Tidak Bosan Mengunjunginya: Situs Ustadz Abu Ubaidah

Tentang Kitab (http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-kitab.html/#_ftn10)

MENULIS KITAB, AMALAN UTAMA

Al-Hafizh Ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i mengatakan: “Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama.

Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan sangat di butuhkan oleh manusia, lebih baik lagi bila pembahasan tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, dengan memilih kata-kata yang jelas, tidak terlalu panjang sehingga membosankan dan tidak juga terlalu ringkas sehingga”.(Tadzkirotus Sami’ wal Mutakallim hlm. 54.)

Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:


كَتَبْتُ وَقَدْ أَيْقَنْتُ يَوْمَ كِتَابَتِيْ        بِأَنَّ يَدِيْ تَفْنَى وَيَبْقَى كِتَابُهُ
وَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لاَبُدَّ سَائِلِيْ         فَيَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَا يَكُوْنُ جَوَابُهُ

Ketika saya menulis saya yakin
Bahwa tanganku akan binasa dan tulisanku kekal
Dan saya tahu bahwa Allah pasti menanyakanku
Aduhai, apa nanti jawabannya?

(Al-Ghurar ‘Ala Thurar 2/246,  Muhammad Khair Ramadhan Yusuf.)

KITAB BUKAN BANTAL

Nuaim bin Naim pernah berkata: Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: Apakah seorang boleh meletakkan kitab di bawah kepalanya? Beliau bertanya: Kitap apa? Penanya menjwab: Kitab hadits. Imam Ahmad berkata: Kalau memang dia khawatir untuk dicuri maka boleh, adapun menjadikannya sebagai bantal maka tidak boleh” (Thobaqotul Hanabilah 1/391)

BAGAIMANA MENELAAH KITAB?

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Menelaah kitab terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Menalaah dengan tadabbur (memahami dan menghayati). Hal ini perlu hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

Kedua: Hanya sekedar menelaah saja dengan membaca isi kitab dan pembahasan yang terdapat di dalamnya. Hal ini cukup dengan tela’ah sekilas. Dan cara yang paling utama dalam membaca kitab adalah memahami dan menghayati makna-makna yang terkandung serta meminta bantuan kepada yang mengerti agar dapat memahaminya” (Kitabul Ilmi hlm. 89)

PERPUSTAKAAN KITAB BUKAN DEKOR

Hendaknya bagi kita untuk memiliki sebuah perpustakaan yang berisi kitab-kitab penting yang sangat kita butuhkan. Namun, jangan jadikan perpustakaan kita hanya sekedar sebagai pajangan belaka, tetapi jadikan tujuan kita untuk mengambil faedah dari kitab-kitab tersebut dengan membaca dan menelaahnya.

Sungguh, betapa banyak orang yang memiliki sebuah perpustakaan yang berisi ratusan dan ribuan kitab tetapi dia tidak mengerti tentang isi kitabnya sendiri!!! Ada seorang ulama pernah mengunjungi perpustakan model seperti ini, tetapi setelah dia mengetes pemiliknya ternyata dia tidak pernah membaca dan menelaah kitab-kitabnya sendiri, maka sang alim-pun menyindirnya: “Kitab-kitabmu banyak sekali tetapi airmu sedikit sekali”!!!

Al-Hafizh As-Sakhowi menceritakan bahwa ada seseorang pernah datang kepada Al-Hafizh Al-’Iraqi, memprotesnya tatkala beliau menghukumi suatu hadits dengan palsu padahal hadits tersebut tercantumkan dalam kitab-kitab hadits!! Al-Hafizh Al-’Iraqi akhirnya meminta kepadanya untuk menghadirkan kitab tersebut untuk dikoreksi. Lelaki itupun pergi untuk mengambil kitabnya, ternyata kitab yang dibawanya adalah kitab yang khusus mencantumkan hadits-hadits palsu yaitu Al-Mau’dhu’at oleh Ibnul Jauzi. (Fathul Mughits 1/294. Lihat pula Min Buthunil Kutub 1/17 oleh Yusuf al-’Atiq dan Ma’alim fi Thoriq Tholabil Ilmi hlm. 179 oleh Abdul Aziz As-Sadhan)

