Nostalgini

Membenturkan masa lalu dan masa kini, sering kali, kurang arif. Ada ungkapan: belajar dari masa lalu, jalani masa kini, siapkan masa depan.

Untuk saya, ketimbang “membenturkan” dua kurun, lebih baik “mengonversikan” dua kurun tersebut. Lihatlah, sekiranya ada hal-hal di “masa lalu” yang sudah kadung hilang di “masa kini” dan mesti dimunculkan, ataukah ada hal-hal yang malah justru tetap ada namun seharusnya dihilangkan di “masa kini”.

Nostalgia

Berbicara soal cita-cita-cita-cita, biasanya, membuat pikiran saya akan bernostalgia ke masa-masa dahulu, sebelum menikah, sebelum diamanahi seorang Asiyah.

Kalau mau baca, tinggal baca. Mau ta’lim, tinggal ta’lim. Mau nulis, tinggal nulis. Mau istirahat, tinggal istirahat. Mau ini, tinggal ini. Mau itu, tinggal itu ….

Kini

Kalau mau baca, selesaikan masak-masak, cuci-cuci, beres-beres rumah, edit-edit artikel dahulu. Kalau mau ta’lim, nyamankan Asiyah dahulu. Mau nulis, tidurkan Asiyah dahulu. Mau istirahat, selesaikan tugas-tugas dahulu. Mau ini, mesti itu dahulu ….

Nostalgini

Untuk itulah, saya mengonversi “nostalgia” menuju “masa kini” menjadi “nostalgini”, selekas mungkin mengadaptasikan cita-cita dengan potensi dan kondisi riil yang ada. Rumusan konversi ini merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi ibu rumah tangga biasa macam saya. Ternyata, saya tak perlu menjadi pejuang yang menyerah lalu angkat-tangan pada keadaan. Ternyata, saya hanya perlu menatap langit dan menyadari dengan mata berbinar-binar bahwa bumi Allah itu luas. Ternyata, sepatutnya: ikhtiar, saya gali dalam-dalam; tawakal pada Allah, saya tanam kuat-kuat.

Juga merenungi bahwa kemauan menggapai-gapai satu-dua cita tidak selamanya bisa dituruti, karena dalam membagi 24 jam sehari, ada urutan-urutan prioritas yang mesti dijalani.

Jika sesuatu tak bisa digenggam seluruhnya, ternyata, merengkuh yang sedikit pun sudah bisa melapangkan jiwa dan menggairahkan semangat.

Daripada menggerutu karena belum bisa minum air zamzam langsung dari Tanah Haram, bolehlah meminum air zamzam dalam botol, oleh-oleh sanak keluarga yang baru pulang berhaji.

Daripada muram karena belum bisa mulazamah langsung dengan Syekh Shalih Al-Fauzan, tak ada salahnya rajin-rajin dengar streaming kajian www.radiomuslim.com.

Daripada merana karena belum bisa baca kitab Arab gundul dengan lancar, cobalah beli kitab Al-Muyassar di www.toko-muslim.com dan ikuti pelajaran bahasa Arab di www.badaronline.com.

Daripada cemberut karena belum bisa pulang kampung tahun ini, kelabuilah rindu dengan membaca artikel-artikel www.muslimah.or.id.

Bandar Universiti, 17 Juni 2011,
Yang menyemangati diri sendiri, di rembang subuh,
Athirah.

Iklan

6 pemikiran pada “Nostalgini

  1. ان مصتق بك

    Alhamdulillaah akhirnya anti membuka ‘rumah maya’ untuk saudarimu singgahi.
    Rindu sekali dan ingin bertemu ….

    entah tahun ini, tahun depan, tahun berikut2nya atau mungkin ditelaga al haudh-Nya atw bahkan surga al Firdaus-Nya. Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya.

    Salam buat kak Asiyah dari sahabat2nya disolo (mas hamzah dan de mayyas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s