Tentang “About”

Namanya juga dunia maya, segala sesuatu di sini jadi tak kasat mata. Segala sesuatu yang kita baca, bisa jadi memang gambaran dunia nyata. Bisa juga, hanya reka-reka.

Meski begitu, “si internet” ini banyak diandalkan orang. Mulai dari cari resep makanan, info kerjaan, sampai konsultasi kesehatan. Bahkan, seiring dengan mudahnya akses internet, banyak ilmu-ilmu agama yang bisa diperoleh, cukup dengan klak-klik, browsing sana-sini, nukilan dari para penuntut ilmu bisa dibaca, faedah dari para ulama pun bisa diteguk.

Nah, supaya tak nyasar di situs/blog yang tak terpercaya, kita perlu tahu tentang “About“.

About” atau “Tentang” biasanya akan tampil sebagai page di setiap situs atau pun blog. Dari page inilah, pemilik atau pengelola situs akan memperkenalkan dirinya. Terkadang, sampai diperinci tentang isi situsnya dan perincian-perincian yang lain; suka-suka si admin.

Ada yang memperkenalkan dirinya secara terang-terangan (menyebut nama diri, tempat tinggal, pekerjaan, dll.), ada juga yang sayup-sayup saja (sekadar menyebut nama-pena, dan hal lain yang meski disebutkan tetapi bisa tetap menjaga identitas asli si admin). Ada lagi yang bahkan tidak menyebutkan sesuatu dan benar-benar seperti suasana gelap saat mati lampu di periode bulan-mati setelah tanggal 15, yang menambah gulita malam semakin pekat. Nah, model situs/blog seperti inilah yang perlu diwaspadai! Mengapa?

Mengambil ilmu dan mengakses info

Mengapa? Karena mengambil ilmu dan mengakses informasi itu bukan seperti memungut sampah di tengah jalan lalu memasukkannya ke tong sampah. Ilmu dan info yang diperoleh–sedikit-banyak–akan terekam di memori kita. Kalau sumber ilmu/info itu tidak jelas, apakah kita masih merasa tenteram mengambilnya?

Penduduk dunia maya itu bermacam-macam: ada yang jujur, ada yang polos, ada yang badung, ada yang iseng, ada yang “asal-cari-untung”, dan masih banyak lagi macamnya ….

Kalau pas kita nyasar di situs yang adminnya jujur, beruntunglah kita. Namun, coba bayangkan kalau pas kita sedang kesulitan mencari sebuah referensi, misalnya tentang penyakit jaundis pada anak, lalu si admin situs yang kita kunjungi ternyata cuma asal caplok artikel dari sana-sini. Itu pun, yang bersangkutan tidak menyebutkan sumber informasinya. Gawat!

Tidak kalah gawat kalau yang kita ambil adalah ilmu agama. Ilmu agama itu ibarat makanan, sehingga kita mesti peduli betul tentang asal-muasal kita memperoleh “makanan” itu. Kalau si admin adalah orang yang terpercaya untuk menyampaikan ilmu tersebut, atau minimal yang bersangkutan copy-paste artikel dari situs terpercaya, kita boleh merasa tenang. Akan tetapi, kalau isi artikelnya ngalor-ngidul tanpa landasan ilmiah yang jelas dari Alquran maupun hadis sahih, bagaimana mungkin kita harus percaya dengannya, bukan?

Macam-macam penduduk dunia maya

1. Si jujur
Tipikal penduduk dunia maya seperti ini, biasanya, menyebutkan perihal dirinya, meski singkat. Kalau pun nama diri tersamarkan, kita bisa melihat tentang jati diri yang bersangkutan dari tanggapannya terhadap komentar pengunjung situs/blognya.

2. Si pembohong
Si pembohong, biasanya, riskan kita jumpai pada situs/blog tentang tulisan ilmiah (baik ilmu syar’i maupun ilmu pengetahuan umum) atau pada situs/blog yang berisikan kisah-kisah. Untuk situs/blog ilmiah, kita mesti lihat-lihat dulu metode yang bersangkutan dalam penukilan dalil atau referensi ilmiah; terpercayakah dan menyebutkan sumberkah? Tujuannya, supaya kita tidak menjadi mangsa hoax (berita dusta yang tersebar).

