Selama Enam Bulan

Mu’alla bin Fadl mengatakan,

“Dahulu, selama enam bulan sebelum datangnya bulan Ramadan, para sahabat berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka pada bulan Ramadan.”

http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1277/perpisahan-dengan-ramadan

Mengeluh

Kata KBBI, 

ke·luh n ungkapan yg keluar krn perasaan susah (krn menderita sesuatu yg berat, kesakitan, dsb);
— kesah segala ucapan yg terlahir krn kesusahan (kepedihan dsb);

ber·ke·luh v mengeluh;~ kesah melahirkan perasaan susah dng mengaduh, menarik napas, dsb;

me·nge·luh v menyatakan susah (krn penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dsb): meskipun tugas itu sangat berat, tetapi tidak seorang pun yg ~;

Kata Mama, secara makna …

“Jangan mengeluh dengan pekerjaan rumah. Kerjakan, selesaikan. Bersyukurlah kalau masih ada yang bisa dikerjakan.”

Kata Nabi Ya’qub,

“Sesungguhnya kuadukan segala duka dan sedihku hanya kepada Allah.”

Tiap orang pasti pernah merasa kecewa tentang pasangan, anak, pekerjaan, teman, dan lain-lain. Kita jadi berbeda bila kekecewaan atau kesedihan itu tak kita tumpahkan dalam kata-kata.

Dalam Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin mengatakan,

“Kata itu adalah milikmu, selama dia belum diungkapkan.”

*

Suara hati akan tetap jadi milik kita selama tak kita ucapkan atau tuliskan. Perasaan sedih, kecewa, dan marah … semuanya kita simpan di hati dan kita adukan cukup kepada Allah. Bila kita ungkapkan di hadapan manusia, mungkin kita akan mendapat cibiran, cercaan, atau kata-kata yang tidak kita harapkan.

Bila kita pandai menyimpan kesedihan dan kekecewaan, kita akan tampak selalu bahagia, selalu hidup enak. Kita berusaha tidak mengeluh, mengerjakan hal-hal terbaik dalam hidup kita, dan kita selalu habis-habisan mengeluh kepada Allah (bukan kepada manusia).

Bila kita mengeluh kepada manusia, kadang kita mendapat respon yang tidak pas. Namun bila kita adukan kita semua kepada Allah, ada saja jalan keluar; entah hati yang plong, solusi yang tiba-tiba terpikirkan, atau bala bantuan yang tak disangka-sangka.

Jadilah manusia yang bahagia; bila ingin bahagia, janganlah mengeluh di hadapan manusia, tapi mengadulah hanya kepada Allah.

Jogja, 21/5/2016

Athirah

bunga bersemi

Waktu

Sejak lama saya berpikir bagaimana caranya hidup yang teratur. Teratur dalam artian kita bisa melakukan banyak hal dengan tetap “bernapas normal”, nggak perlu pakai emosi, nggak perlu pakai stres.

Sampai suatu saat, sekitar tahun 2007 atau 2008, saya ikut dauroh Ustadz Aris Sugiantoro. Selepas kajian, beliau membagikan oleh-oleh sebuah buku terjemahan. Buku yang ringkas, tapi buku itulah yang – alhamdulillah – menuntun saya menemukan sebuah jalan keluar. Jalan keluar yang sangat berarti bagi hidup saya saat ini.

Judul buku terjemahan itu 10 Hak dalam Islam. Judul kitab aslinya Huquq Da’at ilaiha Al-Fithrah wa Qarrarat-ha Asy-Syari’ah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dalam perenungan, saya bolak-balik bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana caranya melakukan banyak hal? Bagaimana supaya hidup ini berarti dan waktu tidak terbuang sia-sia? Bagaimana caranya melakukan hal-hal yang memberi manfaat, bukan cuma sekadar menghabiskan waktu?”

Sebenarnya, buku itu tidak membahas tips mengelola waktu. Bukan juga tentang manajemen hidup. Tapi, fokus bahasan di buku itu membuat saya bisa berkata, “Ini jawaban yang selama ini saya cari!”

Lanjutkan membaca Waktu

Be Resourceful

Dalam menulis apa pun,
Dalam berbicara apa pun,
Apalagi untuk dibagi untuk khalayak umum,
Please, be resourceful!

