Arsip Tag: alquran

Aroma Buku

 

 

Android di ujung jemariku,

iOs di sentuhan tanganmu

 

e-Book di piranti laptopku

HTML di gudang datamu

 

Alquran digital di depan mataku

.mp3 murottal di gendang telingamu

 

Zaman menyuguhkan teknologi

Teknologi memudahkan kita

 

Tapi …

 

Bagiku,

Ada yang hilang

Bila sesuatu hanya yang “soft”,

Bukan yang “hard”

 

Alquran digital

Sangat berbeda aromanya dengan

Mushaf Alquran

 

Membuka sebuah e-book

Sungguh berbeda cita rasanya dengan

Menyentuh lembaran buku

 

Meski sama-sama punya manfaat

 

Tapi bagiku …

Ada aroma

Ada rasa

Ada sesuatu

 

Yang tak bisa tergantikan oleh

Lembar-lembar kertas

 

Mushaf Alquran dan cetakan buku

 

 

 

Bayan Lepas, 23 November 2013,

Athirah

 

Si Pendiam yang Murah Senyum

Pendiam, tidak banyak bicara, tidak pernah melukai hati saudara-saudaranya dengan kata-kata atau perbuatan dan senyum selalu menghiasi wajahmu, itulah bahasa yang dikenal oleh teman-temanmu, bahasa senyuman, demi Allah ! itulah wajah yang aku kenal dari dirimu, selalu memulai menyapa sebelum disapa, tetapi diam-mu selalu menyertai sikapmu, umurmupun masih sangat belia 17 tahun, wahai saudaraku ! Lanjutkan membaca Si Pendiam yang Murah Senyum

Awas Mogok!

Pernah lihat mobil/motor mogok? Bagaimana supaya nyala lagi? Di-starter ulang ‘kan? Kalau masih tetap mogok, apa yang akan kita lakukan?

Belajar ilmu agama bisa diibaratkan seperti itu.

Sebelum menikah: rajin ikut pengajian, rajin baca buku, rajin baca Alquran, rajin menghafal Alquran.

Setelah menikah: agak mandek datang pengajian (nunggu suami nganter), agak mandek baca buku (sibuk masak dan ngurus rumah), agak mandek baca Alquran (udah terlalu capek, matanya udah redup), agak mandek menghafal Alquran (udah enggak ada energi buat otak).

Setelah punya anak: makin mandek lagi.

Horor!!! *ini pengalaman pribadi*

Sebelum mobil/motor kita mogok, cepat-cepat ambil tindakan agar mesinnya tetap hidup, supaya dia tetap melaju mengantar kita ke Surga Firdaus.

Kecepatan 120 km/jam dengan gigi-4 mungkin bukan “kelas” kita lagi. Yang penting, tetap ada laju meski hanya di kisaran 40 km/jam dengan gigi-1. Lambat kayak kura-kura ya? Enggak apa-apa. Namanya juga usaha ….

Jika niat kita benar-benar ikhlas –dan Allah Maha Mengetahui hamba-Nya yang ikhlas– siapa tahu saja Allah berkenan memendekkan jarak itu untuk kita. Kalau pun ternyata jaraknya tetap sama, mungkin saja Allah berkenan menguatkan tekad dan kemampuan kita untuk menempuh sisa perjalanan.

Ibu-ibu dan para muslimah sejagad maya dan sejagad nyata, mari kita saling menyemangati (di atas jalan kebajikan dan ketakwaan)! Semangat!

Bandar Universiti, 28 Oktober 2011,
Athirah

Barokah Zaman

Judul di atas merupakan sebuah frasa menarik yang saya baca dari tulisan Mba Rini di blog beliau.

Pas sekali! Kehidupan saya pekan ini banyak diwarnai tema “barokah zaman”.

Internet itu terkadang melalaikan

Kalau sudah terlihat betah di depan komputer dan menjelajahi berbagai situs dan blog, Abu Asiyah suka menyindir saya, “Internet itu terkadang melalaikan.”