Untuk situs/blog yang berisikan kisah-kisah, kita mesti tahu admin situs/blog tersebut. Kalau adminnya tidak terpercaya, mendingan kita tidak membaca kisah itu. Bisa-bisa, kisah itu cuma dongeng atau khayalan si penulis, meski dia memberi catatan di akhir tulisan “berdasarkan kisah nyata”. Ah, mana ada kisah nyata yang bisa dinukil dari seseorang yang tak terpercaya …. Dalam meriwayatkan hadis saja, para ulama sampai-sampai membahas perihal diri seorang periwayat, secara terperinci, karena diri seorang periwayat akan memengaruhi terpercaya atau tidaknya riwayat hadis yang disampaikannya.

3. Si “asal-cari-untung”
Orang macam ini tak perlu kita kunjungi situs/blog-nya. Biasanya, saat kita memasukkan suatu kata kunci di Google, akan tampil beberapa situs/blog. Saya sendiri pernah beberapa kali kena tipu. Ketika saya meng-klik URL situs tersebut, eh ternyata yang ditampilkan cuma (misalnya) “Artikel ‘penyakit jaundis pada anak’ tidak ada dalam situs ini“. Yang ramai malah iklan ini-itu, iklan google adsense, dan sodara-sodaranya. Masya Allah, ternyata cara seperti ini menjadi modus sebagian orang untuk meningkatkan jumlah “klik” pada situsnya. Dengan jumlah “klik” yang tinggi, pendapatan si pemilik situs juga tinggi. Dari mana lagi pendapatan itu kalau bukan dari pembayaran iklan yang ramai di situs/blog-nya.

Oleh karena itu

Untuk menghindari “makanan-makanan beracun” di dunia maya, sangat baik jika kita membaca pageAbout” atau “Tentang” setiap mengunjungi sebuah situs/blog. Apalagi, jika ilmu/info yang akan kita ambil di situs/blog itu adalah tentang ilmu syar’i. Bagaimana mungkin seorang mukmin akan beramal dengan nukilan ilmu yang belum/tidak jelas kesahihannya. Betul begitu, bukan?

Cerita punya cerita, kalau mengunjungi blog/situs orang yang sudah saya kenal, meski yang bersangkutan tidak menjelaskan data diri (minimal nama diri) secara penuh, biasanya, saya percaya pada tulisan-tulisan beliau di blog/situs beliau. Itu berlaku secara umum. Akan tetapi, tetap saja kita perlu teliti tentang penukilan/info dari yang bersangkutan, untuk hal-hal tertentu.

Dunia maya
Bisa jadi, dia nyata
Bisa jadi, hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dalam angan-angan; khayalan

Bandar Universiti, 4 Mei 2011,
Salah seorang penduduk dunia maya,
Athirah

Iklan

20 pemikiran pada “Tentang “About”

  1. hihi…kesindir, secara udah lama banget gak dibener2in aboutnya…dulu adaa…tapi kok gak sreg akhirnya di del…trus kepikiran mo nulis about gak sempet2 : D

  2. kalo akhwat singel, takut nyebutin data diri di blog, gimana ya mbak? (apa ini GR ya namanya?) tapi takut aja kalo privasinya diketahui orang, apalagi yang sama-sama singel.

    1. Nggak juga kok, dek.. BIsa dibilang itu adalah sebuah kehati2an…

      Meski begitu, amanah ilmiah tetap harus dijaga. Minimal:
      1. Tetap konsisten menggunakan satu nama kunyah atau nama pena. Jangan jadikan nama kunyah dan nama pena sebagai kedok untuk menyembunyikan jati diri.
      2. Kalau menulis sesuatu yang sifatnya ilmiah, jangan lupa sertakan rujukan. Kalau menulis kisah, sebutkan sumber kisah tsb.

      Pengalaman saya, saya pernah menjumpai sebuah web yang artikelnya masyaalloh bagus. Tapi ternyata, si penulis nggak mencantumkan sumbernya. Ada juga web yang banyak memuat kisah2. Yang tertera di web tsb, kisahnya adalah kisah nyata. Tapi memang ada beberapa kisah di web itu yang tidak disebutkan sumbernya. Sampai suatu saat, kebetulan kisah di web itu mirip sekali dengan ciri2 seorang akhwat (kisah di webnya tidak menyebutkan nama asli tokoh di kisah itu. Walhasil, karena ada orang yg merasa cerita itu hanya karangan (padahal kata penulisnya itu kisah nyata) tapi memakai sifat dan ciri2 seorang akhwat tertentu, akhirnya kisah tsb dihapus oleh admin web tadi. Yang bersangkutan protes karena bisa jadi para pembaca yg kenal dengan tokoh2 di kisah itu mengira itu kisah nyata (soalnya, ciri2nya mirip banget sama bbrp orang yg ada di dunia nyata).

