Arsip Kategori: Istri

Menyederhanakan Keinginan

Keinginan itu banyak
Tapi jangan kelewat banyak
Dan sebisa mungkin disederhanakan
Dikerucutkan

Renungi:
Hidup untuk apa?
Tujuan akhirnya apa?
Apa tugas kita?
Siapa yang punya hak atas diri kita?

Sederhanakan keinginan

Sederhanakakn keinginan

Agar hidup lebih fokus
Hati lebih tenteram
Yang dituju lebih nyata

Insya Allah

Bayan Lepas, 10 Juni 2014
Athirah

Bagi Istri … Apalagi Istri

masuklah dari pintu surga mana pun yang engkau mau

Bagi istri …
Yang disediakan kediaman aman dan serba nyaman
Meski sebuah rumah kontrakan super sederhana

Bagi istri …
Yang disuapkan makanan yang mengenyangkan
Meski sepiring nasi dan sebutir telor ceplok

Bagi istri …
Yang dibelikan pulsa handphone setiap minggu
Meski cuma untuk paket sms dan telepon

Apalagi istri …
Yang disiapkan kediaman aman dan super nyaman
Yang disuapkan makanan penuh nutrisi beserta susu pelengkap gizi
Yang difasilitasi handphone smartphone lengkap dengan paket internet

Ingat baik-baik keringat suamimu yang menetes hingga merembes
Juga kakinya yang pegal dan letih bekerja
Juga dahinya yang berkerut karena pening

Jaga baik-baik amanah suamimu
Jaga hartanya
Jaga kehormatannya
Jaga anak-anaknya

Manfaatkan semua kebaikannya untuk ketakwaanmu kepada Allah

Kediaman sebagai tempat belajar dan beribadah
Tempat mendidik dan membesarkan anak dengan penuh cinta
Tempat engkau menamatkan hafalan Alquran
Tempat engkau membuka beratus lembar buku
Tempat engkau mendengar ribuan gigabyte rekaman kajian agama

Makanan sebagai sumber tenagamu untuk belajar dan beramal

Segala fasilitas teknologi untuk kebaikan dan ketakwaan

Andai engkau jaga shalat fardhumu,
Engkau kerjakan puasa Ramadhanmu,
Engkau jaga kemaluanmu,
Engkau taat kepada suamimu,

Apa balasannya?

Masuklah dari pintu surga mana pun yang engkau mau
Ya, dari pintu surga mana pun
Yang engkau mau

Bayan Lepas, 12 Februari 2014,
Athirah

Asnah di Tengah Samudra

Istri itu diamanahi beberapa hal oleh suaminya:
Kehormatan untuk dijaga
Cinta untuk digenggam
Rumah untuk dipelihara
Anak untuk dididik
Asa untuk dibumbungkan

Maka, hendaklah istri pandai-pandai menjaga amanah tersebut

Betapa banyak bahtera terbalik akibat gelombang mengayun kencang
Karam sudah semua cita, habis bersisa pandang kosong semata

Samudra

Betapa banyak bahtera terbalik akibat asnah berkacak pinggang di hadapan nahkoda
Mengapa tangan tak sembunyi-sembunyi diangkat memanjat doa kepada Yang Maha Kuasa
Kiranya Dia berkenan agar amuk gelombang mereda,
Agar tenanglah samudra

Betapa banyak nahkoda tersilap
Berubah jadi nahkoda penggenggam hidayah
Bersebab tangis sayup asnah di kegelapan malam
Dengan dua tangan terangkat kepada Yang Maha Kuasa
“Ya Allah, mohon bimbinglah kami”

Betapa banyak badai telah lewat masanya
Hingga bahtera kembali berlayar
Dalam arah yang ditunjukkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

“Ya Allah, mohon bimbinglah kami”

Bayan Lepas, 8 Februari 2014,
Athirah

Awas Mogok!

