Waktu

Sejak lama saya berpikir bagaimana caranya hidup yang teratur. Teratur dalam artian kita bisa melakukan banyak hal dengan tetap “bernapas normal”, nggak perlu pakai emosi, nggak perlu pakai stres.

Sampai suatu saat, sekitar tahun 2007 atau 2008, saya ikut dauroh Ustadz Aris Sugiantoro. Selepas kajian, beliau membagikan oleh-oleh sebuah buku terjemahan. Buku yang ringkas, tapi buku itulah yang – alhamdulillah – menuntun saya menemukan sebuah jalan keluar. Jalan keluar yang sangat berarti bagi hidup saya saat ini.

Judul buku terjemahan itu 10 Hak dalam Islam. Judul kitab aslinya Huquq Da’at ilaiha Al-Fithrah wa Qarrarat-ha Asy-Syari’ah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dalam perenungan, saya bolak-balik bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana caranya melakukan banyak hal? Bagaimana supaya hidup ini berarti dan waktu tidak terbuang sia-sia? Bagaimana caranya melakukan hal-hal yang memberi manfaat, bukan cuma sekadar menghabiskan waktu?”

Sebenarnya, buku itu tidak membahas tips mengelola waktu. Bukan juga tentang manajemen hidup. Tapi, fokus bahasan di buku itu membuat saya bisa berkata, “Ini jawaban yang selama ini saya cari!”

Dalam buku tersebut diuraikan 10 hak dalam Islam:
1. Hak Allah.
2. Hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Hak kedua orang tua.
4. Hak anak.
5. Hak kerabat.
6. Hak suami istri.
7. Hak pemimpin dan rakyat.
8. Hak tetangga.
9. Hak seluruh kaum muslimin.
10. Hak non-muslim.

Apa yang saya dapatkan dari buku itu? Bahwa hidup ini tentang memenuhi kewajiban terhadap pihak lain dan diri sendiri. Itu yang jadi patokan dalam melangkah. Buku tersebut membantu saya untuk memasang fokus kehidupan, tentang hal apa saja yang mesti saya kerjakan, dan bagaimana cara mengisi waktu semaksimal mungkin.

Pasang target

Contoh sederhana. Dalam hidup, kita memasang target:

  1. Target tahunan.
  2. Target bulanan.
  3. Target mingguan.
  4. Target harian.
  5. Target seumur hidup.

Kita memasang target untuk menentukan fokus kita dalam hidup. Hidup tanpa target bagai menggapai-gapai udara. Tak ada tolak ukurnya. Kita melompat dan melompat, dan tangan kita menggapai serta menangkap. Namun tangan tetap kosong, setinggi apa pun lompatan kita.

Beda bila kita memasang target, meski target itu kecil dan sederhana. Misalnya, kita ingin mengambil buah jambu di sebatang pohon. Jelas, tujuan kita adalah mengambil jambu. Caranya gimana? Entah kita melompat setinggi-tingginya, kita memakai galah, atau kita meminta tolong orang lain untuk mengambilkan jambu itu. Jelas, tujuan dari sekian usaha itu adalah untuk mengambil jambu.

Contoh.

  1. Target tahunan: Selesai menghafal 30 juz Al-Quran dalam setahun. Lebih banyak mengamalkan ilmu yang dipunyai, meski intensitas berangkat ta’lim berkurang karena sibuk dengan tugas di rumah (fokus mengamalkan setiap ilmu yang sudah didapat).
  2. Target bulanan (untuk bulan September, misalnya): Rutin membaca Al-Quran tiap hari (1 bulan khatam membaca 30 juz). Menyelesaikan tugas-tugas lain. Anak-anak bisa lebih disiplin dengan waktu.
  3. Target mingguan: Beli buku baru untuk anak-anak. Selesai mengubah tata letak kamar. Merapikan dapur dan membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai.
  4. Target harian: Masak, nyuci baju, nyuci piring, belajar dengan anak-anak, tilawah, shalat dhuha, balas pesan WA (WhatsApp) yang belum dibalas, selesaikan deadline kerjaan.
  5. Target seumur hidup: Terus belajar, berusaha mengamalkan, dan tunaikan 10 hak dalam Islam.