      Dunia maya memang terkadang bersifat maya (bayang-bayang, tak nyata, tak jelas). maka mesti berhati-hati : ) *pesan untuk diri sendiri sy juga ini… *

    2. oya dek.. sekadar berbagi cerita.. dek aufa pernah lihat cara ustadz aris jawab komen di blog beliau? misalnya, jawaban untuk ummu fulan, nantinya cuma ditulis #ummu…, untuk ummu fulanah juga cuma ditulis #ummu.. kalau jawaban untuk abu fulan tetap ditulis #abu, kalau untuk abu fulanah juga ditulisnya #abu

      nah, trus ada yg tanya (yg inti pertanyaannya): ustadz, kenapa kalau ustadz menyebutkan nama kunyah tidak lengkap (hanya “ummu” atau “abu”)

      trus, ustadz jawab yg maknanya): krn banyak juga yg hari ini memberi komentar dengan nama abu A, besoknya ganti lagi dengan nama abu B, padahal ya orangnya sama…

      mungkin kita bisa berhusnuzhzhon bahwa si abu tsb memang punya anak banyak jadinya nama kunyah nya juga ganti2. trus, ustadz aris tahu darimana kl orangnya sm? nah.. kan bisa lihat dari alamat surelnya (kalau tulis komen kan harus menyertakan alamat surel).

      begitulah,, terkadang banyak nama kunyah bs membingungkan orang lain…

      pas kami dulu masih di ma’had ilmi, ustadz abu ahmad eko haryono pernah menasihati, yang maknanya: jangan jadikan nama kunyah itu untuk “menyamarkan” diri. nama kunyah digunakan agar seseorang semakin dikenal.

      *

      dlm nama2 sahabat, kita bisa lihat memang begitu kenyataannya. misalnya: kita bisa membedakan ibnu mas’ud, ibnu ‘umar, dan ibnu ‘abbas dari nama kunyah beliau kan? padahal, nama asli beliau ber-3 adl: abdullah >> abdullah bin mas’ud, abdullah bin umat, abdullah bin abbas..

      wallohu a’lam…

  3. Indiy sualan yaa ukhty..bbrp thn lalu ana yg msh jahil (blm ngaji) ambil cybername “mrsGT” yg di terjemahkan bhs.Indonesianya Nyonya GT (GT=inisial nama zauji).

    Maksudnya bukan menisbatkan diri kpd suami, ana faham hukum menisbatkan nama kpd selain nama ayah. Harom memanggil diri dg [nama kita][nama suami], tp wkt itu biar org2 jd pd tau ana udah bersuami. Pengantin baru gitu um..

    Apa yg sebaiknya yg hrs dilakukan skrg? Ummu tau engga di WP, cara ganti alamat gmn? Afwan tlg kasitau ya. Jazakillahu khair.

    1. @ belinejolie

      Afwan mb.. di benak saya ada semacam analisis jawaban, tapi saya tidak yakin dengan kebenarannya.. Mmh.. bgm kalau kita tanyakan ke ustadz saja? : )

      Tentang mengubah nama blog, mungkin bisa dikasih pengumuman ke blog mba bahwa alamatnya sudah pindah ke alamat yg baru (berarti buat blog baru lagi).

      Maaf ya mba kalau kurang membantu.. Semoga segera ada solusi yg terbaik.. Barokallohu fik …

  4. Hmm kalo bagi ana…fiihi tafaashil tentang menyebut identitas ini…sebagaimana yang ana bilang di page perkenalan diri di blog ana yang berjudul “me is me”.

