bagian kecil dari isi buku tersebut, tentang “Problematika dalam Menghafal Alquran” yang termuat pada halaman 46. [baca selanjutnya]