Dahulukan Makanan Pokok

Sebagai mantan pengguna facebook, saya tidak memungkiri beberapa manfaat ber-FB. Salah satu manfaat yang sangat terasa adalah bisa mendapat banyak faedah ilmu diniyyah dari banyak teman dalam waktu yang cepat. Bayangkan, dalam sehari hampir setiap orang membagi status, catatan, dan tautan yang sarat faedah ilmiah. Ragamnya pun rupa-rupa: akidah, fikih, hadits, tazkiyatun nufus, fatwa ulama, tarbiyatul abna’, hingga rumah tangga.

Sedikit berbagi kenangan masa lalu, ada sebuah pertimbangan yang sangat menguatkan saya untuk berhenti FB-an. Sebatas opini pribadi saya yang boleh jadi Anda terima, Anda debat, bahkan Anda tolak mentah-mentah.

Jadi, begini ceritanya …

Ibarat orang yang kena culture-shock [1], saya jadi kaget-kagetan berinternet. Yang sebelum menikah hanya pada waktu-waktu tertentu saja bersentuhan dengan internet, misalnya untuk mengirim atau membalas surel (e-mail), tiba-tiba saya disuguhkan iming-iming kenikmatan berinternet di depan mata. Ya, suami saya menyediakan fasilitas internet di rumah untuk saya.

Ibarat orang yang dahulu memosisikan internet sebagai “makanan pendamping”, dengan begitu drastis tiba-tiba saya menaikkan status internet sebagai “makanan pokok wajib santap” setiap hari.

Biasanya buka internet kalau pas benar-benar perlu, tiba-tiba berubah menjadikan internet jadi terasa benar-benar diperlukan.

Salah satu produk internet yang membuat saya begitu gelap mata adalah facebook.

Menelaah buku/kitab atau mendengar kajian mestinya jadi opsi utama dalam menuntut ilmu agama ‘kan? Nah, ketika mulai teracuni candu FB, rasanya FB menjadi kebutuhan utama saya dalam menuntut ilmu. Seakan ada metode belajar baru yang saya buat, berbeda dengan nasihat para ulama yang menekankan kita untuk banyak memperkuat dasar dalam mengokohkan pondasi keilmuan, saya lebih banyak clingak-clinguk cari status atau catatan (note) FB kawan yang bagus diambil faedahnya.

Gila ‘kan?

Yalah, jelas gila! Bagaimana mau kokoh dalam pondasi dasar keilmuan jika yang diambil adalah potongan-potongan yang sedianya adalah pendukung tambahan?

Bagaimana mungkin akan kokoh dalam ilmu diniyyah, lah wong isi kitab-kitab level dasar saja belum saya kuasai sepenuhnya. Saya lebih sibuk mencari faedah diniyah dari status/catatan teman-teman FB. Meskipun tidak dipungkiri bahwa cara itu juga ada manfaatnya, tapi pertanyaan besar yang saya ajukan untuk diri saya sendiri waktu itu: sudah seberapa kuat pondasi yang kamu bangun sehingga waktumu habis terbuang-buang meninggikan (atau menghias) bangunan pemahaman ilmiah syar’iyyahmu?

Ibarat menyantap makanan yang diperlukan raga, pasti akan terpilah jenis makanan pokok, makanan pendamping, dan makanan selingan. Habiskan dahulu nasinya baru boleh menikmati ice cream-nya. Habiskan dahulu sayur dan ikannya baru boleh mengicip kuenya.

Waktu itu terbatas. Cepat habis tanpa terasa.

Saking asiknya mencari mutiara-mutiara faedah ilmiah untuk menghiasi bangunan pemahaman ilmiahnya, kita mungkin terlalaikan dari membangun pondasi bangunan tersebut dengan bebatuan kokoh nan tangguh.

Tentunya, mengangkat bebatuan untuk pondasi itu lebih berat ketimbang memungut mutiara-mutiara untuk hiasan. Akan tetapi, logika berbicara; mana mungkin bangunannya akan kokoh kalau pondasinya rapuh … puh … puh?

Memang agak capek dan lama kalau mesti banyak meluangkan waktu untuk membuka kitab-kitab dasar dalam satu bidang keilmuan, namun percayalah Kawan, manfaatnya akan terasa suatu saat nanti. Percayalah!

Sekali lagi, bukannya FB-an itu tak boleh (atau kalau mau lebih “halus bahasanya”: bukannya FB-an itu tak bermanfaat), namun menguatkan pondasi tentu lebih penting untuk diutamakan ketimbang meninggikan bangunan atau menghiasnya. Memakan makanan pokok lebih diperlukan jiwa ketimbang memenuhi hati dengan setumpuk cemilan dan makanan selingan.

Ini berlaku bukan hanya dalam ranah belajar, tetapi juga berlaku ketika harus memilih antara mengerjakan pekerjaan rumah atau FB-an, urun-tenaga tugas dakwah yang masih sepi SDM atau FB-an.

Jangan sampai masakan kita belum siap saat suami pulang dari kantor gara-gara kita sibuk mencari faedah ilmiah dari FB. Jangan sampai kita tega menelantarkan pengembangan dakwah di masyarakat karena kita merasa sudah “sangat sibuk” (padahal selalu punya waktu untuk FB-an setiap hari).

Kalau kita tengok keroposnya pondasi ilmu agama kita, kalau kita tengok letih kawan-kawan yang mengemban dakwah di luar FB [2], kalau kita tengok deretan prioritas tugas dan tanggung-jawab utama kita, marilah sedikit merenung dan sekejap menyepi.

Sekali lagi

Sekali lagi, tiap orang pasti punya pandangan masing-masing, pertimbangan masing-masing, alasan masing-masing, dan pilihan masing-masing. Paparan ini hanya bagian sebuah keputusan akhir yang saya ambil akibat kemunculan dilema masa lalu.

Semoga bisa menjadi bahan renungan bermanfaat untuk kita semua.

P.S.: Tulisan ini hanya ditujukan bagi jiwa-jiwa yang mulai tergoda candu FB. Bagi orang-orang yang tetap bijak dalam ber-FB, tentunya tulisan ini bukan ditujukan untuk mereka

*

Catatan kaki:

  1. [1] Culture shock is the difficulty people have adjusting to a new culture that differs markedly from their own. (http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_shock)
  2. [2] Sudah cukup banyak kaum muslimin yang menjalankan dakwah di FB. Yuk lirik kerja dakwah yang lain yang masih perlu uluran tenaga suka-rela ….

Bandar Universiti, 2 November 2011,
Athirah

Iklan

3 pemikiran pada “Dahulukan Makanan Pokok

  1. aku ga pernah punya akun pesbuk aja ga mutu gini neng, apalagi doyan pesbuk ya? ckckckck…. kumaha atuh neng? kalo pd daftar jd member anti pesbuk, jgn2 si mark zuckerberg tea bangkrut nyak?

    mmmm, tulisanmu byk “menggelitik” dek. pernah baca tulisan di blog abu “x” al “z”, mengupas fenomena pesbuk ini, aku kok setuju ya?! pokoknya pesbuk banyak bikin “cemburu” dah. eh ga cuma pesbuk deng, pokoknya gadget2 terkini itu wes jann… ah, sampe susyah diungkapkan dg kata2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s