Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Cukup lama selang waktu saat aku tak lagi berjumpa dengan Ustadz dan Ustadzah. Aku sibuk dengan sekolah dan kegiatan lain. Saat usiaku menginjak 10 tahun, timbul perasaan bahwa aku sudah dewasa dan tak cocok lagi ikut berkegiatan di TPA, padahal itu opini yang keliru ya ….

Hingga akhirnya usiaku menginjak 16 tahun.

Kulihat salah seorang temanku sibuk komat-kamit sambil membuka-tutup sebuah buku kecil. Saat jam istirahat, kuhampiri dia. Penasaran sekali aku dibuatnya, maka kutanyakan saja apa sih yang sedang dia lakukan.

Dia jelaskan padaku bahwa dia sedang menghafal hadis arba’in. Sore itu dia akan menjalani ujian di tempat ta’allumnya. Pungkasnya, “Menuntut ilmu agama itu wajib.”

Menuntut ilmu agama itu wajib. Menuntut ilmu agama itu wajib,” terngiang bergaungan di benakku.

Bergaungan tapi tak melekat lama, ternyata.

Hingga akhirnya aku berpindah ke kota lain, Jogja, karena sebuah urusan.

Hawa Jogja yang sejuk mengajakku melihat parasnya dari berbagai sudut. Sebelum memijak kaki di Jogja, aku tahu, “Aku cinta kota ini.”

Warga baru perlu beradaptasi. Aku lebih banyak mengamati dibandingkan menyelami. Aku harus hati-hati, karena kota ini belum kuakrabi.

Hingga suatu hari, kulihat orang-orang berjilbab itu tekun sekali duduk tertunduk mendengar suara seorang Ustadz sedang menyampaikan sebuah ulasan. Kupikir, “Apa sumbangsih mereka kepada masyarakat dengan hanya duduk diam seperti itu?”

Hingga suatu hari, aku termakan omonganku sendiri. Aku jadi salah seorang yang duduk di majelis itu. Seperti dahulu kulihat para muslimah itu duduk tertunduk dengan khusyuk, hari ini, aku pun ikut mendengar pelajaran tafsir Alquran, “Oh, ini dia yang dimaksud dengan slogan ‘Alquran sebagai pedoman hidup‘ yang banyak kubaca di buku teks pelajaran Agama Islam waktu SMA.”

Tahukah engkau, pagi itu rasanya aku bahaaaaaaaaaagiiiiiiiaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiiii …. Kalau Archimedes berseru, “Eureka!” maka aku berseru, “Alhamdulillah!”

Tahukah engkau, serasa kutemukan cara memutihkan semua warna abu-abu di dalam hati dan pikiranku. Aku tahu bahwa aku tak lagi perlu menyelami buku-buku filsafat, aku punya sumber motivasi yang jauh lebih hebat daripada 7 Habits of Highly Effective Teens, aku punya bahan bacaan yang nilai sastranya membuatku tak jemu mengulang lafalnya. Aku menemukannya! Aku menemukannya … sungguh!

Hingga akhirnya, lambat laun kawanku bertambah. Di awal, aku banyak mengamati saja, kucermati gerak-gerik mereka, kupelajari pola hidup mereka. Aku yang asing di antara para muslimah bercadar.

Tapi aku tak risau, karena mereka adalah orang-orang yang murah senyum, dan mereka pun sesekali berguyon. Aku aman, tak ada yang perlu dirisaukan.

Kulihat mereka mengelola sebuah ta’lim dengan penuh kesungguhan: ada kepanitiaan, ada ide-ide untuk mengumpulkan dana, ada keakraban. Aku suka semua itu! Sebuah keteraturan.

Tapi, masih ada yang mengganjal. Dan, ini harus disirnakan. Karenanya, kujumpai salah seorang di antara mereka, lalu kutanyai dia sepuasku.

Setelah berpetualang dan langsung merasakan semua yang ditawarkan, kuputuskan bahwa orang-orang bercadar itulah yang paling membuatku nyaman. Aku suka cara mereka mengurai sebuah bahasan; sangat ilmiah. Aku suka prinsip mereka, bahwa segala ibadah mesti berdasar dalil. Aku suka prinsip mereka, bahwa kita boleh saja bertanya kepada Ustadz, “Ustadz, apa dalilnya?” Argumentasi ilmiah mereka membuatku jatuh cinta, sungguh!

Soalnya, aku malas dengan pembicaraan panjang-lebar tapi mbulet, ribet, dan hampa. Kurenungi bahwa kejayaan yang kuimpikan bukanlah berbekal koar-koar yang menjemukan. Aku belajar untuk menjadi manusia yang realistis, mengubah dari yang terkecil, mewujudkan sesuatu sedikit demi sedikit.

Aku bosan melihat sebagian muslim dan muslimah yang menceburkan diri ke dunia politik praktis di bawah usungan bendera partainya. Aku melihat inkonsistensi merayapi mereka saat telah terjun ke sana.

Aku juga tak suka dengan yang kebebasannya kebablasan. Ada juga yang suka-sukanya membuka aib pemimpin, menuntut ini-itu, tapi lupa melihat adakah keberadaannya bermanfaat nyata untuk masyarakat ataukah tidak.

Aku suka mereka yang bercadar, yang rajin menghimpun bekal akhirat, bersumbangsih walau tak tersorot kilap kamera. Aku suka sifat mereka yang argumentatif, dengan standar kebenaran yang sama dan teruji.

Kuputuskan untuk memulai hidup baru bersama mereka yang bercadar.

Bersambung, insya Allah ….

Bandar Universiti, 23 Oktober 2011,
Athirah

Iklan

2 pemikiran pada “Serial Cadar (Bagian 3): Aku Pilih yang Bercadar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s