Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Mustahil Belajar?

Dalam sebuah majelis, di balik hijab, seorang Ustadz menyebutkan satu per satu nama santri. Sampai ketika nama seseorang disebutkan, para santri menjawab, “Ghaibah, Ustadz (Tidak hadir, Ustadz).”

Apa komentar Ustadz? “Masyghulah, al-an (Sudah sibuk sekarang). Makanya, selagi masih ada kesempatan, belajarlah. Kalau sudah menikah, yang namanya pekerjaan rumah tangga itu enggak ada habisnya.”

Santri yang tidak hadir itu baru saja menikah. Biasanya, beliau termasuk santri yang paling rajin datang kajian. Meskipun rumah beliau jauh, dan sering kali beliau mesti melayani orang tua beliau dahulu (yang sudah berumur 60-an tahun) lalu berangkat kajian, semangatnya yang selalu ada membuat santri lain juga ikut ketularan semangat.

Untuk para ibu yang dahulunya, semasa melajang, bisa ke majelis ilmu mana pun, sekarang mesti pilah-pilih jadwal kajian yang bisa dihadiri. Mulai dari mempertimbangkan “siapa yang ngantar?”, “pekerjaan rumah udah beres/belum?”, “gimana ya supaya anak-anak nanti enggak rewel?”, sampai “kajiannya ini boleh didatangin ummahat yang bawa anak enggak ya?”

Akan tetapi, sebenarnya, tidak sesulit itu untuk belajar. Mungkin karena tolak ukur “standar” yang dipakai adalah “masa melajang”, jadinya serasa merana setelah menikah, apalagi ketika sudah punya anak. “Sekarang, mau datang kajian susah.” “Sekarang, mau baca buku susah.”

Coba kalau “standar”-nya disesuaikan dengan kondisi sekarang, insya Allah enggak akan sedih sampai segitunya.

Semua itu bisa diakali, insya Allah

Pada umumnya, ibu zaman sekarang ini punya tingkat kecerdasan jempolan. Buktinya, di sela kesibukan mengurus rumah, banyak juga ibu yang bisa tetap belajar, berdakwah, dan mengembangkan keterampilan diri. Ini teori? Bukan! Sudah terbukti! Insya Allah, kita akan lihat kisah salah satu muslimah jempolan, di bawah nanti.

Sebelumnya, kita uraikan dahulu cara mengakali kondisi umum para ibu, supaya para ibu tersebut bisa tetap punya waktu memadai untuk belajar, berdakwah, dan mengembangkan keterampilan diri. Tetapi, sekali lagi, perlu diingat: tolak ukur yang kita gunakan adalah “kondisi umum para ibu”, bukan “kondisi umum muslimah lajang”.

1. Negosiasi dengan suami.

Bagaimana pun, yang namanya belajar perlu alokasi waktu tersendiri. Maka, bernegosiasi dengan suami adalah salah satu cara yang paling penting untuk ditempuh.

Anda yang tentunya lebih tahu hal yang bisa menjadi materi negosiasi. Apakah “tak perlu masak, beli di warung aja”, “hari ini rumah enggak perlu dipel, cukup disapu aja”, “suami yang mandiin anak”, atau kemungkinan lain yang lebih Anda ketahui.

2. Kerjakan secara efektif dan efisien.

Buatlah jadwal kegiatan yang harus dilakukan seharian. Fungsinya, kita bisa tahu prioritas kegiatan. Pekerjaan yang wajib, semaksimal mungkin diselesaikan. Adapun pekerjaan yang sekiranya masih bisa dikerjakan besok, dan ternyata memang belum bisa diselesaikan hari ini, bisa dimasukkan ke daftar pekerjaan esok hari.

Pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan, bisa diprediksi sejak awal. Karenanya, ketika dihadapkan dengan pekerjaan rumah tangga yang bertumpuk, insya Allah banyak trik yang bisa ditempuh. Misalnya, sebelum subuh sudah merendam pakaian untuk dicuci, pas shalat subuh sekalian masak air dan masak nasi. Setelah shalat, menyiapkan bumbu masakan. Untuk gorengan atau makanan rebus, sambil menunggu matangnya, kita bisa menyapu dan mengepel. Kalau air sudah matang, buatkan teh atau susu untuk suami (lumayan buat ganjal perut sambil nunggu sarapan matang). Kalau ternyata anak-anak sudah bangun, lihat dulu kondisinya, apakah harus langsung mandi atau si anak ingin main-main dulu sebentar. Dan seterusnya ………

Mudah-mudahan, dengan trik ini, tugas rumah tangga kita tetap bisa selesai dengan apik.

