Sumber Daya (Manusia) Potensial

Dakwah tak butuh kita.
Tapi kita yang butuh dakwah.

Kita butuh menambah ilmu.
Kita butuh memantapkan ilmu.
Kita butuh mengamalkan ilmu.
Kita butuh berbagi ilmu.
Kita butuh menabung amal jariah.
Kita butuh kegiatan positif.
Kita butuh kesibukan yang berarti.


Tapi, dakwah ini perlu kerjasama. Dalam sebuah kerja keras dan kerja cerdas. Biasanya, akan ada pimpinan dan pihak terpimpin. Akan ada peserta aktif, peserta pasif, dan “pengamat” (a.k.a penonton).

Terkadang tugas “batin” yang diemban itu rasanya perlu dipikul sama-sama. Oleh semua pihak yang disebutkan dalam paragraf di atas. Mengapa disebut tugas “batin”? Karena sebenarnya tidak ada kewajiban untuk mengerjakannya, dalam artian: tidak ada yang bakal kasih hadiah kontan kalau dikerjakan, tidak ada yang bakal kasih hukuman spontan kalau ditinggalkan. Meski sebenarnya sudah ada pahala menanti jika hatinya ikhlas.

Tapi, itulah panggilan “batin”. Panggilan jiwa.

Ketika kita bahagia karena sudah mendarah-dagingkan panggilan batin tersebut dalam diri kita sendiri, biasanya mulai muncul perasaan ingin mengajak teman-teman untuk ikut ambil bagian. Istilah kerennya “kerja bareng”. Kerja bareng dalam dakwah.

Tapi, tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak semudah masak nasi pakai rice cooker. Tidak semudah memasak mie instan.

Sebanyak apa pun kuantitas sumber daya manusia (SDM), dan seperti apa pun kita menganggap SDM tersebut “potensial”, kalau kita tidak mampu membaur di akar rumput dan membumi di tengah manusia, tentunya sukar untuk memenangkan hati mereka.

Tidak bisa kita serta-merta menembak peluru “rasa bersalah”, menyasar setiap peserta pasif dan penonton yang sedari tadi tak tampak sumbangsihnya dalam dakwah (menurut kita).

Karena fitrah manusia itu akan mempertahankan diri ketika diserang, akan berusaha membela diri bila disalahkan.

Memang agak lama kalau kita mesti mendekati hati mereka, menanyakan pendapatnya, membantunya mencari solusi, menyadarkannya perlahan, mendengar alasannya.

Tapi, bagi para pimpinan, ini adalah salah satu cara membangkitkan angkatan-angkatan SDM-potensial yang dimiliki.

Perlu proses, taktik jangka pendek, taktik jangka panjang.

Pastinya, semua itu mesti disertai doa, tawakal, dan kesabaran. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. La hawla wa la quwwata illa billah.

Bayan Lepas, 13 Januari 2014,
Athirah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s