Tentang Wanita (http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-wanita.html/)

WANITA JUGA MEMBUTUHKAN ILMU

Al-Hafizh Ibnul Jauzi pernah mengeluhkan keadaan para wanita pada zamannya, katanya: “Berapa kali kuanjurkan kepada manusia agar mereka menuntut ilmu syar’I, karena ilmu laksana cahaya yang menyinari. Menurutku kaum wanita lebih dianjurkan dari kaum lelaki, karena jauhnya mereka dari ilmu agama, dan hawa nafsu begitu mengakar pada mereka. Kita lihat seorang putrid yang tumbuh besar tidak mengerti tata cara bersuci dari haidh, tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan tidak mengerti rukun-rukun Islam atau kewajiban istri terhadap suami, akhirnya mereka mengambil harta suami tanpa izinnya, menipu suami dengan anggapan boleh demi keharmonisan rumah tangga serta musbibah-musibah lainnya”. (Imam Ibnu Baz Durusun wa ‘Ibar Abdul Aziz as-Sadhan hal. 49.)

Ini pada zaman Ibnul Jauzi, lantas bagaimana kiranya beliau mendapati wanita zaman kita? Betapa banyak para wanita zaman sekarang yang begitu mengerti tentang kehidupan par artis, pemain film secara detail, tetapi dia tidak mengerti tentang hukum darah haidh.

HUMOR WANITA

Al-Jahizh berkata: “Aku pernah melihat seorang wanita yang tinggi sekali, waktu itu aku sedang makan, aku ingin mencandainya maka kukatakan padanya: “Turunlah, mari kita makan bersama”. Tidak tahunya, dia malah menjawab: “Hee, kamu saja yang naik, biar kamu bisa melihat indahnya dunia…

Seorang wanita mak comblang pernah datang kepada seorang pria, katanya: “Aku punya seorang wanita seperti pohon bunga narsis, apakah kamu punya minat? Tatkala “hari h”-nya, ternyata wanita itu nenek tua yang jelek rupanya. Pria itu berkata pada mak comblang: “Kamu telah menipuku!!”. Wanita itu menjawab: “Demi Allah, saya tidak menipumu, saya katakan  bahwa dia seperti pohon bunga narsis karena rambutnya putih, wajahnya kuning, dan betisnya hijau…

Abu Hanifah berkata: Seorang wanita pernah menipuku, dia memberikan isyarat padaku kepada sebuah kantong yang jatuh di jalan, saya kira kantong itu miliknya, maka akupun mengambil dan membawanya kepada wanita tersebut. Ternyata, setelah dekat, dia mengatakan padaku: “Tolong ya, jaga kantong ini sampai pemiliknya datang… (Kisah-kisah ini dibawakan oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Akhbar Zhirof wal Mutamajinin hlm. 154, 157, 160.)

*

Itulah sedikit bagian yang membuat seseorang akan jatuh hati pada situs Ustadz Abu Ubaidah: www.abiubaidah.com. Bagian lain yang tak kalah menarik di situs beliau tersebut adalah persoalan takhrij hadits dan kandungan fikih hadits.

Tahukah Anda, bagaimana sebenarnya perjalanan hidup Ustadz Abu Ubaidah hingga menempuh jalan seorang pejuang di atas sunah?

*

A. Nama dan kelahiran (http://abiubaidah.com/about/)

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi. Nama kunyah beliau adalah Abu Ubaidah. Beliau dilahirkan di desa Srowo, kecamatan Sidayu, kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tanggal 17 Mei 1983. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana.

