Yuk, Berlatih Bicara: Hubungan “Fathah” dan Lafal “A”

Mengamati perkembangan anak kecil punya keasikan tersendiri. Di balik keasikan itu, ada timbunan hikmah yang tidak terkira. Apalagi, kalau si pengamat adalah orang tuanya sendiri, utamanya sang Ibu.

Betapa bersyukurnya seorang ibu di waktu melihat anaknya, yang berusia 1 bulan, sudah bisa mengarahkan kepalanya menuju suara sang ibu; itu artinya, pendengaran anaknya berfungsi normal. Rasa syukur itu bertambah ketika si anak sudah bisa mengangkat kepalanya saat dia ditengkurapkan; itu artinya, otot lehernya berfungsi dengan baik. Perkembangan-perkembangan si buah hati selanjutnya selalu membuat sang ibu bersyukur tiada tara kepada satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, Allah ‘azza wa jalla.

Ini dia salah satu momen yang sangat membahagiakan: si anak mulai berlatih bicara. Untuk usia 9 bulan, si kecil sudah mulai berucap “ta”, “ma”, atau “da”. Semakin bertambah usianya, penggalan kata yang mampu diucapkannya pun bertambah panjang, “ta-ta”, “ma-ma”, “da-da”. Selama periode 9–12 bulan inilah, kemampuan berbicara anak akan berkembang dengan begitu cepat, atas izin Allah.

Jika saya mengamati putri saya, pelafalannya mulai beranjak dari penggalan kata berakhiran “a”, kemudian berkembang ke lafal “i”. Sebelum menginjak usia 12 bulan, dengan pertolongan dari Allah, kemahiran berbicaranya pun meningkat. Dahulu, Asiyah hanya bisa menyebut namanya dengan “Aca” atau “Ata”. Sekarang, Asiyah sudah bisa menyebut “Aciya”.

Agak sedikit menyelidik dan menghubungkan realita ini, saya mencoba mengingat-ingat metode pengajaran baca Alquran dengan buku Iqra’. Untuk rujukan, saya gunakan dua buku Iqra’ dari penulis yang berbeda:
1. Iqro’, karya K.H. As’ad Humam, terbitan AMM (Angkatan Muda Masjid-Mushala), Yogyakarta.
2. Tamhid Iqra’ Qira’ati, karya Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, terbitan Darul Atsar Al-Islamiyyah, Magetan.

Sepertinya, Anda juga pernah tahu salah satu dari dua buku di atas ‘kan? Nah, kalau kita perhatikan, di jilid 1, pengenalan huruf hijaiah akan dimulai dengan huruf-huruf berharakat fathah. Pada jilid setelahnya, barulah beranjak ke huruf berharakat kasrah, hingga akhirnya ke huruf berharakat dhammah.

Apa hubungannya dengan latihan si kecil untuk berbicara? Coba kita perhatikan lebih saksama. Anak kecil mulai bicara dengan kata berlafal “a”: ta, ma, da. Selanjutnya, ta-ta, ma-ma, da-da. Lalu, bisa jadi: ti-ti, li-li. Ini semua adalah hasil pengamatan saya terhadap proses Asiyah dalam berbicara. Contoh lainnya, sebagaimana yang sudah kita baca dalam beberapa paragraf di atas, Asiyah mula-mula menyebut dirinya “Aca” atau “Ata”, dan kini, Asiyah menyebut dirinya “Aciya”.

Apakah memang ada alasan tertentu sehingga para penulis buku Iqra’ memulai pengajaran baca Alquran dengan huruf berharakat fathah, baru kemudian kasrah, lalu dhammah? Teka-teki ini belum bisa saya pecahkan. Apakah kasak-kusuk analisis saya di atas bisa menjadi jawaban teka-teki ini?

Kalau Anda mempunyai referensi tentang pembahasan ini, silakan diutarakan pada kolom komentar di bawah. Tambahan ilmu dari Anda akan begitu saya hargai. Jazakumullahu khairan ‘semoga Allah membalas Anda sekalian dengan kebaikan’.

Bandar Universiti, 6 Mei 2011,
Athirah

Iklan

2 pemikiran pada “Yuk, Berlatih Bicara: Hubungan “Fathah” dan Lafal “A”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s