Think twice and more …
And more.

Baca, edit.
Pertimbangkan, renungkan.
Sebelum menulis.
Sebelum bicara.

It’s so easy to say something nowadays.
It’s so easy to publish something today.

And it’s so easy to share something.

Sekarang kita klik “publish”,
Maka 10 menit lagi tulisan itu sudah bisa terbang hingga ke ujung Eropa sana.

Please, be resourceful!
Untuk setiap tulisan.
Untuk setiap ucapan.

***

Jogja, 8/9/2015
Athirah

Sisakan 30%

Bila menyusun agenda, sisakan 30% ruang kosong. Supaya bila tiba-tiba letih, dirimu bisa beristirahat, dan 70% ruang untuk kegiatan tetap terisi penuh sesuai rencana.

Jangan habiskan 100% semangatmu. Kalau kamu capek, langsung patah jadinya. Sedangkan bila kamu beristirahat, semuanya jadi berantakan karena tak terkelola.

Ibarat orang membuat rel kereta, dibuat sedikit longgar. Supaya bila panas matahari membuatnya memuai, kereta tetap bisa melaju aman di atasnya.

*
Jogja, 28 Rajab 1436 H (17/5/2015),
Athirah

 

 

Athirah

Takut Guntur

Kau tutup telinga

Karena takut dengan suara guntur

Tapi kau lupa

Bahwa guntur punya Rabb yang Mahaperkasa

 

Rabb yang mampu melakukan segala yang Dia mau, dan Dia selalu adil

Rabb yang mampu menghukum setiap orang yang berdosa

Rabb yang tahu kau sedang sembunyi di mana

Rabb yang tahu kau lebih pantas masuk surga atau neraka

**

Jogja, 22/3/2015

Athirah Mustadjab

Hujan Tiba-Tiba

Hujan tiba-tiba membasahi semua jemuran. Tengah malam, pas sedang tertidur pulas.

Sebelum tidur, tidak sempat meletakkannya ke tempat beratap.

Seperti itu, bila amalan tidak ikhlas.

Yang sudah dikerjakan susah payah, setengah kering, malah kembali basah.

Kuyup.

Sia-sia yang dikerjakan, ‘kan?

Harus mulai lagi dari nol.

Ya, itu pelajaran penting hari ini.

Dan, lebih baik itu terjadi malam ini. Menyadarkan banyaknya baju-baju setengah kering yang mungkin sudah basah terkena hujan.

Daripada penyesalan baru datang pada saat yang tidak tepat.

Pada hari kiamat.

 

**

Jogja, 15/3/2015

Athirah

Go!

Benar …

Jangan terlalu lembek sama diri sendiri,
Nanti manja.
Jangan terlalu keras sama diri sendiri,
Nanti patah.

Jaga keseimbangan.

Sejauh ini, bait-bait di atas mampu menyemangati saya untuk melakukan banyak hal. Tapi tetap bersikap permisif jika ada tujuan yang belum sempat tercapai, selama alasannya memang bisa dibenarkan, bukan demi mencari pembenaran.

Dalam hidup ini, kita perlu memecut diri. Jangan selalu andalkan orang lain atau lingkungan untuk melakukannya. Bertanggung jawablah terhadap diri sendiri!

Beberapa tahun silam, saya pernah cerita ke suami tentang seorang muslimah berusia 35-an yang ilmu agamanya diakui banyak orang. Seseorang berkomentar tentang beliau, “Ya, ‘kan belum punya anak.”

Apa kata suami saya tentang komentar itu? Lanjutkan membaca Go!

Berat pada Dua Hal

Tantangan paling berat dalam mendidik anak itu …
Bukan terletak pada susahnya menyusun kurikulum
Bukan pula tentang mengatur jadwal kegiatan
Bukan juga dalam mencari variasi metode belajar

Yang terberat ada pada dua hal:
1. Niat yang benar (ikhlas)
2. Istiqamah (sedikit-sedikit tapi berterusan)

Itu!
Itu!

Sering-sering introspeksi diri tentang dua hal itu. Banyak-banyak berdoa kepada Allah untuk dua hal itu.

Beneran.


Bayan Lepas, 13 Ramadhan 1435 H (12 Juli 1987)
Athirah