3. Tetap berhubungan dengan teman-teman yang bisa menyemangati.

Berhubungan, bergaul, berkomunikasi dengan sesama ibu lain tidak identik dengan gosip atau pekerjaan sia-sia. Untuk Anda, para ibu jempolan, berhubungan dengan teman-teman, yang bisa menyemangati kita untuk tetap istiqamah dalam belajar, merupakan salah satu suplemen penting untuk menjaga kebugaran semangat. Sesekali berjumpa, chatting, atau berkirim sms dengan sesama ibu bisa menyuguhkan semangat baru yang lebih segar dan biasanya akan disertai tambahan pengetahuan baru yang sarat faedah.

Kegiatan semacam masak bersama, latihan merajut dan menyulam, atau kelas pelatihan pendidikan anak, adalah beberapa contoh kegiatan lain yang tak kalah bermanfaat.

4. Langsung amalkan, bagikan, ajarkan.

Setelah mendapat ilmu dari kajian atau buku, langsung amalkan, bagikan, juga ajarkan. Bukan berarti para ibu mesti mengadakan pengajian di rumahnya. Maksudnya, jadikan ilmu tadi sebagai bahan diskusi dengan suami dan anak (kalau memungkinkan). Ilmu itu juga bisa diajarkan kepada anak. Beberapa cara menguatkan ilmu: mengamalkan, mengulang-ulang, menghafal, dan mengajarkan.

5. Senjata andalan seorang mukminah: doa!

Sebagai senjata andalan, doa memang selalu harus ada. Berdoa kepada Allah untuk memberi kita ilmu agama yang bermanfaat, ilmu yang berkah. Meski sekarang kita hanya bisa mendapat beberapa lembar ilmu, bukan lagi bertumpuk-tumpuk, tetapi jika Allah mengaruniakan keberkahan di dalam ilmu itu, niscaya kebaikannya akan menetap, bahkan terus bertambah.

Doa juga kita panjatkan agar Allah berkenan memberi kekuatan dan kemudahan bagi kita untuk mencari ilmu agama. Juga agar kerja keras dan kerja cerdas kita di dalam rumah, meski terkesan kecil dalam pandangan mata, semoga bernilai pahala besar di sisi Allah.

Doa juga kita panjatkan agar Allah menjauhkan kita dari sedih ketika ada harapan atau tujuan yang belum bisa terpenuhi saat ini.

Ilmu dicari sebagai bekal perjalanan setelah kehidupan dunia. Ibu-rumah-tangga-biasa ‘kan juga tetap pengen masuk surga dan tidak tersentuh sama sekali oleh api neraka. Kesempatan masuk surga itu terbuka bagi siapa saja, bukan? Dan kemungkinan masuk neraka juga ada bagi siapa saja, bukan?

Sudah terbukti, loh …

Seperti yang dijanjikan di awal, penutup manis bincang-bincang kita ini adalah kisah seorang da’iyah yang berhasil mendidik anak-anaknya, plus berhasil menjadi salah seorang muslimah berilmu di bumi Nusantara.

Cerita ini saya dapat dari dua orang teman. Tentang seorang ibu dengan beberapa orang anak (Maaf, saya lupa anaknya berapa. Mungkin empat atau lebih.) Suami ibu ini adalah seorang Ustadz dan pengelola ponpes di daerah Jawa Tengah. Si Ibu merupakan salah seorang ahli falaq* yang terkenal. Kata teman saya yang bercerita itu, di Indonesia, jarang ada ahli falaq, apalagi seorang wanita.

Sebagai seseorang dengan ilmu agama yang tak sedikit, bukan cuma ilmu falaq, Ibu ini mengisi kajian untuk muslimah para hari Ahad, seharian penuh. Waktu luang beliau untuk mengisi kajian muslimah memang hanya di hari Ahad. Untuk selain hari itu, waktu beliau didedikasikan sepenuhnya untuk mendidik anak-anak beliau, dengan jalur homeschooling. Pagi sampai malam di hari Senin–Sabtu, dipenuhi kegiatan mengajar anak-anak beliau sendiri. Kalau ada ilmu umum yang tidak beliau kuasai, beliau akan memanggil guru privat ke rumah.

Makanya, jangan heran kalau anak tertua beliau sudah piawai dalam ilmu agama dalam usia belia (seusia anak SD). Bahkan, dari segi keilmuan, anak ini sudah pantas mengisi pengajian ibu-ibu. Tetapi, karena masih punya sifat khas kanak-kanak, anak ini diberikan amanah untuk mengisi pengajian sesama anak-anak.