    contoh konkretnya adalah milik ana sendiri, yang bertujuan awal untuk berinteraksi di dunia maya dengan teman-teman atau orang yang ana kenal sebelumnya di dunia nyata. Ana sebut identitas ana, tidak berisi tauriyyah atau disamarkan, apalagi didustakan. Akan tetapi, bukan dengan nama lengkap ;kunyah; atau nama pena (karena tentang nama pena ini ada perbedaan sudut pandang yang pernah ana temukan, salah satunya pendapat Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, yang cenderung beranggapan bahwa nama pena itu asal-usulnya adalah kebudayaan kaum kuffar) hanya dengan inisial saja. Nah, ana pikir..kalo hanya untuk berinteraksi dengan teman sejawat saja yang notabenenya sudah mengetahui diri ana….ana tidak perlu bla3x menyebutkan identitas secara penuh dan lengkap. Adapun ketika ada orang lain (wanita) yang ingin berkenalan lebih dalam, silahkan berkenalan secara pribadi saja. Pun ketika ternyata di blog ana itu yang pada awalnya hanya untuk menjalin hubungan dengan teman-teman yang berada nun juauh di mana-mana dipandang ada manfaatnya, ya silahkan saja disebarluaskan (karena ana sudah menyebutkan bahwa ana berusaha meniti manhaj As-Salaf Ash-Shaalih). Beda lagi jika blog yang dimiliki itu bertujuan untuk dakwah atau berisi tulisan ilmiah (semisal muslimah.or.id atau blog pribadi namun berisi dakwah dan tulisan ilmiah), maka sebaiknya dituliskan identitas asli penulisnya untuk lebih mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulisnya di depan khalayak ramai, meskipun tidak terlalu lengkap [misal hanya disebut kunyah yang ma’rufah atau kunyah plus nama panggilan]. Kalau cuma blog “curhat” kan sifatnya lebih ringan tentunya daripada blog yang berisi dakwah atau tulisan ilmiah. Wallaahu a’lam

    1. 1. Berarti, jika dihubungkan dengan artikel di atas, blog curhat yang mba fa rincikan tsb tergolong:

      1. Si jujur
      Tipikal penduduk dunia maya seperti ini, biasanya, menyebutkan perihal dirinya, meski singkat. Kalau pun nama diri tersamarkan, kita bisa melihat tentang jati diri yang bersangkutan dari tanggapannya terhadap komentar pengunjung situs/blognya.

      “Tersamarkan” bisa dalam bentuk inisial atau selainnya..

      Kalau seperti yang mba fa sampaikan, berarti kan orang bisa tahu siapa yang punya blog meskipun tidak secara gamblang : )

      Apalagi kl tulisan2nya menyebutkan sumber penukilan dengan jelas. Dengan demikian, tidak ada musykilah dalam hal ini, insyaalloh : )

      ‘Ala kulli hal, penulisan nama secara jelas, samar, dll adalah sebuah pilihan yang bersifat manasuka. Penulis bebas untuk menyatakan identitasnya secara rinci atau tidak, dan pembaca pun bebas untuk membaca tulisan mana saja yang ingin dibacanya.


      2. Tentang nama-pena

      Masyaalloh.. ini faedah baru untuk sy, mba… Jazakillahu khayran untuk faedah baru ini. Langsung sy googling tentang fatwa yg mba fa maksud. Saya baru dapat 2 referensi ttg itu:
      http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1461&idjudul=1457
      http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=231931

      Akan tetapi, sejauh ini saya masih dalam tahap bertanya kepada seorang Ustadz ttg ganjalan di hati saya tentang masalah “itu adalah kebudayaan kaum kuffar”. Insyaalloh kl saya sudah dapat titik terangnya, saya akan sampaikan di sini.

    2. Di akhir kata pengantar pada kitab HIrasatul Fadhilah, ternyata.. Sy masih mencari versi cetakan yang menyebutkan keterangan Syekh tsb, karena ada yang menyebutkan dan ada yg tidak menyebutkan.

      *dalam tahap penelusuran*

  5. Tentang nama pena, -sependek yang ana tahu-…memang asal-usulnya dari budaya barat yang kemudian lambat laun diadopsi oleh orang Indo. As-Salaf Ash-Shaalih dahulu tidak menggunakan nama pena dalam tulisan mereka. Mereka biasa menggunakan kunyah yang ma’rufah, laqab masy-huur atau bahkan nama asli, sehingga jelaslah identitas penulisnya. Adapun fenomena yang banyak terjadi saat ini, banyak sekali orang yang menggunakan semacam nama pena tersebut ketika mereka menulis dalam sekup ilmiah, yang ana kurang tahu apa tujuannya. Kita berhusnuzhzhan bahwa mereka ingin menggunakannya untuk menghindari syuhrah, dan bukan untuk menipu atau menyamarkan identitas. Dalam pandangan ana, beda halnya ketika sesorang itu bukan menggunakan nama pena, tapi menggunakan nama yang sering kita sebut dengan “nama hijrah” . Maka dalam pandangan ana, dia tidak lagi menggunakan nama pena [mengingat nama pena ini masih diperselisihkan tentang keabsahannya]. Dia tetap dianggap menggunakan namanya yang ma’ruf sebagai penjelas identitasnya (meskipun bukan nama yang berasal dari akte lahirnya, atau nama yang diberikan kedua ortunya). Wallaahu a’lam. Wa anti fa jazaakillaahu khairan…

    1. Mba.. berikut ini saya rekatkan jawaban dari Ustadz Aris atas pertanyaan saya. Di sini, sekaligus saya sertakan pertanyaan yang saya ajukan ke beliau.

