Menyatukan Dua Hati

“Pahala … pahala …,” celoteh Asiyah.

Alhamdulillah, lumayan ada peningkatan. Sekarang kalau ditanya, “Asiyah mau dapat pahala, nggak?” Asiyah menjawab, “Asiyah nak (mau) pahala banyak-banyak. Asiyah nak (mau) permen banyak-banyak.”

Pengen pahala, tapi tetap pengen permen. Yah, namanya juga anak-anak.

Perlu beberapa hari untuk mewarnai pola pikirnya dari hanya “nak permen banyak-banyak” menjadi “nak pahala banyak-banyak, nak permen banyak-banyak”.

Kalau itu masih dalam hitungan hari, memperbaiki lafal syahadat di lidah Asiyah memerlukan waktu kurang-lebih setahun. Sampai benar-benar nyaris sempurna terdengar “laa ilaha illallah, muhammad rasulullah”.

Memang lama, tapi prosesnya tetap nyaman bagi kami berdua. Sangat penting untuk menyatukan dua hati dalam sebuah pendidikan: hati anak dan hati pendidik. Dalam hal ini, menyatukan hati Asiyah dan hati saya.

Menyatukan dua hati

Metode yang hanya membuat nyaman satu pihak akan menimbulkan gertak-gertak di hati. Proses pendidikan yang seharusnya berjalan penuh kasih malah menjadi beban psikologis.

Ada kalanya memang salah satu pihak “terpaksa” menjalani proses tersebut. Namun perlu digaris-bawahi, metode yang tepat insyaalloh akan mengubah suasana “terpaksa” menjadi “suka cita”.

Contohnya?

Untuk hafalan, metode paling enak untuk saya dan Asiyah adalah murojaah dan menambah hafalan kapan pun dan di mana pun, kecuali di tempat-tempat yang terlarang. Sambil masak, sambil main, sambil duduk tenang, sambil rebahan, sambil menjemur, sambil cuci piring, sambil …, sambil …. Kenapa begitu? Karena Asiyah susaaaah disuruh duduk diam, tenang, anteng. Ada kalanya dia bisa diam tapi sangat jarang ada momen seperti itu. Alhasil, kami temukan metode yang klop untuk kami berdua; pas di saya, pas di Asiyah. Win-win solution.

Contoh lain?

Asiyah mulai suka sama video di laptop. Tapi saya kurang sreg kalau Asiyah yang masih kecil sudah banyak nge-laptop. Jadi, kami “sepakat” untuk tidak berlama-lama di depan laptop, dan Asiyah tetap suka meski belajarnya tanpa laptop. Yang terpenting baginya, ada Ummi di dekatnya.

Bayan Lepas, 8 Januari 2014,
Athirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s