Pernah lihat mobil/motor mogok? Bagaimana supaya nyala lagi? Di-starter ulang ‘kan? Kalau masih tetap mogok, apa yang akan kita lakukan?

Belajar ilmu agama bisa diibaratkan seperti itu.

Sebelum menikah: rajin ikut pengajian, rajin baca buku, rajin baca Alquran, rajin menghafal Alquran.

Setelah menikah: agak mandek datang pengajian (nunggu suami nganter), agak mandek baca buku (sibuk masak dan ngurus rumah), agak mandek baca Alquran (udah terlalu capek, matanya udah redup), agak mandek menghafal Alquran (udah enggak ada energi buat otak).

Setelah punya anak: makin mandek lagi.

Horor!!! *ini pengalaman pribadi*

Sebelum mobil/motor kita mogok, cepat-cepat ambil tindakan agar mesinnya tetap hidup, supaya dia tetap melaju mengantar kita ke Surga Firdaus.

Kecepatan 120 km/jam dengan gigi-4 mungkin bukan “kelas” kita lagi. Yang penting, tetap ada laju meski hanya di kisaran 40 km/jam dengan gigi-1. Lambat kayak kura-kura ya? Enggak apa-apa. Namanya juga usaha ….

Jika niat kita benar-benar ikhlas –dan Allah Maha Mengetahui hamba-Nya yang ikhlas– siapa tahu saja Allah berkenan memendekkan jarak itu untuk kita. Kalau pun ternyata jaraknya tetap sama, mungkin saja Allah berkenan menguatkan tekad dan kemampuan kita untuk menempuh sisa perjalanan.

Ibu-ibu dan para muslimah sejagad maya dan sejagad nyata, mari kita saling menyemangati (di atas jalan kebajikan dan ketakwaan)! Semangat!

Bandar Universiti, 28 Oktober 2011,
Athirah

Sudahkah Ibu Melakukannya Hari Ini?

Sudahkah Ibu baca alquran hari ini?

Mmh … nanti saja, setelah urusan rumah beres semua.

Sudahkah Ibu update status FB hari ini?

: ) Mau tau aja ….

Sudahkah Ibu masak sarapan pagi-pagi begini?

Mmh … sabar ya, ini masih dalam tahap pelaksanaan.

Sudahkah Ibu memeriksa notification FB Ibu pagi ini?

: ) Mau tau aja ….

Sudahkah Ibu membuatkan minuman hangat untuk suami Ibu pagi ini?

Mmh … sebentar dulu ya, saya sedang menyelesaikan masakan dulu.

Sudahkah Ibu memeriksa pesan Blackberry setelah bangun tidur?

: ) Mau tau aja ….

Sudahkah Ibu menghadiri majelis ilmu hari ini?

Mmh … bingung juga nih, soalnya pekerjaan rumah belum kelar juga.

Sudahkah Ibu chatting di YM/FB dengan kawan hari ini?

: ) Mau tau aja ….

Sudahkah Ibu mendengar rekaman kajian hari ini?

Mmh … belum sempat, soalnya si kecil rewel terus.

Sudahkah Ibu kirim-kiriman email ke milis hari ini?

: ) Mau tau aja ….

Maukah Ibu masuk surga?

Jelas mau dong ….

Maukah Ibu tak tersentuh api neraka sama sekali?

Jelas mau dong ….

 

*) Sekadar ilustrasi realita yang jenaka, untuk menggelitik jiwa saya sendiri agar lebih banyak introspeksi diri.

Bandar Universiti, 11 Oktober 2011,
Athirah

Sayangi Istri Anda

Diri Anda, siapa yang mendampingi?

Ketika Anda sudah lasah, lalu pulang petang dengan kebanjiran peluh. Disambut oleh istri salehah yang punya ilmu agama, Anda tak melulu kecewa, insya Allah.

Istri salehah akan meninggalkan layar facebook-nya, untuk menyambut Anda di depan pintu. Istri salehah akan menemani Anda menyantap makanan, sambil memberi perhatian penuh pada ceria dan muram Anda ketika bercerita tentang aktivitas Anda seharian.