Semua target itu (tahunan, bulanan, mingguan, harian) sejatinya untuk menunaikan 10 hak dalam Islam.

  • Belajar (utamanya belajar agama) supaya punya ilmu. Bila punya ilmu, kita tahu harus berbuat seperti apa. Kita tahu cara menunaikan hak Allah, cara menunaikan hak Rasulullah, cara menunaikan hak suami, cara menunaikan hak orang tua, dll.
  • Kita shalat, itu untuk menunaikan hak Allah.
  • Kita belajar dan berdakwah (dengan cara seminimal apa pun yang kita bisa) untuk menunaikan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: menyebarkan dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya, dengan menulis artikel keislaman (meski hanya tulisan ringan dan pendek).
  • Kita masak, nyuci, ngepel, dll.. itu untuk menunaikan hak suami dan hak anak-anak.
  • Dll ….

Cara bahagia

Bedakan antara kewajiban dan keinginan

Dengan mengetahui 10 hak dalam Islam, kita bisa membedakan antara kewajiban dan keinginan. Inilah yang akan sangat membantu kita dalam memilih kegiatan untuk membagi waktu.

Contoh sederhana. Pagi hari, Mama menelepon saya. Biasanya beliau menelepon saya tiap hari untuk ngobrol. Kadang beliau ngobrol dengan saya tentang keadaan keluarga apakah sehat semua atau ada yang sakit. Kadang diskusi tentang ibadah, misalnya shalat dhuha itu boleh 2 rakaat aja atau mesti 4 rakaat. Nah, apakah saya mesti menemani Mama ngobrol, padahal pagi hari itu adalah jadwal saya untuk masak dan beres-beres kerjaan rumah (nyuci, nyeterika, dll)? Atau telepon Mama tidak usah saya angkat?

Jawabannya, saya angkat telepon Mama. Biasanya Mama akan tanya, “Lagi ngapain?” Saya jawab, “Lagi masak,” atau “Lagi nyuci.” Mama akan bilang, “Ya sudah. Kamu masak saja dulu. Asiyah lagi ngapain?” Dan … akhirnya Asiyah yang ngobrol dengan neneknya.

Kalau Mama tidak tanya saya lagi ngapain, saya yang bilang duluan, “Mama, saya sedang masak. Mama bicara sama Asiyah saja ya.” Maka … nenek dan cucu ini pun asik ngobrol tentang banyak hal.

Bisa Anda perhatikan, dalam situasi seperti di atas, hak siapa saja yang mesti saya tunaikan? Dalam memasak dan menyelesaikan tugas rumah, ada hak suami dan hak anak-anak yang harus saya tunaikan. Dalam waktu bersamaan, ada hak Mama yang harus saya tunaikan. Bila kondisinya semacam itu, hak suami didahulukan daripada hak Mama (ada rincian tentang mendahulukan hak suami atas hak orang tua). Dan meski tidak bisa ngobrol dengan Mama karena harus menunaikan suami, saya tetap bisa menyenangkan hati Mama dengan memberi telepon ke Asiyah.

Contoh lain, ketika saya pengeeeen sekali belajar merajut. Dulu saya sudah sempat belajar teknik dasarnya, dan tetap ada keinginan untuk meningkatkan skill di bidang rajut-merajut. Bisa untuk bikin peci suami, misalnya.

Tapi ketika waktu itu sangat terbatas, saya mesti memilih antara melakukan kewajiban atau melakukan keinginan. Ketika ada waktu luang saat anak-anak sudah tidur malam, apakah saya akan membuka laptop untuk membaca-baca dan menulis, atau saya akan mengambil hakpen dan mulai merajut?

Saya akan lebih memilih membuka laptop. Karena dengan membaca dan menulis, saya bisa menambah ilmu. Di tengah keterbatasan (dalam seminggu cuma bisa ta’lim dua kali — itu pun duraasi waktunya hanya 1-1,5 jam), waktu luang pada malam hari adalah kesempatan untuk menambah ilmu hari itu. Bagi saya, tujuan utama belajar (apalagi belajar agama) adalah untuk memperbaiki diri. Belajar itu bukan untuk pinter-pinteran. Kadang kita membaca ayat Al-Quran, hadits, atau perkataan ulama lalu terpikirlah, “Oh, begitu ya seharusnya. Ya … ya.”

