Arsip Kategori: Bahasa

Apakah Anda Tahu “Apatah”?

Mungkin saya saja yang kurang wawasan. Ternyata kata “apatah” memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Jadi, “apatah” ini bukan typo (salah ketik) dari kata “apakah”.

Dalam KBBI disebutkan,

apa·tah kl pron kata tanya untuk menanyakan sesuatu yg tidak memerlukan jawaban: — gunanya harta benda bertumpuk jika jiwa kita menderita

apa·kah pron 1 kata tanya untuk menanyakan benda bukan manusia: — yg menyebabkan kebakaran itu?; 2 kata tanya untuk menanyakan nama (sifat, jenis, dsb): ular — ini?; 3 kata tanya untuk menyatakan pilihan dan menegaskan informasi yg ingin diketahui: — suratku sudah sampai?

Kalau dilihat dari definisinya, sepertinya “apatah” ini serupa dengan “istifham ingkari” dalam ilmu nahwu (ilmu gramatikal bahasa Arab). Betul, tidak?

Bayan Lepas, 13 Januari 2014,
Athirah

Iklan

“CMIIW” dan “IMHO”?

Sedikit pengetahuan ringan tentang bahasa. Semoga bermanfaat ….

CMIIW : correct me if i’m wrong (mohon koreksi saya jika saya keliru)
IMO : in my opinion (menurut opini saya)
IMHO : in my humble opinion (menurut opini sederhana saya)
FYI : for your information (sekadar info, sebagai info untuk Anda)
LOL : laugh out loud (tertawa terbahak-bahak, ngakak)
a.k.a : as known as (dikenal juga sebagai)

Bandar Universiti, 7 September 2011,
Athirah

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung

Untuk sebuat kata, lain tempat, bisa lain pula maknanya. Dari pengalaman saya, ada beberapa kata yang maknanya malah jadi unik atau kontradiktif jika kita gunakan pada tempat yang berbeda.

Tania: Nama diri (vs) Bukan
Secara umum, “Tania” biasa digunakan sebagai nama diri (proper name). Saya tidak tahu asal-muasal nama ini, namun saya pernah menjumpai nama diri seperti ini. Akan tetapi, sekadar info untuk Anda, dalam bahasa Bugis, “tania” berarti ‘bukan’. Misalnya, kalau ada yang bertanya, “Anak naki’ Puang Muhammad (Anda anak Puang Muhammad)?”, lalu orang yang ditanyai tadi ingin menjawab ‘bukan’, dia akan berkata, “Tania.”

Punggung: Punggung (vs) Pantat
Dalam bahasa Indonesia, “punggung” itu bisa kita padankan dengan kata ‘back‘, dalam bahasa Inggris. Lain lagi ceritanya kalau Anda mengucapkan kata “punggung” dalam bahasa Malaysia, karena “punggung” itu berarti ‘ass‘ (pantat). Jika Anda ingin mengungkapkan “back” dalam bahasa Malaysia, katakanlah “belakang”. Misalnya: Punggung saya sakit (bhs. Ind.) -> Belakang saya sakit (bhs. Mly.). Terkadang juga, untuk percakapan sehari-hari dalam bahasa Malaysia, kata “ass” dipadankan dengan kata “ekor”.

Aja: Saja (vs) Jangan
“Kamu pulang duluan aja!” artinya ‘Kamu pulang duluan saja!’ Kata “aja” untuk beberapa daerah di Jawa bermakna ‘saja’, tetapi dalam bahasa Bugis, kata “aja’” bermakna ‘jangan!’. Misalnya, “Aja’ na mu pakkutananngi!” artinya ‘Jangan beritahu dia!’ – [baca selanjutnya]>

Tanda Petik (“…”) dan Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Rasa bahasa ternyata bisa ikut ambil pusing kalau bacaan berbahasa Indonesia yang sedang disimak ternyata ada sedikit (atau bahkan banyak) “keseleo” dalam penulisan. Saya juga termasuk jenis pembaca yang biasanya terkurangi fokus membacanya saat bertemu dengan penulisan yang “keseleo” tadi.

Saya ambilkan salah satu contoh “keseleo” yang biasanya sering terjadi pada tulisan berbahasa Indonesia: tanda petik (“…”) dan tanda petik tunggal (‘…’). [baca selanjutnya]