Istri salehahlah yang akan mengatakan, “Mas, bangun …. Udah azan. Ayo ke masjid ….

Semangat Anda untuk menuntut ilmu syar’i senantiasa berpadu harmonis dengan dukungannya yang selalu ada. Istri-Anda yang salehah bukannya mengomel minta ditemani shopping ke mall, di saat Anda sudah sumringah karena akhir pekan ini akan ikut daurah ulama dari Haramain, yang diadakan di kota Anda.

Istri-Anda yang salehah, malah mempersiapkan segalanya untuk momen berharga itu untuk Anda: baju gamis atau baju koko, parfum, peci, alat tulis, kitab, dan tentunya mp3 untuk merekam kajian.

Si Istri Salehah itu juga tak lupa mengingatkan Anda, “Karena daurah ini cuma untuk lelaki, rekamannya yang lengkap ya, Mas. Nanti kita putar ulang di rumah, muraja’ah bareng dengan anak-anak.”

Anak Anda, siapa yang mengajari?

Buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya.
Lanjutkan membaca Sayangi Istri Anda

Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Mustahil Belajar?

Dalam sebuah majelis, di balik hijab, seorang Ustadz menyebutkan satu per satu nama santri. Sampai ketika nama seseorang disebutkan, para santri menjawab, “Ghaibah, Ustadz (Tidak hadir, Ustadz).”

Apa komentar Ustadz? “Masyghulah, al-an (Sudah sibuk sekarang). Makanya, selagi masih ada kesempatan, belajarlah. Kalau sudah menikah, yang namanya pekerjaan rumah tangga itu enggak ada habisnya.”

Santri yang tidak hadir itu baru saja menikah. Biasanya, beliau termasuk santri yang paling rajin datang kajian. Meskipun rumah beliau jauh, dan sering kali beliau mesti melayani orang tua beliau dahulu (yang sudah berumur 60-an tahun) lalu berangkat kajian, semangatnya yang selalu ada membuat santri lain juga ikut ketularan semangat.

Untuk para ibu yang dahulunya, semasa melajang, bisa ke majelis ilmu mana pun, sekarang mesti pilah-pilih jadwal kajian yang bisa dihadiri. Mulai dari mempertimbangkan “siapa yang ngantar?”, “pekerjaan rumah udah beres/belum?”, “gimana ya supaya anak-anak nanti enggak rewel?”, sampai “kajiannya ini boleh didatangin ummahat yang bawa anak enggak ya?”

Akan tetapi, sebenarnya, tidak sesulit itu untuk belajar. Mungkin karena tolak ukur “standar” yang dipakai adalah “masa melajang”, jadinya serasa merana setelah menikah, apalagi ketika sudah punya anak. “Sekarang, mau datang kajian susah.” “Sekarang, mau baca buku susah.”

Coba kalau “standar”-nya disesuaikan dengan kondisi sekarang, insya Allah enggak akan sedih sampai segitunya. Lanjutkan membaca Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Mustahil Belajar?

Nostalgini

Membenturkan masa lalu dan masa kini, sering kali, kurang arif. Ada ungkapan: belajar dari masa lalu, jalani masa kini, siapkan masa depan.

Untuk saya, ketimbang “membenturkan” dua kurun, lebih baik “mengonversikan” dua kurun tersebut. Lihatlah, sekiranya ada hal-hal di “masa lalu” yang sudah kadung hilang di “masa kini” dan mesti dimunculkan, ataukah ada hal-hal yang malah justru tetap ada namun seharusnya dihilangkan di “masa kini”.

Nostalgia

Berbicara soal cita-cita-cita-cita, biasanya, membuat pikiran saya akan bernostalgia ke masa-masa dahulu, sebelum menikah, sebelum diamanahi seorang Asiyah. Lanjutkan membaca Nostalgini