      **
      Re: UstadzAris.com Tanya Ustadz: nama pena dan kaidah syekh utsaimin
      Hide Details

      FROM:

      Aris Munandar

      TO:

      ***@yahoo.com

      Message flagged
      Sunday, October 9, 2011 10:12 PM

      قال سماحة الإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز – رحمه الله – في لقائه بطلاب قسم الإعلام بكلية اللغة عند سؤال :

      ما حكم الكتابة بالاسم المستعار في الصحافة ، كأن يكتب الشخص مقالاً بغير اسمه الحقيقي ؟

      فأجاب – رحمه الله – :

      إذا كان فيه مصلحة فلا بأس ، وتكون الأسماء صادقة ، كأن يكتب : مسلم بن عبد الله ، أو عبد الله بن عبد الرحمن ، وهكذا .

      المصدر : فتاوى إسلامية جمع الشيخ محمد المسند

      Samahatul Imam ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dalam tatap muka bersama para mahasiswa jurusan Al-I’lam Fakultas Bahasa, beliau ditanya :

      Apa hukum menulis menggunakan nama samaran di surat kabar, seperti seseorang menulis artikel tidak dengan namanya aslinya?

      Maka beliau menjawab :

      Jika padanya adalah mashlahah maka itu tidak mengapa. Namun hendaknya (kandungan/makna) nama tersebut benar. Seperti ia menuliskan nama : Muslim bin ‘Abdillah, atau ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman, … dst.

      (sumber Fatawa Islamiyyah, editor Syaikh Muhammad Al-Musnad)

      وهكذا الشيخ مقبل رحمه الله سمعته في احد اشرطته وهو يحث على الردود ثم قال فإن خشيت على نفسك فأنت ( عبدالله بن عبدالرحمن )

      Demikian juga Syaikh Muqbil rahimahullah dalam salah satu kasetnya, ketika beliau memberikan semangat para muridnya untuk menulis bantahan (terhadap ahlul bid’ah), kemudian beliau berkata : “Jika kamu khawatir terhadap (keselamatan) dirimu, maka (tulis bahwa namamu) adalah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman.” (yakni bukan nama sebenarnya).
      http://dammajhabibah.wordpress.com/2010/03/11/siapakah-admin-dammajhabibah/

      Pada 9 Oktober 2011 15:58, Ummu Asiyah menulis:

      To: UstadzAris

      From:
      Ummu Asiyah
      ***@yahoo.com

      Message:
      Bismillah

      1. Ustadz, ada yang mengatakan bahwa Syekh Bakr Abu Zaid menyatakan
      bahwa “nama-pena” (pen-pal) adalah kebiasaan kaum kuffar. Benarkah
      demikian?

      Dari hasil searching internet, saya hanya mendapat temuan ini: (
      Sebelumnya saya menulis semua kitab karangan saya dengan menggunakan
      istilah: “bi qalam: …“ (tulisan: …), mengingat ia lebih
      ringkas dibandingkan istilah: “ta’lîf: ..” (karangan: …), dan
      itu meniru istilah sebagian para pakar masa kini. Kemudian saya tahu
      bahwa penggunaan istilah tersebut ternyata buatan orang-orang barat
      yang lebih dikenal dengan sebutan “Hal baru yang masuk”. Mereka
      juga memiliki istilah lain, yaitu : “Nama pena” atau “Pen pal”
      yang dalam istilah kita dinamakan dengan “Nama pinjaman” atau
      “Nama samaran”.) __
      http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1461&idjudul=1457

      2. Bisakah penggunaan nama-pena digolongkan sebagai hal yang tidak
      lagi meniru kebiasaan kaum kuffar, jika kita menggunakan kaidah Syekh
      Utsaimin? __ Adapun sesuatu yang telah tersebar luas di tengah-tengah
      orang Islam dan orang kafir maka melakukannya itu diperbolehkan meski
      pada asalnya budaya tersebut berasal dari orang kafir tentu dengan
      syarat hal tersebut bukanlah terlarang secara khusus dalam syariat
      semisal pakaian sutra
      (http://ustadzaris.com/parameter-menyerupai-orang-kafir)

      Jazakallohu khayran atas penjelasan Ustadz.

