Arsip Kategori: Bermasyarakat

Salah Satu Manfaat Menikah

Salah satu manfaat menikah adalah:

Memiliki kawan berbincang.
Pasangan ‘tuk bertukar pikiran.
Mendinginkan “hawa panas” di kepala.
Sekadar melunakkan emosi di hati.
Atau menemukan ide yang sudah lama dicari.

Lanjutkan membaca Salah Satu Manfaat Menikah

Iklan

Suka-Duka Belajar bersama Mereka

Proses belajar itu pasti ada sukanya, ada dukanya.

Saat melihat mata mereka yang akhirnya paham bahwa ahadukum itu terdiri dari dua isim, rasanya senang sekali hati kita. Saat melihat mereka tetap memegang buku sambil menyusui anaknya, rasanya senang sekali hati kita. Saat melihat mereka meminta diberikan PR materi hari ini, padahal pekerjaan rumah-tangga mereka juga sudah menumpuk, rasanya senang sekali hati kita. Lanjutkan membaca Suka-Duka Belajar bersama Mereka

Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Cukup lama selang waktu saat aku tak lagi berjumpa dengan Ustadz dan Ustadzah. Aku sibuk dengan sekolah dan kegiatan lain. Saat usiaku menginjak 10 tahun, timbul perasaan bahwa aku sudah dewasa dan tak cocok lagi ikut berkegiatan di TPA, padahal itu opini yang keliru ya ….

Hingga akhirnya usiaku menginjak 16 tahun.

Kulihat salah seorang temanku sibuk komat-kamit sambil membuka-tutup sebuah buku kecil. Saat jam istirahat, kuhampiri dia. Penasaran sekali aku dibuatnya, maka kutanyakan saja apa sih yang sedang dia lakukan.

Dia jelaskan padaku bahwa dia sedang menghafal hadis arba’in. Sore itu dia akan menjalani ujian di tempat ta’allumnya. Pungkasnya, “Menuntut ilmu agama itu wajib.”

Menuntut ilmu agama itu wajib. Menuntut ilmu agama itu wajib,” terngiang bergaungan di benakku. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Aku tak memandang ustadzah-ustadzahku aneh karena jilbab mereka begitu besar. Seakan payung yang siap mengembang dan cocok untuk jadi tempat persembunyian kami saat bermain petak umpet. Yang kutahu, Ustadzah adalah orang yang pandai, lembut, dan murah senyum. Dengan anak-anak kampung pun Ustadzah sungguh bermurah hati. Ustadzah tak membedakan adakah kami anak PNS, anak pedagang, atau anak tukang becak.

Orang-tuaku pun tahu bahwa di balik jilbab Ustadzah yang lebar dan gelap, mereka adalah orang berpendidikan dan datang dari keluarga terhormat. Mama dan Bapak tak khawatir membiarkan kami menengok rumah Ustadz yang penuh dengan perabot kayu. Ustadz kami adalah seorang perajin sekaligus pedangan mebel plus seorang mahasiswa. Senangnya … kami boleh main ke rumah beliau. Mereka sungguh baik membiarkan kami menjelajah lantai per lantai. Lanjutkan membaca Serial Cadar (Bagian 2): Orang-Orang Aneh

Serial Cadar (Bagian 1): Pengantar di Awal

Kisah berseri ini hanya sekadar kisah ringan. Bukan sebuah penjabaran panjang-lebar tentang bahasan ilmiah seputar cadar. Ulasan yang berisi dalil-dalil sahih yang membuktikan bahwa cadar adalah bagian dari syariat Islam –bukan sebatas budaya Arab– bisa kita simak lewat buku, majalah, maupun internet. Beberapa di antaranya bisa diakses melalui hasil pencarian menggunakan Mesin Pencari Ilmu Islam “Yufid”.

Yang akan berkisah kepada Anda adalah seorang muslimah, yang lahir dan dibesarkan bukan dalam lingkungan orang-orang bercadar, yang kemudian pernah hidup di lingkungan muslimah bercadar selama kurang lebih 5 tahun, lalu kini beralih menjalani hari-hari dalam lingkungan heterogen di negeri rantau.

Kisah ini merupakan pengalaman pribadinya, yang dihimpun dari keseharian yang telah dia jalani. Ada cerita lucu, ada inspirasi, ada kisah yang menggelikan, ada juga pelajaran hidup yang layak dipetik.

Tanpa bermaksud menggurui, tanpa berniat menyucikan diri, mudah-mudahan ini semua bisa bermanfaat untuk penulisnya maupun para pembacanya. Amin….

Bersambung, insya Allah….

Bandar Universiti, 6 Oktober 2011,
Athirah

Darah Muda, Darah yang Bergelora

Tulangnya masih kuat, kakinya masih kokoh, bahunya masih tegap, pandangannya masih tajam, daya ingatnya masih jernih, daya juangnya masih tinggi.

Darahnya masih merah segar. Darah itu sangat mudah bergelora, bagai dikarau. Geloranya menyala bagai api. Namun, itu sangat nisbi.

Jika dia terpantik agar merusak segala sesuatu di sekitarnya, betapa meruginya dia. Jika dia dinyalakan perlahan lalu berguna untuk menempa besi, betapa beruntungnya dia. Tak kalah beruntung jika api itu menyala di perapian, menghangatkan zaman yang beku dengan kekelaman. Lanjutkan membaca Darah Muda, Darah yang Bergelora

Cerita Seorang Anak TPA

Suatu hari, orang tua saya berkata bahwa saya dan adik saya akan berpindah tempat belajar mengaji. Biasanya, kami belajar mengaji di masjid dekat rumah. Pada umumnya, anak-anak seusia kami juga belajar mengaji di sana, dengan metode yang lazim dipakai saat itu, yaitu mengenal huruf hijaiyyah lalu belajar membaca juz’ amma.

Bapak dan Mama mendapat kabar bahwa ada seorang guru mengaji di sekitar rumah kami. Kata orang-orang, cara mengajarnya bagus. Bapak dan Mama pun tertarik untuk mengantarkan saya dan Adik ke sana. Lanjutkan membaca Cerita Seorang Anak TPA

Kumpul-Kumpul

Saat sendirian, boleh jadi, lisan terkunci rapat. Namun, kalau sudah berkumpul bersama seseorang, apalagi beberapa orang, baik dalam perkumpulan langsung atau dalam forum dunia maya, kira-kira apa yang mungkin terjadi?

Mungkin akan terjadi perbincangan, perihal berbagai hal. Hal-hal personal, suami, anak, mertua, pelajaran, peristiwa, sampai kehidupan pribadi orang lain pun terkadang ikut terkorek-korek.

Apa bahayanya? Lanjutkan membaca Kumpul-Kumpul