Empat Jenis Pembicaraan

Pertama

Pembicaraan yang murni mengandung mudarat dan kejelekan, seperti: ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan semua jenis maksiat. Kita wajib diam dari pembicaraan semisal ini, dan kita wajib menjaga lisan agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Kedua

Pembicaraan yang mengandung manfaat dan mudarat. Misalnya, nasihat dan pengarahan kepada orang lain, namun dicampur dengan sedikit ghibah yang diharamkan, dibumbui dengan ejekan dan penghinaan terhadap orang lain. Kita juga harus diam dari pembicaraan semacam ini, karena menghindari mudarat lebih diutamakan dibandingkan meraih maslahat.

Ketiga

Pembicaraan yang tidak memberi manfaat maupun mudarat. Seperti: pembicaraan tentang warna anjing ashhabul kahfi, nama asli Fir’aun yang dibinasakan oleh Allah pada masa Nabi Musa ‘alaihis salam, meneliti masalah-masalah keduniawian yang tidak memberi maslahat kepada seseorang, banyak tertawa, banyak bercanda, dan lainnya. Kita sangat disunnahkan untuk diam dan menjaga lisan dari perbincangan seperti ini, berdasarkan hadis Nabi,

من حسن الإسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.” (H.R. Tirmidzi; dari Abu Hurairah dan Ahmad bin Husain bin Ali)

Dengan demikian, tiga perempat pembicaraan harus ditinggalkan.

Keempat

Pembicaraan yang mengandung manfaat saja. Misalnya, amar makruf nahi mungkar, dakwah dalam rangka menyeru kepada Allah, memberikan nasihat kepada muslim yang lain, beribadah, dan melakukan ketaatan berupa ucapan. Hal ini dipuji, dengan syarat: ketika seorang muslim mengucapkan pembicaraan semisal ini, dia tidak bermaksud riya’, sum’ah, atau ingin dipuji dan disanjung. Kepada Allah-lah kita memohon pertolongan agar bisa menjaga lisan kita dan hanya Dia-lah tempat kita bertawakal.

امسك عليك لسانك وليسعك بيتك وابك على خطيءتك

Jagalah lisanmu, tetaplah berada di rumahmu (jangan banyak keluar rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.”

(H.R. Tirmidzi; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 890)

==

Dikutip–dengan peringkasan–dari buku:
102 Kiat agar Semangat Belajar Agama Membara, hlm. 135–137, karya Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah, penerbit La Raiba Bima Amanta (eLBA), Surabaya, Jumadats Tsaniyah 1426/Agustus 2005.

Disertai penyuntingan bahasa oleh عطرة.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s