B. Pertumbuhan beliau

Ketika Ustadz Abu Ubaidah berusia tujuh tahun, di saat beliau duduk di kelas dua MI (Madrasah Ibtidaiyyah), ayah beliau meninggal dunia secara mendadak karena sakit yang beliau derita –semoga Allah merahmatinya-. Setelah itu, Ustadz Abu Ubaidah diasuh oleh ibu dan saudara-saudari beliau.

Beliau menceritakan bahwa ketika kecil, beliau pernah ditanya tentang cita-cita hidup beliau. Sebagaimana layaknya anak-anak kecil lainnya, beliau menjawab, “Aku ingin menjadi dokter”. Ya Allah, mudah-mudahan cita-cita beliau tidak meleset karena di saat beliau dewasa, beliau menuliskan untaian kata,

“Aku ingin menjadi dokter hati dan penyakit yang menimpa umat”.

Kami (admin-ed) katakan, “Ya Allah, kabulkanlah…”

C. Awal Mula Perjalanan Menuntut Ilmu

Awal mula perjalanan ustadz Abu Ubaidah dalam menuntut ilmu syar’i, dimulai dari sebuah Program Anak Yatim yang dikelola oleh Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron (yang kini menjadi mertua beliau). Setiap malam Jum’at, beliau dan beberapa anak Yatim satu desa setoran hafalan Al-Qur’an dan hadits Arbain Nawawi, serta belajar Kitab Tauhid, Bulughul Marom dan kitab-kitab lainnya.

Beliau mengikuti program ini kurang lebih antara tiga sampai empat tahun. Setelah beliau lulus MI, beliau diminta oleh al-Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufran untuk sekolah di pesantren yang diasuhnya yang ada di desa beliau sendiri, yaitu Ma’had Al Furqon Islami.

Dalam risalahnya, Ustadz Abu Ubaidah menceritakan,

“Awalnya aku berpikir: “Untuk apa mondok, entar mau jadi apa?”

Namun alhamdulillah, berkat hidayah Allah, kemudian dukungan keluarga dan teman-teman serta tetangga, akhirnya beliau setuju juga untuk mondok.”

Beliau juga menceritakan saat-saat belajar di ma’had,

“Terus terang, awalnya saya hanya sekedar ikut-ikutan sekolah begitu saja tanpa arah dan niat yang jelas. Namun alhamdulillah dengan berjalannya waktu, aku merasakan nikmatnya mempelajari ilmu agama Islam sehingga 6 tahun lamanya, aku lalui studi di pesantren hingga selesai. Sungguh dari pesantren inilah aku mengenal ilmu dan agama yang sebenarnya. Dari pesantren inilah aku membaca, menghafal dan mengenal kitab-kitab para ulama, dari pesantren inilah aku mendapatkan banyak wawasan, teman dan pengalaman. Sungguh betapa indahnya hari-hari itu. ingin rasanya aku kembali menikmatinya!!. Semoga Allah membalas kebaikan kepada para guru yang telah mengajariku.”

Kemudian setelah lulus dari pesantren, beliau mengabdi dan mengajar di pesantren selama sekitar 2 tahun sambil mengembangkan bekal ilmu yang sudah beliau miliki. Di saat itu pula, beliau belajar berdakwah secara lisan dan tulisan.

Keinginan Ustadz Abu Ubaidah untuk menuntut ilmu langsung dengan para masyaikh ahlus-sunnah sangatlah besar. Beliau senantiasa berdoa, memohon kepada Allah dengan terus menerus agar dapat melakukan rihlah (perjalanan) dalam menuntut ilmu syar’i. Beliau berkata,

“Di sini (di Ma’had Al-Furqon-ed), aku merasakan lezatnya ilmu dan merasa bahwa ilmuku sangat minim sekali. Maka, saya berkeinginan kuat dan bersemangat tinggi untuk melanjutkan tholabul ilmi (perjalanan menuntut ilmu) ke luar Negeri dengan selalu berdoa kepada Allah terus menerus.”

Baarakallah fiikum ya Ustadz. Sesungguhnya kami mencintaimu karena Allah.

