Arsip Tag: motivasi

Waktu

Sejak lama saya berpikir bagaimana caranya hidup yang teratur. Teratur dalam artian kita bisa melakukan banyak hal dengan tetap “bernapas normal”, nggak perlu pakai emosi, nggak perlu pakai stres.

Sampai suatu saat, sekitar tahun 2007 atau 2008, saya ikut dauroh Ustadz Aris Sugiantoro. Selepas kajian, beliau membagikan oleh-oleh sebuah buku terjemahan. Buku yang ringkas, tapi buku itulah yang – alhamdulillah – menuntun saya menemukan sebuah jalan keluar. Jalan keluar yang sangat berarti bagi hidup saya saat ini.

Judul buku terjemahan itu 10 Hak dalam Islam. Judul kitab aslinya Huquq Da’at ilaiha Al-Fithrah wa Qarrarat-ha Asy-Syari’ah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dalam perenungan, saya bolak-balik bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana caranya melakukan banyak hal? Bagaimana supaya hidup ini berarti dan waktu tidak terbuang sia-sia? Bagaimana caranya melakukan hal-hal yang memberi manfaat, bukan cuma sekadar menghabiskan waktu?”

Sebenarnya, buku itu tidak membahas tips mengelola waktu. Bukan juga tentang manajemen hidup. Tapi, fokus bahasan di buku itu membuat saya bisa berkata, “Ini jawaban yang selama ini saya cari!”

Lanjutkan membaca Waktu

Iklan

Go!

Benar …

Jangan terlalu lembek sama diri sendiri,
Nanti manja.
Jangan terlalu keras sama diri sendiri,
Nanti patah.

Jaga keseimbangan.

Sejauh ini, bait-bait di atas mampu menyemangati saya untuk melakukan banyak hal. Tapi tetap bersikap permisif jika ada tujuan yang belum sempat tercapai, selama alasannya memang bisa dibenarkan, bukan demi mencari pembenaran.

Dalam hidup ini, kita perlu memecut diri. Jangan selalu andalkan orang lain atau lingkungan untuk melakukannya. Bertanggung jawablah terhadap diri sendiri!

Beberapa tahun silam, saya pernah cerita ke suami tentang seorang muslimah berusia 35-an yang ilmu agamanya diakui banyak orang. Seseorang berkomentar tentang beliau, “Ya, ‘kan belum punya anak.”

Apa kata suami saya tentang komentar itu? Lanjutkan membaca Go!

Putus Asa

Di lembar pertama Kitab Mulakhkhosh, saya pernah menuliskan,

“Hilangkanlah keputus-asaan
dengan berusaha ….”

Seingat saya, kalimat itu saya dengar dari Ustadz Aris Munandar hafizhahulloh di salah satu pengajian beliau. Kalimat yang sederhana namun sangat berbekas di hati. Jazahullohu khayran.

Bayan Lepas, 6 Desember 2013,
Athirah

Bertindak sambil Berpikir

Melulu berpikir tanpa bertindak, itu keliru
Karena genting yang bocor harus segera ditutup
Sebelum gemericik air hujan berkumpul menggenangi lantai rumah.

Bertindak tanpa pikir panjang, juga keliru
Tambal sementara genting yang bocor dengan benda padat
Jangan gunakan daun untuk menggantinya.

Hanya bertindak lalu tak berpikir untuk selanjutnya, juga keliru
Karena tambalan sementara di genting itu tak bisa menahan hujan sekali lagi
Pikirkanlah cara menutup permanen lubang itu.

Ingin langsung besar tanpa berangsur tumbuh dari kecil,
Bagai si pemalas yang hanya berangan-angan akan turunnya mukjizat dari langit

Mengapa tak coba meniti dalam ketekunan?
Bukankah bagaimana pun waktu akan bergulir?
Daripada termangu menanti harapan besar yang tak kunjung digapai,
Mengapa tak bangkit dari pembaringan dan lakukan sebuah usaha permulaan?

Lakukan sedikit … demi sedikit …
Itu jauh lebih baik dibandingkan menyusun puluhan lembar rencana tanpa eksekusi
Alih-alih memetik hasil,
Waktu habis tiada lagi terbeli.

Mari berpikir lalu bertindak-sambil-berpikir-selanjutnya!
Siklus bagus, kenapa ragu?

Toh, tangan dan kaki bisa bekerja tanpa terusik oleh akal yang berusaha.
Bukankah demikian?

Bandar Universiti, 29 November 2011,
Athirah