Arsip Kategori: Ibu

Berat pada Dua Hal

Tantangan paling berat dalam mendidik anak itu …
Bukan terletak pada susahnya menyusun kurikulum
Bukan pula tentang mengatur jadwal kegiatan
Bukan juga dalam mencari variasi metode belajar

Yang terberat ada pada dua hal:
1. Niat yang benar (ikhlas)
2. Istiqamah (sedikit-sedikit tapi berterusan)

Itu!
Itu!

Sering-sering introspeksi diri tentang dua hal itu. Banyak-banyak berdoa kepada Allah untuk dua hal itu.

Beneran.


Bayan Lepas, 13 Ramadhan 1435 H (12 Juli 1987)
Athirah

Menyederhanakan Keinginan

Keinginan itu banyak
Tapi jangan kelewat banyak
Dan sebisa mungkin disederhanakan
Dikerucutkan

Renungi:
Hidup untuk apa?
Tujuan akhirnya apa?
Apa tugas kita?
Siapa yang punya hak atas diri kita?

Sederhanakan keinginan

Sederhanakakn keinginan

Agar hidup lebih fokus
Hati lebih tenteram
Yang dituju lebih nyata

Insya Allah

Bayan Lepas, 10 Juni 2014
Athirah

Menyatukan Dua Hati

“Pahala … pahala …,” celoteh Asiyah.

Alhamdulillah, lumayan ada peningkatan. Sekarang kalau ditanya, “Asiyah mau dapat pahala, nggak?” Asiyah menjawab, “Asiyah nak (mau) pahala banyak-banyak. Asiyah nak (mau) permen banyak-banyak.”

Pengen pahala, tapi tetap pengen permen. Yah, namanya juga anak-anak. Lanjutkan membaca Menyatukan Dua Hati

Permen Banyak-Banyak

Ummi : Asiyah rajin hafal Alquran ya, supaya bisa dapat banyak pahala. Nanti kalo pahalanya banyak insyaalloh bisa masuk surga.

Asiyah : Apa Ummi? Asiyah nak (mau) permen banyak-banyak.

Ummi : Iya, nanti insyaalloh Alloh kasih permen banyak-banyak.

Bagi Asiyah, permen adalah hadiah yang istimewa. Super eksklusif. Bukan karena kedua orangtunya suka memberi permen, tapi karena permen adalah barang langka di rumah ini, juga barang langka di tas belanjaan.

Permen hanya sesekali ada. Kalau pas lagi ada. Tidak direncanakan.

Bagi Asiyah, pahala itu adalah permen. Di bayangannya, pahala = permen. Itulah imajinasi di benaknya yang berusia 3 tahun & 8 bulan.

Targhib tentang permen sangat berbekas di hatinya. Cerita tentang surga yang berisikan sungai-sungai dan segala kenikmatan ternyata tak cukup berkesan dibandingkan kenangan manisnya pada rasa sebutir permen.

Subhanalloh, inilah dunia anak-anak yang penuh kepolosan.

Bayan Lepas, 1 Januari 2014,
Athirah