Cerita Seorang Anak TPA

Suatu hari, orang tua saya berkata bahwa saya dan adik saya akan berpindah tempat belajar mengaji. Biasanya, kami belajar mengaji di masjid dekat rumah. Pada umumnya, anak-anak seusia kami juga belajar mengaji di sana, dengan metode yang lazim dipakai saat itu, yaitu mengenal huruf hijaiyyah lalu belajar membaca juz’ amma.

Bapak dan Mama mendapat kabar bahwa ada seorang guru mengaji di sekitar rumah kami. Kata orang-orang, cara mengajarnya bagus. Bapak dan Mama pun tertarik untuk mengantarkan saya dan Adik ke sana.

Terbukti! Memang cara mengajar ustazah tersebut bagus sekali, subhanallah. Pelajaran pertama, membaca jilid 1 buku Iqra’. Setelah lulus dari jilid 1, berlanjut ke jilid selanjutnya.

Itulah awal jalan saya belajar di sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Berbekal info dari Sang Ustazah, Bapak dan Mama memindahkan kami ke sebuah TPA. Pas sekali, orang tua si pengelola TPA adalah orang yang sekampung dengan Bapak. Jadilah, Bapak dan Mama memercayakan pendidikan baca Alquran, hafalan doa, dan adab untuk kami kepada para ustaz dan ustazah di TPA tersebut.

Diajari tajwid

Di TPA tersebut, kami diajari tajwid. Dengan buku Iqra’, perkembangan kami tumbuh bertahap. Walau dalam Islam, memukul dalam rangka pendidikan itu tidak terlarang (misalnya: memukul anak yang sudah tamyiz jika dia menolak untuk shalat meski sudah dinasihati berkali-kali), Ustaz dan Ustazah tidak pernah memukul kami. Cukup dengan peringatan, kami akan menurut. Anak-anak yang lain pun seperti itu.

Diajari doa

Kami juga diajari doa-doa. Salah satu kenangan manis hingga dewasa, adalah hafalan doa setelah tasyahud akhir.

حديث أبي هريرة مرفوعا إذا فرغ أحدكم من التشهد الأخير فليتعوذ بالله من اربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر فتنة المسيح الدجال رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي

“Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu’, ‘Jika salah seorang dari kalian selesai bertasyahud akhir maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal: dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan serta kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.'” (Diriwayatkan oleh Al-Jam’ah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Al-Irwa’ Al-Ghalil, juz 1, hlm. 70)

Diajari adab

Sebagaimana anak-anak yang lain, kami juga diajari adab makan, minum, keluar rumah, dan lain-lain. Ada satu lagi adab lain yang kami pelajari secara “tidak langsung”. Sebuah adab yang langsung dicontohkan oleh Ustaz dan Ustazah, adab berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Dalam hari yang sama, Ustaz dan Ustazah tidak akan mengajar bersamaan. Hari Senin, para Ustaz yang mengajar. Hari Selasa, para Ustazah yang mengajar. Berselang-seling, pada hari yang berbeda.

Kalau para pengajar TPA perlu mengadakan rapat, santri-santri TPA akan dipulangkan lebih awal. Para santri, yang sedang menunggu jemputan masing-masing, akan senang sekali berjalan dari sisi Ustaz, kemudian ke sisi Ustazah. Ya, mereka sedang rapat dengan diantarai pembatas. Jika Ustazah ingin menyampaikan pendapat, Ustazah akan mengetuk tabir kayu itu. Untuk anak kecil yang belum pernah melihat kegiatan semacam ini, rapat dengan dibatasi hijab memang terlihat unik dan menarik.

Jilbab Ustazah dan celana Ustaz

Di sebuah sore, para santri sedang menunggu kedatangan pengajar. Sambil menunggu, kami bercerita dengan gaya khas anak-anak, tentang penculikan para muslimah oleh sekawanan ninja.

Setelah dewasa, saya baru mengerti desas-desus itu. Ustazah-ustazah kami, yang sudah berani berjilbab besar di saat pemerintah masih sulit berkompromi dengan pengenaan jilbab oleh para muslimah, telah menjadi buah bibir masyarakat luas.

Selain jilbab Ustazah yang besar, ujung celana para Ustaz juga sudah berada di atas mata kaki dan para Ustaz juga berjenggot.

Mebel dan cerita tentang bintang

Muamalah yang baik, sikap yang santun dan ramah dari para pengajar TPA, membuat orang tua para santri tetap percaya dengan para Ustaz dan Ustazah yang menyebarkan sunah* di tengah keawaman umat Islam saat itu. Meskipun sebagian berita miring menerpa mereka, TPA tetap berjalan. Toh, para pengajar TPA tidak mengajarkan ajaran sesat. Justru, mereka datang membawa cahaya baru untuk manusia belia yang memerlukan pondasi Islam yang sahih.

Para orang tua memandang Ustaz dan Ustazah sebagai manusia normal seperti mereka: makan, minum, mencari nafkah, beribadah, bermasyarakat.

Ada ustaz yang memiliki usaha produksi dan jual-beli mebel.

Ada juga ustaz yang pengetahuannya luas, hingga dia menceritakan perihal bintang-bintang di langit.

Ustaz tersebut berkata bahwa saat malam di langit, ada cahaya tanpa kerlap-kerlip, yang sinarnya paling terang. Sejatinya, itu bukan bintang, melainkan planet. Selama rentang antara subuh dan pagi, planet itu masih kelihatan bersinar. Waktu matahari mulai terbit, cahayanya semakin buram, dan akhirnya sirna berganti langit cerah pagi hari.

Mendapat cerita itu, saya ingin membuktikan perkataan Ustaz. Saya cari cahaya di langit yang sinarnya paling terang dan tak berkedip. Benar sekali, ternyata memang ada cahaya tanpa kerlap-kerlip di atas sana ….

Sebentar masa, banyak teladan

Masa TPA, saya jalani kurang dari enam tahun. Namun, teladan mereka, para Ustaz dan Ustazah, menjadi bekal penting dalam menjejak kehidupan setelahnya.

Jazahumullahu khairan.

Bandar Universiti, 3 Juli 2011,
Athirah

==

*) Telah diubah pada 7 Juli 2011, yaitu penggalan kalimat, “… tetap percaya dengan para Ustaz dan Ustazah yang menyebarkan sunah baru di tengah keawaman umat Islam saat itu.” diganti dengan “… tetap percaya dengan para Ustaz dan Ustazah yang menyebarkan sunah di tengah keawaman umat Islam saat itu.

Setelah dibaca ulang, dikhawatirkan timbul persepsi Pembaca bahwa “menyebarkan sunah baru” pada tulisan di atas maksudnya “mengada-adakan bid’ah”. Meskipun sebenarnya, maksud tulisan tersebut adalah “menyebarkan sunah yang sebelumnya belum dikenal di masyarakat sehingga tampak sebagai sesuatu yang baru”.

Atas pertimbangan tersebut, frasa “sunah baru” diganti dengan kata “sunah”.

8 pemikiran pada “Cerita Seorang Anak TPA

    1. dek “kelopakmawar”…. saya juga kangen e…

      amiin… dalam keadaan yg lebih baik di dunia maupun di akhirat.

      ahabbakilladzi ahbabtini lahu <3 <3 <3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s