      Akismet Spam Check: passed
      Sent from (ip address): 202.78.202.114 (ns1.syaria.net)
      Date/Time: 9 Oktober 2011 8:58 am
      Coming from (referer): http://ustadzaris.com/tanya-ustadz
      Using (user agent): Mozilla/5.0 (Windows NT 6.1; rv:8.0)
      Gecko/20100101 Firefox/8.0

    2. Supaya tidak salah paham, saya kutipkan definisi “nama pena” dari Wikipedia

      Nama pena adalah sebuah nama samaran yang diadopsi oleh seorang penulis. Sebuah nama pena dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk membuat nama penulis lebih khas; untuk menyamarkan gender-nya; untuk memberi “jarak” antara seorang penulis dengan beberapa atau semua karyanya; untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisannya; atau untuk sejumlah alasan yang berkaitan dengan pemasaran atau presentasi estetika dari karya yang terkait. Nama penulis yang sebenarnya bisa saja hanya diketahui oleh penerbit buku dan dijaga kerahasiaannya, atau mungkin akan menjadi pengetahuan publik.

      Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nama_pena

      *

      Tentang “nama hijrah”–terlepas dari penggunaannya dalam hal tulis-menulis atau dalam keseharian secara umum–saya belum ketemu referensi tertulisnya, mba. Insyaalloh kalau ada kesempatan akan coba saya cari atau saya tanyakan lagi ke Ustadz.

      Beberapa tahun lalu (kalau saya tidak salah ingat, sekitar tahun 2007 atau 2008) Ustadz Abdullah Taslim pernah memberi penjelasan singkat tentang nama hijrah. Waktu itu, beliau baru saja mengisi daurah (saya lupa kajian kitab Ushulus Sunnah atau Syarhus Sunnah) di Jamil lalu beliau menyempatkan diri ke lokasi kajian akhwat untuk tanya-jawab sebentar. Pas waktu itu, saya sedang ada di sana juga, ikut mendengar tanya-jawabnya.

      Ada yang bertanya tentang mengganti nama dengan nama hijrah (secara umum, penanya tidak menanyakan konteks tertentu). Yang saya ingat dari inti jawaban beliau:
      1. Mengganti nama itu dilakukan jika namanya memang buruk. Kalau namanya tidak mengandung makna yang buruk, tidak perlu diganti, seperti: Wati, Budi. Ketika di Jami’ah Islamiyyah Madinah, Ustadz Firanda tidak diminta mengganti nama beliau karena nama beliau tsb tidak mengandung makna yang buruk.
      2. Ketika seseorang akhirnya berjalan di atas manhaj salaf, padahal sebelumnya tidak demikian, maka dia tidak perlu serta-merta mengganti nama dengan sesuatu yang disebut “nama hijrah”. Jika seseorang yang sebelumnya “belum ngaji” lalu setelah “ngaji” langsung ganti nama dengan istilah “nama hijrah” maka dikhawatirkan ini seperti paham takfiri, yang menganggap bahwa sebelum masuk ke firqahnya, seseorang itu belum beragama Islam maka setelah masuk ke firqah takfiri tsb, dia wajib mengganti namanya.
      3. Intinya, penggantian nama sebaiknya hanya dilakukan kalau namanya memang bermakna buruk.

      *

      Yang saya maksud dengan “nama pena” pada diskusi dengan Dek Aufanuri di atas adalah ‘nama yang bisa menyamarkan identitas diri yang bersangkutan’, baik itu nama samaran tertentu, inisial, atau sejenisnya. Jika memang yang lebih baik adalah menghindari penggunaan istilah “nama pena” untuk keluar dari khilaf ulama, maka saya mengubah istilah “nama pena” dalam diskusi di atas dengan istilah “nama samaran” (nama yang menyamarkan identitas-jelas pemiliknya), sebagaimana istilah yang digunakan dalam dua fatwa yang diterjemahkan Ustadz Aris di atas.

      ‘Ala kulli hal, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syekh Ibnu Baz dan Syekh Muqbil di atas, penggunaan “nama samaran” tsb dilakukan jika ada maslahatnya. Wallahu a’lam.

      Untuk sebagian akhwat yang punya blog dan menggunakan nama samaran, sepertinya karena mereka belum menikah dan tidak ingin dikenal para ikhwan. Mungkin para pengguna “nama bayangan/samaran” bisa urun rembuk di sini ….