Misalnya, hari ini saya dapat hadits, “Diharamkan atas api neraka setiap orang yang hayyin (rendah hati), layyin (lemah lembut), sahlin (mudah dalam bermuamalah), dan qarib (dekat dengan manusia).” (HR. Ahmad)

Dengan membaca hadits itu, kita bisa mengukur diri kita sendiri, “Adakah saya memiliki 4 sifat itu?”

Saya lebih memilih membuka laptop karena dengan cara itulah saya bisa belajar. Menambah ilmu pada hari itu, meski sedikit. Ilmu yang sedikit itu akan menjadi bekal berharga untuk beramal. Maka, bagi saya, belajar adalah sebuah kewajiban.

Berbeda dengan merajut. Saat ini, dalam hidup saya, merajut baru sebatas keinginan. Ingin untuk menambah skill. Dan sebenarnya, masih panjang daftar keinginan yang sudah sejak lama saya pendam.

Tapi, dengan waktu yang terbatas yang Allah berikan, saya harus mendahulukan kewajiban dibandingkan keinginan.

Batasi

Satu hal lagi yang penting dalam hidup: batasi pengetahuan kita tentang detail kehidupan orang lain. Lebih baik kita tahu banyak ayat Al-Quran, hadits, atau penjelasan ulama dibandingkan tahu detail kehidupan si A, si B, si C, dst. Jadi, sebisa mungkin jangan banyak mengalokasikan waktu untuk kepo-in medsos orang. Sesekali baca-baca boleh, tapi sebaiknya jangan sering-sering.

Dengan memiliki ilmu agama, kita bisa tahu batasan ruang gerak kita. Dalam hadits (cek di hadits arba’in an-nawawiyyah) disebutkan bahwa Allah memiliki batasan, itulah halal dan haram, ibarat padang gembalaan yang sudah berpagar. Kita bebas bergerak selagi itu masih dalam padang. Kita boleh tidur, boleh makan, boleh lari, dll. Namun kita tidak boleh melewati pagar.

Dalam hidup ini, selagi kita tahu batasan yang sudah Allah tentukan, kita insyaallah aman. Andai ada orang yang berlari-lari di padang itu, apakah kita juga harus ikut berlari? Tentu tidak! Kita tidak wajib mengikuti apa yang orang lain lakukan. Yang wajib bagi kita adalah melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kita bisa belajar dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka memiliki keutamaan masing-masing. Ada yang menjadi khalifah, ada yang sibuk dengan majelis ilmu, ada yang sibuk membantu manusia dengan hartanya, dll. Mereka sama-sama mengerjakan hal-hal wajib, seperti shalat, puasa, zakat, dll … Tapi untuk detail kehidupan, mereka jalani sesuai dengan warna diri mereka masing-masing. Yang berbakat berdagang ya berdagang. Yang berbakat mengajar ya mengajar. Yang berbakat jadi panglima perang ya jadi panglima.

Bercermin dari teladan itu, saya mengambil kesimpulan bahwa lebih baik kita tahu batasan Allah. Kita tahu “pagar di padang itu”. Kita tidak perlu sibuk menyontek kehidupan si A, si B, dst .. karena belum tentu itu cocok dan baik untuk kita.

Fokus untuk tahu batasan, dan jalani hidup dengan bekal yang sudah Allah berikan khusus kepada diri kita masing-masing.

Allah tidak membebani hamba-Nya untuk menjadi sama seperti orang lain, tapi Dia mewajibkan kita untuk mematuhi batasan yang telah Dia tentukan.

Akhir kata, sampai di sini saja tulisan ala kadarnya ini. Semoga yang masih “berantakan” ini tetap bermanfaat.

***

Jogja, 12 September 2015,
Athirah

Iklan

Satu pemikiran pada “Waktu

  1. Ping-balik: Waktu | Ukhtii '90

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s