F. Belajar di Markaz Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Alhamdulillah, Allah mengabulkann doa beliau sehingga Allah memudahkannya untuk belajar di Markaz Syaikh Ibnu Utsaimin di Unaizah, Qoshim, Saudi Arabia. Belau belajar langsung dengan para masayikh, yang merupakan menantu dan murid-murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin,yaitu:

  1. Syaikh Dr. Sami Muhammad, beliau adalah menantu Syaikh Ibnu Utsaimin dan Imam Jami’ Ibnu Utsaimin. Ustadz Abu Ubaidah banyak belajar dari beliau fiqih, ushul fiqih dan qowaid fiqih, seperti kitab Zadul Mustaqni, Ar-Roudhul Murbi’, Al-Kafii, Zadul Ma’ad, Qowaid Ibnu Rojab, Al-Qowaid wal Ushul, Al-Ushul Min Ilmil Ushul, Umdatul Ahkam, Bulughul Marom dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya yang tidak bisa disebut semua, terutama risalah-risalah Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh as-Sa’di yang dipelajari saat liburan sekolah.
  2. Syaikh Dr. Khalid al-Mushlih, beliau juga menantu Syaikh Ibnu Utsaimin, saya banyak belajar dari beliau aqidah, tafsir, fiqih nawazil dan adab/tazkiyah, seperti tsalatsal ushul, kasyfu syubuhat, kitab tauhid, aqidah salaf, al-Iqtishod, al-Hamawiyah, Aqidah Ibni Abi Dawud, Al-Iqtishod fil I’tiqod, Tajrid Tauhid, Fiqhu Nawazil karya beliau sendiri, Tafsi as-Sa’di, Adab Syar’iyyah dan kebanyakan risalah imam Ibnu Rojab.
  3. Syaikh Dr. Abdur Rahman bin Shalih ad-Dahsy. Beliau adalah murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin dan seorang yang sangat memiliki akhlak yang indah. Ustadz Abu Ubaidah banyak belajar dari beliau tentang ilmu Tafsir, bahasa, hadits dan Siroh. Di antara kitab yang dipelajarinya ialah Tafsir Jalalain, Shohih Bukhori dan Muslim, Umdatul Ahkam, Al-Ajurrumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, al-Qowaid Tsalatsun, al-Fushul i Sirotir Rasul dan lain sebagainya.

Ustadz Abu Ubaidah juga banyak mengambil faedah dengan melihat langsung praktek nyata akhlak mulia yang diterapkan oleh para masayikh dan ulama sunnah di sana, demikian juga cara penyampaian dan pengajaran ilmu yang bagus, tersusun, berbobot dan mudah difahami.

Di samping itu, beliau juga mendapatkan faedah dari keberadaan beliau  di sana, dengan dapat menunikan ibadah haji dan umroh berkali-kali dan bertemu para ulama sunnah seperti:

1. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh,

Beliau adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabia sekarang ini.

2. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad,

Beliau adalah salah satu ahli hadits besar yang tersisa di masa ini. Beliau pernah menjabat sebagai rektor Universitas Islam Madinah menggantikan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Sekarang, beliau menjadi guru besar ilmu hadits di Masjid Nabawi Madinah Saudi Arabia.

3. Syaikh Shalih al-Fauzan

Beliau adalah ulama besar, anggota Ha’iah Kibarul Ulama Saudi Arabia. Beliau mengisi tiga kali muhadharah di Jami’ Ibnu Utsaimin selama Ustadz Abu Ubaidah masih di sana),

4. Syaikh Shalih al-Luhaidan

Beliau adalah mantan Ketua Mahkamah Syari’at di Saudi Arabia. Beliau mengisi di Jami’ Ibnu Utsaimin dua kali selama ustadz Abu Ubaidah masih di sana.

5. Syaikh Sa’ad asy-Syatsri

Beliau adalah anggota Lajnah Daimah. Beliau mengisi di Jami Ibnu Utsaimin sekali selama Ustadz Abu Ubaidah masih di sana.