Catatan mengagumkan lainnya, beliau masak sendiri dan mengurus rumah. Terkadang, beliau membaca buku sambil mendampingi anaknya yang sedang memasak. Sebelumnya, bumbu sudah beliau siapkan. Bagus juga ya, supaya anaknya belajar masak sejak muda.

Perawatan tubuh? Jangan salah, beliau juga rajin luluran dan mengonsumsi thibbun nabawi. Saat kondisi badan menurun, terkadang beliau dibekam. Menurut teman saya yang menceritakan kisah ini, ibu tadi memang terlihat tetap segar meskipun kegiatannya tadi udah seabrek-brek-brek.

Nah, bagaimana Ibu-ibu?

إحرصي على ما ينفعك واستعني بالله ولا تعجزي

“Bersemangatlah menjalani segala sesuatu yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

Bandar Universiti, 5 Juli 2011,
Athirah

 

==
*) Falak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (http://id.wikipedia.org/wiki/Falak)

Falak ( Arab = الفلك ) secara bahasa (etimologi) berarti orbit atau lintasan benda-benda langit.

Ilmu Falak

Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit-khususnya bumi, bulan, dan matahari-pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi.

Ilmu Falak disebut juga ilmu hisab, karena ilmu ini menggunakan perhitungan ( الحساب =perhitungan). Ilmu Falak disebut juga ilmu rashd, karena ilmu ini memerlukan pengamatan ( الرصد =pengamatan). Ilmu Falak disebut juga ilmu miqat, karena ilmu ini mempelajari tentang batas-batas waktu ( الميقات =batas-batas waktu). Ilmu Falak disebut juga ilmu haiah, karena ilmu ini mempelajari keadaan benda-benda langit ( الهيئة = keadaan).

Ruang Lingkup

Ilmu Falak pada garis besarnya dibagi menjadi dua macam, yaitu ilmu Falak Ilmiy, dan ilmu Falak Amaliy. Ilmu Falak Ilmiy disebut juga Theoritical Astronomy. Ilmu Falak Amaliy disebut juga Practical Astronomy. Ilmu Falak Amaliy inilah yang oleh masyarakat disebut sebagai ilmu Falak atau Ilmu Hisab.

Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam Islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah, sehingga pada umumnya ilmu Falak ini mempelajari 4 bidang, yakni:
1. Arah Kiblat dan bayangan arah kiblat.
2. Waktu-waktu Salat.
3. Awal bulan.
4. Gerhana.

15 pemikiran pada “Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Mustahil Belajar?

  1. siapakah dia?
    siapapun dia smoga Allah menjadikan kita termasuk golongan wanita penduduk surga dengan sebab amalan kita didunia meskipun hanya amalan ibu rumah tangga…(karena ana bukan ahli ilmu bkn pula penuntut ilmu yg baik tp ana mencintai mreka insyaallah…)

    1. kalau mba umi inget kajian wisma rosis tiap jumat, insyaalloh mba tahu siapa ummahat ini ^^

      saya dapat ceritanya dari mba emi dan mba laras.. mba emi biasa bekam beliau, kl mba laras pernah berkunjung ke kota tempat tinggal beliau …

  2. masya Alloh..semoga kita para ibu dimudahkan untuk meneladani beliau dalam keadaan bagaimanapun kondisi kita..tetap belajar, beramal, dan berdakwah..
    baru nemuin blog ini mb.bagaimana kabarnya?

  3. alhamdulillah mb, saya sekeluarga juga baik..lama ya mb tidak saling tahu kabar..blog ini obatnya insyaalloh..oiya ada buku mb yang masih ada ditempatku lho mb..afwan dulu mau ngembaliin udah sama sama jauh..judulnya air mata iman.apa kukirim aj ya mb?

  4. Subhanallah, ingin sekali seperti beliau yang tetap istiqamah mendakwahkan agama Allah tanpa lepas kewajiban sebagai ibu rumah tangga.. semoga Allah menjadikan aku seperti beliau

  5. Pekerjaan Ibu Rumah Tangga itu bukan “Hanya Ibu Rumah Tangga”. pekerjaan ini sangat mulia. setelah sekolah, kuliah (sambil bekerja), sampai lulus n bekerja di lembaga resmi, justru inilah cita-cita terakhir saya: jadi Ibu Rumah Tangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s