Si Pendiam yang Murah Senyum

Pendiam, tidak banyak bicara, tidak pernah melukai hati saudara-saudaranya dengan kata-kata atau perbuatan dan senyum selalu menghiasi wajahmu, itulah bahasa yang dikenal oleh teman-temanmu, bahasa senyuman, demi Allah ! itulah wajah yang aku kenal dari dirimu, selalu memulai menyapa sebelum disapa, tetapi diam-mu selalu menyertai sikapmu, umurmupun masih sangat belia 17 tahun, wahai saudaraku ! engkaupun anak yatim, ayahmu meninggalkanmu ketika engkau masih berumur 7 tahun, tapi kedewasaan dan kewibawaan tampak sekali pada dirimu ! dan ketika bertemu dengan musuh di medan pertempuran maka yang tampak adalah singa diantara singa-singa Allah, pantang menyerah, tidak mengenal mundur walaupun sejengkal, lihatlah ! ketika datang pertempuran hari selasa, tiga hari yang lalu, maka dirimu terpanggil untuk maju kedepan, hanya dengan 5 orang temanmu engkau menghadapi serbuan puluhan bahkan ratusan cucu abdullah bin saba’ alias rofidhoh, demi Allah ! aku sendiri melihatmu ketika engkau bertempur, dari ba’da dhuhur sampai malam, tanpa berhenti, kecuali untuk sholat saja dan dengan pertolongan Allah, mereka berhasil dikalahkan dengan meninggalkan puluhan orang tewas. Tetapi apa yang terjadi dengan dirimu ? suatu sat sahabat karibmu mengirim sms kepadamu sebelum ia terbunuh mati syahid (insya Allah) yang berbunyi “INSYA ALLAH KITA AKAN BERTEMU DI SYURGA” maka engkaupun menjawab : insya Allah wahai saudaraku ! dan itulah takdir yang selama ini engkau tunggu-tunggu ! telah datang menghampirimu ! syahadah di jalan Allah menjemputmu wahai saudaraku ! wahai mujahidku

Ustadz Abu Sa’ad; “Dari Kaum Muslimin untuk Dammaj” on Facebook

*

Wibawa dan karisma. Keduanya saya jumpai dalam satu jiwa: si pendiam yang murah senyum.

Sejauh ini, wibawa dan karisma itu saya rasakan langsung dalam diri 3 muslimah. Dua di antaranya tinggal di Indonesia, yang satunya lagi adalah muslimah Sudan.

Mereka pendiam tetapi murah senyum. Mereka rajin menghafal Alquran. Mereka faqihah fid din. Mereka bertutur dengan santun dan sangat terjaga. Ucapannya singkat tetapi menyejukkan. Nyaman sekali berdekatan dengan mereka.

Di sisinya, orang akan merasa dihargai. Tawadhu penuh kesantunan. Meluruskan kesalahan dengan bijak.

Mereka pandai menyembunyikan amal shalihnya.

Dalam bergaul, mereka mendengar dengan dua telinga, menatap dengan dua mata. Telinganya benar-benar mendengar. Matanya benar-benar menatap.

Nama mereka tak banyak dikenal manusia. Namun siapa tahu saja merekalah buah bibir mewangi para penghuni langit. Wa la uzakki ‘alallohi ahadan.

Masing-masing sifat terpuji pasti punya kelebihan. Sifat pendiam dan murah senyum adalah salah satu sifat terpuji. Semoga sifat tersebut menjadi akhlak kita.

Bandar Universiti, 11 Mei 2011,
Athirah

6 pemikiran pada “Si Pendiam yang Murah Senyum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s