6. Dan masih banyak para masyaikh yang lain.

Pengajaran para masyaikh demikian membekas di hati ustadz Abu Ubaidah sehingga beliau pernah berkata,

“Semoga Allah membalas kebaikan kepada para masayikh di sana yang banyak memberikan faedah kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang bersyukur atas segala nikmatMu yang banyak kepada hambaMu yang lemah dan banyak berdosa ini.”

Masya Allah ya ustaadz.. Semoga Allah juga membalas kebaikan Antum kepada kami.

Ustadz Abu Ubaidah belajar di Markaz Ibnu Utsaimin kurang lebih empat tahun lamanya. Belum lama Ustadz Abu Ubaidah pulang ke Indonesia (beberapa bulan sebelum saya tulis risalah ini). Begitu saya mendengar ustadz Abu Ubaidah selesai studi di Unaizah, saya langsung “menembak” beliau untuk mengisi kajian umum di Yogyakarta. Na’am, alhamdulillah kajian itu terlaksana pada 21 Mei 2009 di Masjid Pogung Raya, dengan tema Menjaga Diri dari Fitnah Syubhat dan Syahwat.

G. Berdakwah Dengan Tulisan

Di sela-sela perjalanan beliau  menuntut ilmu, beliau meluangkan waktu untuk berdakwah dengan tulisan sehingga al-hamdulillah hingga saat ini beliau sudah menulis beberapa buku sebagai berikut:semoga Allah meneguhkan perjuanganmu, wahai ustadz…

I. Buku yang Tidak Tercetak

Buku yang pertama kali beliau tulis adalah Al-Wajiz Fii Aqidah Salaf Ashabil Hadits, yang diberi kata pengantar oleh Al-Ustadz Al-Fadhil Aunur Rafiq Ghufron. Buku ini beliau tulis dalam bahasa Arab pada tanggal 8/2/1424 H. Beliau ketik sendiri buku tersebut lalu beliau harokati satu-satu persatu, lalu beliau cetak sendiri. Kemudian, beliau jadikan sebagai panduan jama’ah pengajian beliau di Masjid Jihad Gresik.

II. Buku yang tercetak

  • Syaikh Albani Dihujat, cet Pustaka Abdullah Jakarta dan sekarang dicetak ulang oleh Salwa Press Tasikmalaya. Ini adalah buku pertama beliau yang diberi kata pengantar oleh para ustadz mulia, yaitu; Ustadz Abu Auf As-Salafy Abdur Rahman at-Tamimi, Ustadz Aunur Rafiq, Ustadz Abdul Hakim Abdat, Ustadz Mubarok Ba Muallim
  • Meluruskan Sejarah Wahhabi, cet Pustaka Alfurqon
  • Membela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, cet. Salwa Press
  • Hadiah Istimewa Untuk Si Buah Hati, cet Media Tarbiyah
  • Waspada Terhadap Kisah-Kisah Tak Nyata, cet Alfurqon
  • Hadits Dhoif Populer, cet Media Tarbiyah
  • Dimana Allah? Cet Media tarbiyahPolemik Perayaan Maulid Nabi, cet Pustaka Nabawi
  • Bangga Dengan Jenggot, cet Pustaka Nabawi
  • Demonstrasi, Solusi Atau Polusi? Cet Darul Ilmi

Ustadz Abu Ubaidah juga menulis buku bersama shahabat beliau, Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa Al-Atsari (ketika risalah ini saya tulis, beliau masih di Markaz Syaikh Ibnu Utsaimin Unaizah Saudi). Buku-buku tersebut adalah:

  • Bekal Safar Menurut Sunnah, cet. Media Tarbiyah
  • Agar Ziarah Kubur Membawa Berkah, cet. Media Tarbiyah
  • Fiqih Praktis Makanan, cet. Pustaka Al-Furqon
  • Amalan Sunnah Bulan Hijriyah, cet. Darul Ilmi

