Arsip Kategori: Selingan

Begadang dan Berinternet: Buka-Tutup

Begadang dan berinternet itu punya kesamaan. Setidaknya bagi saya. Entahlah untuk orang lain.

Jangan begadang setiap malam. Begadang tanpa tidur. Pagi-pagi tak ada tenaga untuk terjaga: belajar dengan si kecil, mencuci, memasak, dst.

Jangan berinternet setiap hari. Membuat jenuh. Memakan waktu. Menyita perhatian. Mengalihkan konsentrasi.

Pakailah sistem on-off ‘buka-tutup’. Semalam begadang, semalam enggak. Sehari berinternet, sehari enggak.

Mengapa begitu?

Karena sebagaimana raga itu perlu istirahat dari rasa penat, hati pun perlu dijauhkan dari kelalaian.

Namun, ini asumsi dasar. Bisa fleksibel seiring kebutuhan.

Setuju?

 

Bayan Lepas, 24 Oktober 2013,
Athirah

Balik Kampung

Orang Indonesia menyebutnya “pulang kampung”. Lidah malaysia membahasakannya dengan “balik kampung”.

Supaya tak cuma dapat penat, balik kampung mesti diniatkan untuk beberapa hal:
1. Silaturahim.
2. Birrul walidain.
3. Ta’liful qulub (melembutkan hati keluarga besar agar mudah menerima dakwah).
4. Memperbarui iman (koneksi internet sangat memadai: bisa buat chat dengan sahabat-sahabat, telusur material penting, unduh bahan bermanfaat).
5. Menafkahkan harta di jalan Allah.

Pangkal Pinang, 3 September 2013,
Athirah

Kenalan Baru dari Isfahan

Tadi selepas shalat isya di Masjid An-Nur UTP, saya kenalan dengan seorang wanita. Dia kelihatan tekun sekali membaca sesuatu di hadapannya. Usut punya usut, dia membaca sesuatu yang membuat saya heran dan bertanya-tanya.

Lanjut berlanjut, saya sapa beliau …. Lanjutkan membaca Kenalan Baru dari Isfahan

Si Pendiam yang Murah Senyum

Pendiam, tidak banyak bicara, tidak pernah melukai hati saudara-saudaranya dengan kata-kata atau perbuatan dan senyum selalu menghiasi wajahmu, itulah bahasa yang dikenal oleh teman-temanmu, bahasa senyuman, demi Allah ! itulah wajah yang aku kenal dari dirimu, selalu memulai menyapa sebelum disapa, tetapi diam-mu selalu menyertai sikapmu, umurmupun masih sangat belia 17 tahun, wahai saudaraku ! Lanjutkan membaca Si Pendiam yang Murah Senyum