Arsip Tag: pendidikan

Menyatukan Dua Hati

“Pahala … pahala …,” celoteh Asiyah.

Alhamdulillah, lumayan ada peningkatan. Sekarang kalau ditanya, “Asiyah mau dapat pahala, nggak?” Asiyah menjawab, “Asiyah nak (mau) pahala banyak-banyak. Asiyah nak (mau) permen banyak-banyak.”

Pengen pahala, tapi tetap pengen permen. Yah, namanya juga anak-anak. Lanjutkan membaca Menyatukan Dua Hati

Cerita Seorang Anak TPA

Suatu hari, orang tua saya berkata bahwa saya dan adik saya akan berpindah tempat belajar mengaji. Biasanya, kami belajar mengaji di masjid dekat rumah. Pada umumnya, anak-anak seusia kami juga belajar mengaji di sana, dengan metode yang lazim dipakai saat itu, yaitu mengenal huruf hijaiyyah lalu belajar membaca juz’ amma.

Bapak dan Mama mendapat kabar bahwa ada seorang guru mengaji di sekitar rumah kami. Kata orang-orang, cara mengajarnya bagus. Bapak dan Mama pun tertarik untuk mengantarkan saya dan Adik ke sana. Lanjutkan membaca Cerita Seorang Anak TPA

Yang Sangat Ditekankan di Masa Kini

ولاشكّ أن طلب العلم من أفضل الأعمال، بل قد قال الإمام أحمد رحمه الله -:العلم لايعدله شيء لمن صحت نيته لاسيما في هذا الزمن الذي كثر فيه الجهل، وكثر فيه الظن وأفتى من لايستحق أن يفتي، فطلب العلم في هذا الزمان متأكد.

Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu (syar’i) merupakan salah satu amal yang paling utama.
Bahkan, Imam Ahmad rahimahullah menuturkan, “(Keutamaan) menuntut ilmu itu tidak dapat tertandingi oleh segala sesuatu, bagi orang yang niatnya lurus.” Terlebih lagi, di masa kini, saat kebodohan telah menggurita, keraguan tumbuh berjamuran, orang yang tidak layak berfatwa pun telah berani memberi fatwa. Karena itulah, menuntut ilmu agama merupakan hal yang sangat ditekankan di masa kini.”

(Kutub wa Rasa’il lil ‘Utsaimin, bab 24, juz 30, hlm. 12, Maktabah Asy-Syamilah)

Bandar Universiti, 12 Juni 2011,
Athirah

Banyak Baca (vs) Banyak Nonton

Kalau tidak nonton TV sehari saja sudah kelihatan uring-uringan. Tontonan yang dipantengin pun cuma itu-itu saja: film kartun, acara anak, bahkan mungkin sinetron. Itu, anak kecil zaman sekarang.

Di zaman ibu-bapak kita masih bermain lompat tali, petak umpet, dan masak-masakan, TV belum jadi barang “wajib” di dalam rumah. Waktu kanak-kanak habis untuk menyalurkan energi melalui kegiatan bermain dengan aktivitas fisik atau permainan yang mengasah kecerdasan: membuat perahu dari kulit jeruk, membuah perabot rumah tangga mainan dari kertas, dan lain-lain.

Sebenarnya, sudah banyak orang yang hati kecilnya jujur menginginkan TAK USAH ADA TV DI RUMAH. Jadi, tidak perlu ragu untuk segera menyingkirkan TV dari rumah kita.

Nanti dapat info dan hiburan dari mana?

Lanjutkan membaca Banyak Baca (vs) Banyak Nonton