Arsip Kategori: Motivasi

Mengeluh

Kata KBBI, 

ke·luh n ungkapan yg keluar krn perasaan susah (krn menderita sesuatu yg berat, kesakitan, dsb);
— kesah segala ucapan yg terlahir krn kesusahan (kepedihan dsb);

ber·ke·luh v mengeluh;~ kesah melahirkan perasaan susah dng mengaduh, menarik napas, dsb;

me·nge·luh v menyatakan susah (krn penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dsb): meskipun tugas itu sangat berat, tetapi tidak seorang pun yg ~;

Kata Mama, secara makna …

“Jangan mengeluh dengan pekerjaan rumah. Kerjakan, selesaikan. Bersyukurlah kalau masih ada yang bisa dikerjakan.”

Kata Nabi Ya’qub,

“Sesungguhnya kuadukan segala duka dan sedihku hanya kepada Allah.”

Tiap orang pasti pernah merasa kecewa tentang pasangan, anak, pekerjaan, teman, dan lain-lain. Kita jadi berbeda bila kekecewaan atau kesedihan itu tak kita tumpahkan dalam kata-kata.

Dalam Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin mengatakan,

“Kata itu adalah milikmu, selama dia belum diungkapkan.”

*

Suara hati akan tetap jadi milik kita selama tak kita ucapkan atau tuliskan. Perasaan sedih, kecewa, dan marah … semuanya kita simpan di hati dan kita adukan cukup kepada Allah. Bila kita ungkapkan di hadapan manusia, mungkin kita akan mendapat cibiran, cercaan, atau kata-kata yang tidak kita harapkan.

Bila kita pandai menyimpan kesedihan dan kekecewaan, kita akan tampak selalu bahagia, selalu hidup enak. Kita berusaha tidak mengeluh, mengerjakan hal-hal terbaik dalam hidup kita, dan kita selalu habis-habisan mengeluh kepada Allah (bukan kepada manusia).

Bila kita mengeluh kepada manusia, kadang kita mendapat respon yang tidak pas. Namun bila kita adukan kita semua kepada Allah, ada saja jalan keluar; entah hati yang plong, solusi yang tiba-tiba terpikirkan, atau bala bantuan yang tak disangka-sangka.

Jadilah manusia yang bahagia; bila ingin bahagia, janganlah mengeluh di hadapan manusia, tapi mengadulah hanya kepada Allah.

Jogja, 21/5/2016

Athirah

Go!

Benar …

Jangan terlalu lembek sama diri sendiri,
Nanti manja.
Jangan terlalu keras sama diri sendiri,
Nanti patah.

Jaga keseimbangan.

Sejauh ini, bait-bait di atas mampu menyemangati saya untuk melakukan banyak hal. Tapi tetap bersikap permisif jika ada tujuan yang belum sempat tercapai, selama alasannya memang bisa dibenarkan, bukan demi mencari pembenaran.

Dalam hidup ini, kita perlu memecut diri. Jangan selalu andalkan orang lain atau lingkungan untuk melakukannya. Bertanggung jawablah terhadap diri sendiri!

Beberapa tahun silam, saya pernah cerita ke suami tentang seorang muslimah berusia 35-an yang ilmu agamanya diakui banyak orang. Seseorang berkomentar tentang beliau, “Ya, ‘kan belum punya anak.”

Apa kata suami saya tentang komentar itu? Lanjutkan membaca Go!

Putus Asa

Di lembar pertama Kitab Mulakhkhosh, saya pernah menuliskan,

“Hilangkanlah keputus-asaan
dengan berusaha ….”

Seingat saya, kalimat itu saya dengar dari Ustadz Aris Munandar hafizhahulloh di salah satu pengajian beliau. Kalimat yang sederhana namun sangat berbekas di hati. Jazahullohu khayran.

Bayan Lepas, 6 Desember 2013,
Athirah