Namanya juga manusia yang suka mencari pembenaran [1], biasanya saya akan menyanggah dengan beralasan bahwa internetan itu ‘kan juga dalam rangka belajar dan menambah ilmu. Akan tetapi, setelah merenung kembali, ucapan beliau itu ada benarnya juga.

Ini dia yang kucari!

Rasanya ada sesuatu yang mesti saya temukan. Meski begitu, saya sendiri tidak tahu apa gerangan “sesuatu” itu.

Sampai akhirnya, ketika membetulkan letak buku-buku di ruang tamu, saya temukan fotokopi-kitab bersampul hijau yang berjudul Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram. Saking sudah lamanya tidak mengamati isinya lekat-lekat, saya sampai lupa bahwa fotokopian itu berisikan matan kitab Al-Ilmam fi Ushulil Ahkam, sebuah muqaddimah yang sengaja ditulis oleh Syekh Al-Bassam sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca kitab Taudhihul Ahkam, karya beliau. Lanjutkan membaca Barokah Zaman

Umar dan Karya Mesir Kuno

Dalam tulisan berjudul “Ayat Injil:Indah pada Waktunya” di blog ini, ada tanggapan yang cukup kritis sekaligus menarik dari salah seorang pembaca. Meskipun saya tidak bisa menjawab beragam tanda tanya, saya cukup setuju dengan pendapat tersirat beliau bahwa seorang muslim tidak boleh bermudah-mudah dalam menjustifikasi halal-haramnya sesuatu. Tulisan berjudul “Ayat Injil:Indah pada Waktunya” bukan sebuah justifikasi, tentunya.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat saya terus kepikiran: Bolehkah kita mengutip ayat injil karena sekadar senang dengan keindahan kalimatnya?

Duhai diri saya yang jahil, saya tak mampu menjawab tanya ini ….

Walhasil, saya pun bertanya kepada pihak yang–insya Allah–bisa melenyapkan kebuntuan tersebut.


فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

(Qs. An-Nahl:43)

Melalui halaman “Tanya Ustadz” di www.ustadzaris.com, saya menanyakan kebimbangan saya kepada Ustadz Aris Munandar, M.A. hafizhahullah (semoga Allah menjaga beliau).

Berikut ini saya salinkan tanya-jawab tersebut. Semoga bermanfaat.
Lanjutkan membaca Umar dan Karya Mesir Kuno

Ayat Injil:Indah pada Waktunya

Dalam sebuah artikel di blog ini, mungkin Anda pernah menjumpai judul “Dan Semua ‘kan Indah pada Waktunya“. Atas nasihat dari seorang ikhwah, bahwa kalimat tersebut berasal dari Injil, saya segera mengganti judul tersebut dengan “Bersabarlah, Kemenangan Itu Pasti ‘kan Tiba“.

Ungkapan “indah pada waktunya” banyak tersebar di dunia maya. Awalnya, saya mengira ungkapan tersebut hanya sekadar ucapan puitis, yang bukan berasal dari Alquran maupun Injil.

Akan tetapi, ada berbagai cara bagi Allah untuk mengaruniakan ilmu kepada hamba-Nya yang jahil. Setelah mendapat nasihat tersebut, saya pun googling dengan kata kunci “indah pada waktunya, injil“. Dari beberapa daftar yang ditampilkan oleh Google, ada satu referensi singkat tentang ungkapan tersebut,

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkotbah 3:11)

Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan “indah pada waktunya. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak. Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alquran Al-Karim. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segala puji hanya bagi Allah, yang memberi pengajaran kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mudah-mudahan, ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin ….

Bandar Universiti, 3 Juli 2011,
Athirah

Tak Sedih, Tak Takut

 ===

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

(Tidak demikian!) Bahkan, barang siapa yang berserah diri kepada Allah serta berbuat kebajikan, baginya pahala di sisi Rabb-nya, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.”

(Q.S. Al-Baqarah:112)

===