Arsip Tag: semangat

Putus Asa

Di lembar pertama Kitab Mulakhkhosh, saya pernah menuliskan,

“Hilangkanlah keputus-asaan
dengan berusaha ….”

Seingat saya, kalimat itu saya dengar dari Ustadz Aris Munandar hafizhahulloh di salah satu pengajian beliau. Kalimat yang sederhana namun sangat berbekas di hati. Jazahullohu khayran.

Bayan Lepas, 6 Desember 2013,
Athirah

Awas Mogok!

Pernah lihat mobil/motor mogok? Bagaimana supaya nyala lagi? Di-starter ulang ‘kan? Kalau masih tetap mogok, apa yang akan kita lakukan?

Belajar ilmu agama bisa diibaratkan seperti itu.

Sebelum menikah: rajin ikut pengajian, rajin baca buku, rajin baca Alquran, rajin menghafal Alquran.

Setelah menikah: agak mandek datang pengajian (nunggu suami nganter), agak mandek baca buku (sibuk masak dan ngurus rumah), agak mandek baca Alquran (udah terlalu capek, matanya udah redup), agak mandek menghafal Alquran (udah enggak ada energi buat otak).

Setelah punya anak: makin mandek lagi.

Horor!!! *ini pengalaman pribadi*

Sebelum mobil/motor kita mogok, cepat-cepat ambil tindakan agar mesinnya tetap hidup, supaya dia tetap melaju mengantar kita ke Surga Firdaus.

Kecepatan 120 km/jam dengan gigi-4 mungkin bukan “kelas” kita lagi. Yang penting, tetap ada laju meski hanya di kisaran 40 km/jam dengan gigi-1. Lambat kayak kura-kura ya? Enggak apa-apa. Namanya juga usaha ….

Jika niat kita benar-benar ikhlas –dan Allah Maha Mengetahui hamba-Nya yang ikhlas– siapa tahu saja Allah berkenan memendekkan jarak itu untuk kita. Kalau pun ternyata jaraknya tetap sama, mungkin saja Allah berkenan menguatkan tekad dan kemampuan kita untuk menempuh sisa perjalanan.

Ibu-ibu dan para muslimah sejagad maya dan sejagad nyata, mari kita saling menyemangati (di atas jalan kebajikan dan ketakwaan)! Semangat!

Bandar Universiti, 28 Oktober 2011,
Athirah

Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Cukup lama selang waktu saat aku tak lagi berjumpa dengan Ustadz dan Ustadzah. Aku sibuk dengan sekolah dan kegiatan lain. Saat usiaku menginjak 10 tahun, timbul perasaan bahwa aku sudah dewasa dan tak cocok lagi ikut berkegiatan di TPA, padahal itu opini yang keliru ya ….

Hingga akhirnya usiaku menginjak 16 tahun.

Kulihat salah seorang temanku sibuk komat-kamit sambil membuka-tutup sebuah buku kecil. Saat jam istirahat, kuhampiri dia. Penasaran sekali aku dibuatnya, maka kutanyakan saja apa sih yang sedang dia lakukan.

Dia jelaskan padaku bahwa dia sedang menghafal hadis arba’in. Sore itu dia akan menjalani ujian di tempat ta’allumnya. Pungkasnya, “Menuntut ilmu agama itu wajib.”

Menuntut ilmu agama itu wajib. Menuntut ilmu agama itu wajib,” terngiang bergaungan di benakku. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Aku tak memandang ustadzah-ustadzahku aneh karena jilbab mereka begitu besar. Seakan payung yang siap mengembang dan cocok untuk jadi tempat persembunyian kami saat bermain petak umpet. Yang kutahu, Ustadzah adalah orang yang pandai, lembut, dan murah senyum. Dengan anak-anak kampung pun Ustadzah sungguh bermurah hati. Ustadzah tak membedakan adakah kami anak PNS, anak pedagang, atau anak tukang becak.

Orang-tuaku pun tahu bahwa di balik jilbab Ustadzah yang lebar dan gelap, mereka adalah orang berpendidikan dan datang dari keluarga terhormat. Mama dan Bapak tak khawatir membiarkan kami menengok rumah Ustadz yang penuh dengan perabot kayu. Ustadz kami adalah seorang perajin sekaligus pedangan mebel plus seorang mahasiswa. Senangnya … kami boleh main ke rumah beliau. Mereka sungguh baik membiarkan kami menjelajah lantai per lantai. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Barokah Zaman

Judul di atas merupakan sebuah frasa menarik yang saya baca dari tulisan Mba Rini di blog beliau.

Pas sekali! Kehidupan saya pekan ini banyak diwarnai tema “barokah zaman”.

Internet itu terkadang melalaikan

Kalau sudah terlihat betah di depan komputer dan menjelajahi berbagai situs dan blog, Abu Asiyah suka menyindir saya, “Internet itu terkadang melalaikan.”

Namanya juga manusia yang suka mencari pembenaran [1], biasanya saya akan menyanggah dengan beralasan bahwa internetan itu ‘kan juga dalam rangka belajar dan menambah ilmu. Akan tetapi, setelah merenung kembali, ucapan beliau itu ada benarnya juga.

Ini dia yang kucari!

Rasanya ada sesuatu yang mesti saya temukan. Meski begitu, saya sendiri tidak tahu apa gerangan “sesuatu” itu.

Sampai akhirnya, ketika membetulkan letak buku-buku di ruang tamu, saya temukan fotokopi-kitab bersampul hijau yang berjudul Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram. Saking sudah lamanya tidak mengamati isinya lekat-lekat, saya sampai lupa bahwa fotokopian itu berisikan matan kitab Al-Ilmam fi Ushulil Ahkam, sebuah muqaddimah yang sengaja ditulis oleh Syekh Al-Bassam sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca kitab Taudhihul Ahkam, karya beliau. Lanjutkan membaca Barokah Zaman