  6. Yang ana dapatkan dari nama hijrah…tidak serta merta ketika seseorang itu meniti manhaj As-Salaf Ash-Shaalih, dia berganti nama baru. Sependek yang ana tahu, seseorang tersebut akan berganti nama untuk memilih nama yang lebih bagus maknanya atau nama orang-orang shaalih jika memang nama yang terkandung di dalamnya entah tidak ada artinya, atau malah mengandung arti yang buruk atau berisi hal yang kurang syar’i.

    Tentang perkataan ana,”cenderung beranggapan bahwa nama pena itu asal-usulnya adalah kebudayaan kaum kuffar” ==> perlu kiranya de athir meninjau kembali…bahwa ana tidak berkata itu tasyabbuh kaum kuffaar, namun yang ana katakan adalah “asal-usulnya adalah kebudayaan kaum kuffar”. Karena tidak semua yang asal-usulnya dari budaya kaum kuffar itu lantas bisa dihukumi sebagai tasyabbuh (terlebih jika menggunakan kaidah tasyabbuh ala Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah). Kaum kuffar di sini yang ana maksud adalah bangsa barat yang kebanyakan memang imma ahlul kitaab atau malah tidak beragama. Jadi, yang ana maksud adalah: bahwa budaya penggunaan nama pena itu asal muasalnya dari tata budaya bangsa barat yang notabenenya imma ahlul kita atau malah tidak beragama (atau kuffaar).

    Tentang mengganti istilah nama pena dengan nama samaran atau malah “nama lain”, ana rasa itu jauh lebih selamat dan lebih terbebas dari khilaf.

    Adapun dengan “nama lain” yang digunakan di blog, kebetulan ana juga dahulu melakukannya, ketika ana membuat blog di multiply. Tujuan utamanya memang untuk lebih menjaga diri dan menjaga orang lain saja, mengingat kalau yang sudah menikah saja masih bisa membuat fitnah atau terfitnah…terlebih yang belum menikah. Wallaahu a’lam.

    1. Yang ana dapatkan dari nama hijrah…tidak serta merta ketika seseorang itu meniti manhaj As-Salaf Ash-Shaalih, dia berganti nama baru. Sependek yang ana tahu, seseorang tersebut akan berganti nama untuk memilih nama yang lebih bagus maknanya atau nama orang-orang shaalih jika memang nama yang terkandung di dalamnya entah tidak ada artinya, atau malah mengandung arti yang buruk atau berisi hal yang kurang syar’i.

      Setuju, mb : ) Dan itu sudah saya sebutkan pada tanggapan saya:

      Intinya, penggantian nama sebaiknya hanya dilakukan kalau namanya memang bermakna buruk.

      Adanya perincian pada point 1 dan 2 yang diberikan Ustadz Abdullah Taslim tsb sebenarnya didasari realita bahwa sebagian orang beranggapan mesti punya “nama baru” ketika baru ngaji. Point 1 dan 2 sengaja ikut saya nukilkan supaya nukilan makna penjelasan dari Ustadz Abdullah Taslim tsb tidak terpotong-potong.

      **

      Kalau dicermati dari tanggapan saya pada 2011/10/09 pukul 5:26 pm, saya menulis:

      Akan tetapi, sejauh ini saya masih dalam tahap bertanya kepada seorang Ustadz ttg ganjalan di hati saya tentang masalah “itu adalah kebudayaan kaum kuffar”. Insyaalloh kl saya sudah dapat titik terangnya, saya akan sampaikan di sini.

      Insyaalloh sedari awal, saya paham bahwa yang mba fa maksud adalah “berasal dari kebudayaan kaum kuffar”, bukan “tasyabbuh dengan kaum kuffar”.

      Pada pertanyaan yg saya ajukan pada Ustadz Aris ada 2 point pertanyaan;

      1. Ustadz, ada yang mengatakan bahwa Syekh Bakr Abu Zaid menyatakan
      bahwa “nama-pena” (pen-pal) adalah kebiasaan kaum kuffar. Benarkah
      demikian? ….
      2. Bisakah penggunaan nama-pena digolongkan sebagai hal yang tidak
      lagi meniru kebiasaan kaum kuffar, jika kita menggunakan kaidah Syekh
      Utsaimin?