III. Buku-Buku yang akan terbit

Di antara beberapa buku yang insyallah sebentar lagi akan terbit adalah:

  • Adakah Siksa Kubur? Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Darul Ilmi
  • Panduan Praktis Adzan dan Iqomat. Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Darul Ilmi
  • Pengeboman, Jihad atau Terorisme? Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Pustaka Al Furqon

Ya Ustaadz, kami berdoa kepada Allah agar senantiasa menjadikan Anda ikhlas dalam beramal dan menjadikan tulisan-tulisan Anda bermanfaat bagi semua hamba-Nya, di manapun berada.

Demikianlah biografi singkat Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi. Semoga perjalanan beliau dalam menuntut ilmu dapat memberi faidah bagi kita. Di akhir risalah biografi asli beliau, Ustadz Abu Ubaidah di menuliskan untaian kata, yang beliau tujukan kepada kita semua, para pembaca blog ini. Beliau menyampaikan,

“Doa para pembaca semua sangat kami harapkan agar kami tetap di atas jalan yang lurus dan kelak menjadi penduduk surga yang penuh dengan kenikmatan.”

F. Di antara Untaian Nasehat Beliau

Ada banyak untaian faidah yang saya petik dari tulisan-tulisan beliau di majalah Al-Furqon, buku-buku beliau, dari lisan beliau, maupun dari akhlak beliau. Namun, karena khawatir tulisan ini jadi terlalu panjang, dan biografi ustadz yang ditunggu-tunggu pembaca tidak segera dimuat di blog beliau, saya tuliskan empat saja pelajaran yang saya petik dari beliau, yaitu:

1. Jangan Remehkan Faidah

Beliau menasehati kita untuk tidak menyepelekan mencatatan faidah ilmiah. Beliau berkata,

“Jangan sekaali-kali menganggap sepele sebuah faidah, karena satu faedah diremehkan… kemudian diremehkan… kemudian diremehkan…; kalau dikumpulkan, maka akan terkumpul banyak sekali.”

2. Jagalah Ilmu dengan Tulisan

Di antara nasehat beliau (ditulis ketika beliau menyusun Muqaddimah rubrik Al-Fawa’id Majalah Al-Furqon),

Tulisan sangat penting untuk menjaaga ilmu, lebih meresap dalam hafalan, memudahkan kita untuk membaca ulang terutama apabila dibutuhkan, bisa dibawa ke sana kemari, dan sebagainya. Betapa seringnya seorang yang menyepelekan sebuah faedah karena mengandalkan hafalannya seraya mengatakan, “Ah, gampang… Insya Allah saya tidak lupa”; akhirnya dia lupa dan berangan-angan aduhai sekiranya dahulu ia menulisnya.

3. Beliau memberi nasehat untuk senantiasa menjauhi kebiasaan plagiat dan mendorong kita untuk menghargai jasa orang lain. Beliau berkata,

Terkadang kita mendapatkan sebuah faedah berharga dari seorang kawan yang telah bersusah payah mendapatkannya, tetapi setelaah itu kita menasabkannya kepada diri kita tanpa mengingat jerih payah saudara kita. Jangan, sekali-kali jangan! Hindarilah perangai jelek ini. Hargailah jasa orang lain padamu! Semoga Allah memberkahi ilmumu.

4. Ulangi Terus Apa yang Telah Kau Pelajari

Apabila Anda telah memiliki buku yang menghimpun masalah-masalah penting ini, maka seringlah Anda membacanya bekali-kali, baik dengaan diajarkan kepada oang lain secara lisan atau tulisan, atau sekadar dibaca sendiri, karena ilmu apabila tidak sering diulang-ulang, maka lambat laun akan pudar dari ingatan.

*

Memang tidak sia-sia kita sering berkunjung ke beranda maya seorang salih lagi faqih ….

Bandar Universiti, 13 September 2011,
Athirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s