Arsip Tag: surga

Bagi Istri … Apalagi Istri

masuklah dari pintu surga mana pun yang engkau mau

Bagi istri …
Yang disediakan kediaman aman dan serba nyaman
Meski sebuah rumah kontrakan super sederhana

Bagi istri …
Yang disuapkan makanan yang mengenyangkan
Meski sepiring nasi dan sebutir telor ceplok

Bagi istri …
Yang dibelikan pulsa handphone setiap minggu
Meski cuma untuk paket sms dan telepon

Apalagi istri …
Yang disiapkan kediaman aman dan super nyaman
Yang disuapkan makanan penuh nutrisi beserta susu pelengkap gizi
Yang difasilitasi handphone smartphone lengkap dengan paket internet

Ingat baik-baik keringat suamimu yang menetes hingga merembes
Juga kakinya yang pegal dan letih bekerja
Juga dahinya yang berkerut karena pening

Jaga baik-baik amanah suamimu
Jaga hartanya
Jaga kehormatannya
Jaga anak-anaknya

Manfaatkan semua kebaikannya untuk ketakwaanmu kepada Allah

Kediaman sebagai tempat belajar dan beribadah
Tempat mendidik dan membesarkan anak dengan penuh cinta
Tempat engkau menamatkan hafalan Alquran
Tempat engkau membuka beratus lembar buku
Tempat engkau mendengar ribuan gigabyte rekaman kajian agama

Makanan sebagai sumber tenagamu untuk belajar dan beramal

Segala fasilitas teknologi untuk kebaikan dan ketakwaan

Andai engkau jaga shalat fardhumu,
Engkau kerjakan puasa Ramadhanmu,
Engkau jaga kemaluanmu,
Engkau taat kepada suamimu,

Apa balasannya?

Masuklah dari pintu surga mana pun yang engkau mau
Ya, dari pintu surga mana pun
Yang engkau mau

Bayan Lepas, 12 Februari 2014,
Athirah

Iklan

Konsep Surga dan Neraka

Seorang kawan saya yang mualaf pernah menuturkan bahwa salah satu sebab beliau mengucap dua kalimat syahadat adalah konsep “surga dan neraka” dalam Islam.

Dahulu, beliau hidup di tengah kehidupan agamis yang kental. Kawan saya ini (sebut saja namanya “L”) adalah salah satu anak kesayangan sang Ayah. Setiap akan berangkat berkhotbah, sang Ayah akan berkhotbah terlebih dahulu di hadapan si L, “Bagaimana menurutmu khotbah Bapak?”
Lanjutkan membaca Konsep Surga dan Neraka

Bertindak sambil Berpikir

Melulu berpikir tanpa bertindak, itu keliru
Karena genting yang bocor harus segera ditutup
Sebelum gemericik air hujan berkumpul menggenangi lantai rumah.

Bertindak tanpa pikir panjang, juga keliru
Tambal sementara genting yang bocor dengan benda padat
Jangan gunakan daun untuk menggantinya.

Hanya bertindak lalu tak berpikir untuk selanjutnya, juga keliru
Karena tambalan sementara di genting itu tak bisa menahan hujan sekali lagi
Pikirkanlah cara menutup permanen lubang itu.

Ingin langsung besar tanpa berangsur tumbuh dari kecil,
Bagai si pemalas yang hanya berangan-angan akan turunnya mukjizat dari langit

Mengapa tak coba meniti dalam ketekunan?
Bukankah bagaimana pun waktu akan bergulir?
Daripada termangu menanti harapan besar yang tak kunjung digapai,
Mengapa tak bangkit dari pembaringan dan lakukan sebuah usaha permulaan?

Lakukan sedikit … demi sedikit …
Itu jauh lebih baik dibandingkan menyusun puluhan lembar rencana tanpa eksekusi
Alih-alih memetik hasil,
Waktu habis tiada lagi terbeli.

Mari berpikir lalu bertindak-sambil-berpikir-selanjutnya!
Siklus bagus, kenapa ragu?

Toh, tangan dan kaki bisa bekerja tanpa terusik oleh akal yang berusaha.
Bukankah demikian?

Bandar Universiti, 29 November 2011,
Athirah

Awas Mogok!

Pernah lihat mobil/motor mogok? Bagaimana supaya nyala lagi? Di-starter ulang ‘kan? Kalau masih tetap mogok, apa yang akan kita lakukan?

Belajar ilmu agama bisa diibaratkan seperti itu.

Sebelum menikah: rajin ikut pengajian, rajin baca buku, rajin baca Alquran, rajin menghafal Alquran.

Setelah menikah: agak mandek datang pengajian (nunggu suami nganter), agak mandek baca buku (sibuk masak dan ngurus rumah), agak mandek baca Alquran (udah terlalu capek, matanya udah redup), agak mandek menghafal Alquran (udah enggak ada energi buat otak).

Setelah punya anak: makin mandek lagi.

Horor!!! *ini pengalaman pribadi*

Sebelum mobil/motor kita mogok, cepat-cepat ambil tindakan agar mesinnya tetap hidup, supaya dia tetap melaju mengantar kita ke Surga Firdaus.

Kecepatan 120 km/jam dengan gigi-4 mungkin bukan “kelas” kita lagi. Yang penting, tetap ada laju meski hanya di kisaran 40 km/jam dengan gigi-1. Lambat kayak kura-kura ya? Enggak apa-apa. Namanya juga usaha ….

Jika niat kita benar-benar ikhlas –dan Allah Maha Mengetahui hamba-Nya yang ikhlas– siapa tahu saja Allah berkenan memendekkan jarak itu untuk kita. Kalau pun ternyata jaraknya tetap sama, mungkin saja Allah berkenan menguatkan tekad dan kemampuan kita untuk menempuh sisa perjalanan.

Ibu-ibu dan para muslimah sejagad maya dan sejagad nyata, mari kita saling menyemangati (di atas jalan kebajikan dan ketakwaan)! Semangat!

Bandar Universiti, 28 Oktober 2011,
Athirah