      – Untuk pertanyaan ke-1, saya ingin konfirmasi pd Ustadz Aris, berhubung saya belum menemukan versi teks arab dari pernyataan syekh tsb. Saya hanya menemukan versi terjemahnya. Di syamilah juga yang saya temukan cuma versi cetakan hirashatul fadhilah tanpa catatan keterangan seperti pada terjemahan dari situs al-shofwah tsb.

      – Untuk pertanyaan ke-2, sengaja saya ajukan sekaligus untuk menjawab analisis saya sendiri (jadi bukan berdasarkan pernyataan mba fa). Sebelum saya bertanya ke ustadz aris, saya sekaligus melakukan analisis lebih jauh: untuk permasalahan “suatu kebiasaan yg berasal dari kaum kuffar”, ujung pembahasannya nanti akan terbagi jadi 2 tahapan:
      1. halal/haram >> kaitannya dengan kebudayaan itu bertentangan dengan syariat Islam atau tidak.
      2. kalaupun tidak haram, berarti tentunya yang paling selamat adalah tidak meniru kebiasaan yang berasal dari kaum kuffar tsb.

      Saya sekalian mengajukan pertanyaan ke-2 ke ustadz aris karena ingin menjawab analisis saya sendiri, bukan karena mba fa menyinggung masalah tasyabbuh dengan kaum kuffar.

      **

      Kesimpulan yang saya pahami:

      – Adapun dari jawaban yg ustadz aris sampaikan, bisa dilihat bahwa ustadz aris tidak menyinggung point 1. Ustadz tidak menjawab pertanyaan saya tentang apakah syekh bakar abu zaid pernah mengatakan itu. Ustadz malah langsung menjawab dengan kesimpulan akhir bahwa penggunaan nama-samaran (dalam tulis-menulis) itu tidak mengapa jika ada maslahat, misalnya dalam hal keselamatan diri.

      – Sbgm yg saya sampaikan sebelumnya, bahwa yang saya maksudkan dalam diskusi dgn dek Aufanuri adalah “nama yang bisa menyamarkan identitas asli dirinya”. Kalau misalnya dirasa istilah “nama pena” yang saya gunakan itu bermasalah, bisa saja diganti dengan istilah “nama lain”, “nama samaran”, atau sebutan lain yang dianggap tidak bermasalah, karena semua hakikat istilah itu adalah untuk “menyamarkan identitas diri”.

      – Sedangkal pemahaman saya, kalaupun “nama pena” itu berasal dari kebiasaan kaum kuffar, saya masih agak bingung dengan musykilah dalam hal ini, karena dari referensi wikipedia dan referensi lain yg saya temukan, salah satu tujuan utama mereka menggunakan “nama pena” adalah untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisannya, dan yang saya pahami, ini sejalan dengan fatwa syekh ibnu baz dan syekh muqbil, bahwa “boleh menggunakan nama samaran jika itu ada maslahatnya, misalnya untuk melindungi keselamatan diri”.

      – Saya sengaja menyertakan definisi “nama pena”, agar definisi “nama pena” yang diperbincangkan dalam diskusi ini bisa jelas. Dalam pemahaman saya selama ini, “nama pena” yang digunakan sebagian akhwat di dunia maya memang bertujuan untuk menyamarkan identitas asli dirinya karena mereka masih lajang.

      – Untuk fungsi lain dari nama pena, seperti: berkaitan dengan pemasaran atau presentasi estetika, itu tidak termasuk dalam diskusi kita ini.

      Demikian yg saya pahami, mba : ) Mudah-mudahan bisa mencukupi… Wallohu a’lam ….

      P.S.: masyaalloh.. jarak jauh antara saudi–malaysia ternyata tidak menghalangi untuk mudzakarah juga : )

  7. Tentang fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah, “Jika kamu khawatir terhadap (keselamatan) dirimu, maka (tulis bahwa namamu) adalah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman.” (yakni bukan nama sebenarnya).” ==> tepat sekali adanya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dalam perjalanan ke Madinah bersama Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu , lalu Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu ditanya siapakah lelaki yang bersamanya (Rasul maksudnya), maka Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu pun menjawab bahwa lelaki tersebut (Rasul) adalah orang yang menunjukkan jalan. Akan tetapi yang dimaksud Abu Bakr adalah orang yang menunjukkan jalan kebaikan, bukan orang yang menunjukkan jalan (guide) ==> belum ana cek ulang di kitab Shahihain tentang matn nya.

    Dari tindakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diambil faidah dibolehkannya tauriyyah ketika ada maslahatnya, dan menurut Syaikh ‘Utsaimin pun rahimahullah, tauriyyah itu bukan termasuk dusta. