Arsip Tag: prinsip hidup

Konsep Surga dan Neraka

Seorang kawan saya yang mualaf pernah menuturkan bahwa salah satu sebab beliau mengucap dua kalimat syahadat adalah konsep “surga dan neraka” dalam Islam.

Dahulu, beliau hidup di tengah kehidupan agamis yang kental. Kawan saya ini (sebut saja namanya “L”) adalah salah satu anak kesayangan sang Ayah. Setiap akan berangkat berkhotbah, sang Ayah akan berkhotbah terlebih dahulu di hadapan si L, “Bagaimana menurutmu khotbah Bapak?”
Lanjutkan membaca Konsep Surga dan Neraka

Iklan

Dahulukan Makanan Pokok

Sebagai mantan pengguna facebook, saya tidak memungkiri beberapa manfaat ber-FB. Salah satu manfaat yang sangat terasa adalah bisa mendapat banyak faedah ilmu diniyyah dari banyak teman dalam waktu yang cepat. Bayangkan, dalam sehari hampir setiap orang membagi status, catatan, dan tautan yang sarat faedah ilmiah. Ragamnya pun rupa-rupa: akidah, fikih, hadits, tazkiyatun nufus, fatwa ulama, tarbiyatul abna’, hingga rumah tangga.

Sedikit berbagi kenangan masa lalu, ada sebuah pertimbangan yang sangat menguatkan saya untuk berhenti FB-an. Sebatas opini pribadi saya yang boleh jadi Anda terima, Anda debat, bahkan Anda tolak mentah-mentah.

Jadi, begini ceritanya …
Lanjutkan membaca Dahulukan Makanan Pokok

Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Cukup lama selang waktu saat aku tak lagi berjumpa dengan Ustadz dan Ustadzah. Aku sibuk dengan sekolah dan kegiatan lain. Saat usiaku menginjak 10 tahun, timbul perasaan bahwa aku sudah dewasa dan tak cocok lagi ikut berkegiatan di TPA, padahal itu opini yang keliru ya ….

Hingga akhirnya usiaku menginjak 16 tahun.

Kulihat salah seorang temanku sibuk komat-kamit sambil membuka-tutup sebuah buku kecil. Saat jam istirahat, kuhampiri dia. Penasaran sekali aku dibuatnya, maka kutanyakan saja apa sih yang sedang dia lakukan.

Dia jelaskan padaku bahwa dia sedang menghafal hadis arba’in. Sore itu dia akan menjalani ujian di tempat ta’allumnya. Pungkasnya, “Menuntut ilmu agama itu wajib.”

Menuntut ilmu agama itu wajib. Menuntut ilmu agama itu wajib,” terngiang bergaungan di benakku. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Aku tak memandang ustadzah-ustadzahku aneh karena jilbab mereka begitu besar. Seakan payung yang siap mengembang dan cocok untuk jadi tempat persembunyian kami saat bermain petak umpet. Yang kutahu, Ustadzah adalah orang yang pandai, lembut, dan murah senyum. Dengan anak-anak kampung pun Ustadzah sungguh bermurah hati. Ustadzah tak membedakan adakah kami anak PNS, anak pedagang, atau anak tukang becak.

Orang-tuaku pun tahu bahwa di balik jilbab Ustadzah yang lebar dan gelap, mereka adalah orang berpendidikan dan datang dari keluarga terhormat. Mama dan Bapak tak khawatir membiarkan kami menengok rumah Ustadz yang penuh dengan perabot kayu. Ustadz kami adalah seorang perajin sekaligus pedangan mebel plus seorang mahasiswa. Senangnya … kami boleh main ke rumah beliau. Mereka sungguh baik membiarkan kami menjelajah lantai per lantai. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Serial Cadar (Bagian 1): Pengantar di Awal

Kisah berseri ini hanya sekadar kisah ringan. Bukan sebuah penjabaran panjang-lebar tentang bahasan ilmiah seputar cadar. Ulasan yang berisi dalil-dalil sahih yang membuktikan bahwa cadar adalah bagian dari syariat Islam –bukan sebatas budaya Arab– bisa kita simak lewat buku, majalah, maupun internet. Beberapa di antaranya bisa diakses melalui hasil pencarian menggunakan Mesin Pencari Ilmu Islam “Yufid”.

Yang akan berkisah kepada Anda adalah seorang muslimah, yang lahir dan dibesarkan bukan dalam lingkungan orang-orang bercadar, yang kemudian pernah hidup di lingkungan muslimah bercadar selama kurang lebih 5 tahun, lalu kini beralih menjalani hari-hari dalam lingkungan heterogen di negeri rantau.

Kisah ini merupakan pengalaman pribadinya, yang dihimpun dari keseharian yang telah dia jalani. Ada cerita lucu, ada inspirasi, ada kisah yang menggelikan, ada juga pelajaran hidup yang layak dipetik.

Tanpa bermaksud menggurui, tanpa berniat menyucikan diri, mudah-mudahan ini semua bisa bermanfaat untuk penulisnya maupun para pembacanya. Amin….

Bersambung, insya Allah….

Bandar Universiti, 6 Oktober 2011,
Athirah

Umar dan Karya Mesir Kuno

Dalam tulisan berjudul “Ayat Injil:Indah pada Waktunya” di blog ini, ada tanggapan yang cukup kritis sekaligus menarik dari salah seorang pembaca. Meskipun saya tidak bisa menjawab beragam tanda tanya, saya cukup setuju dengan pendapat tersirat beliau bahwa seorang muslim tidak boleh bermudah-mudah dalam menjustifikasi halal-haramnya sesuatu. Tulisan berjudul “Ayat Injil:Indah pada Waktunya” bukan sebuah justifikasi, tentunya.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat saya terus kepikiran: Bolehkah kita mengutip ayat injil karena sekadar senang dengan keindahan kalimatnya?

Duhai diri saya yang jahil, saya tak mampu menjawab tanya ini ….

Walhasil, saya pun bertanya kepada pihak yang–insya Allah–bisa melenyapkan kebuntuan tersebut.


فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

(Qs. An-Nahl:43)

Melalui halaman “Tanya Ustadz” di www.ustadzaris.com, saya menanyakan kebimbangan saya kepada Ustadz Aris Munandar, M.A. hafizhahullah (semoga Allah menjaga beliau).

Berikut ini saya salinkan tanya-jawab tersebut. Semoga bermanfaat.
Lanjutkan membaca Umar dan Karya Mesir Kuno

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Al-Ustadz Abu Mushlih hafizhahullah

Menjadi perkara yang telah dipahami oleh setiap orang bahwa kesuksesan selalu diiringi dengan kesungguh-sungguhan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita dan harapan. Keberhasilan bukanlah warisan yang bisa diperoleh dengan mudah ataupun barang murah yang bisa didapatkan di mana saja. Akan tetapi sunnatullah menuntut bahwa keberhasilan akan diberikan kepada para pejuang dan sosok yang mau untuk berkorban.

Ini bukan sekedar logika, akan tetapi inilah yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, tatkala Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan [menuju keridhaan] Kami. Dan sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. al-Ankabut: 69)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah mengaitkan antara hidayah dengan jihad/kesungguhan. Ini artinya, orang yang paling besar mendapat hidayah adalah yang paling besar kesungguhannya. Sedangkan jihad yang paling wajib adalah jihad menundukkan jiwa dan berjuang mengendalikan hawa nafsu, berjihad melawan syaitan, dan berjihad melawan [ambisi] dunia. Maka barangsiapa yang berjihad melawan keempat hal ini akan Allah tunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad itu maka dia akan kehilangan sebagian petunjuk sekadar dengan jihad/perjuangan yang dia abaikan.” (adh-Dhau’ al-Munir [4/518])

Demikianlah saudaraku, hal itu menunjukkan betapa besar buah dari jihad itu. Di mana pun, orang-orang yang memiliki keunggulan dalam hal ini adalah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai rujukan di tengah perselisihan, bukan sembarang orang. al-Auza’i dan Ibnul Mubarak berkata, “Apabila orang-orang berselisih tentang sesuatu maka perhatikanlah kepada apa yang dipegang oleh Ahluts Tsughur.” Yang dimaksud adalah ahlul jihad (lihat adh-Dhau’ al-Munir [4/518])

Memang, berbicara lebih mudah daripada melakukan sebuah tindakan. Oleh sebab itulah di samping kekuatan ilmu dan ma’rifah, manusia juga diberikan kekuatan tekad dan harapan. Kesuksesan tidak akan diraih hanya dengan omongan, namun ia juga membutuhkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan. Siapa pun yang menginginkan ilmu maka dia tertuntut untuk mengerahkan kesungguhan, demikian juga orang yang mendambakan kekayaan dan kesejahteraan. Mereka rela untuk pergi pagi pulang petang, memeras keringat, membanting tulang, demi menggapai apa yang mereka kira sebagai sebuah masa depan dan ketentraman yang diimpikan.

Yang jelas, bagi seorang mukmin menyia-nyiakan waktu yang singkat dan amat berharga ini untuk perkara-perkara rendah, semu dan sementara adalah sebuah kehinaan dan kerugian. Oleh sebab itu, sebagaimana kata pepatah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Inilah motivasi sekaligus, penghibur hati, sekaligus cambuk bagi orang-orang yang dirundung kesedihan akibat beratnya jalan yang mereka tempuh dan sedikitnya teman yang meringankan beban mereka. Tidak perlu risau dan khawatir, Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah hamba-hamba-Nya yang berbuat baik…

Saudaraku, kekecewaan akan bisa berubah menjadi kebahagiaan, tatkala kita menyadari bahwa sesungguhnya banyak sekali musibah dan tekanan yang kita alami sebenarnya bersumber dari kelalaian dan kelengahan diri kita sendiri. Oleh sebab itu Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Orang yang paling bijak adalah yang menjadikan keluhannya tertuju kepada Allah dari [hal-hal] yang ada pada dirinya sendiri, bukan dari diri orang lain.” (lihat al-Fawa’id)

(http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/)

Ayat Injil:Indah pada Waktunya

Dalam sebuah artikel di blog ini, mungkin Anda pernah menjumpai judul “Dan Semua ‘kan Indah pada Waktunya“. Atas nasihat dari seorang ikhwah, bahwa kalimat tersebut berasal dari Injil, saya segera mengganti judul tersebut dengan “Bersabarlah, Kemenangan Itu Pasti ‘kan Tiba“.

Ungkapan “indah pada waktunya” banyak tersebar di dunia maya. Awalnya, saya mengira ungkapan tersebut hanya sekadar ucapan puitis, yang bukan berasal dari Alquran maupun Injil.

Akan tetapi, ada berbagai cara bagi Allah untuk mengaruniakan ilmu kepada hamba-Nya yang jahil. Setelah mendapat nasihat tersebut, saya pun googling dengan kata kunci “indah pada waktunya, injil“. Dari beberapa daftar yang ditampilkan oleh Google, ada satu referensi singkat tentang ungkapan tersebut,

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkotbah 3:11)

Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan “indah pada waktunya. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak. Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alquran Al-Karim. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segala puji hanya bagi Allah, yang memberi pengajaran kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mudah-mudahan, ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin ….

Bandar Universiti, 3 Juli 2011,
Athirah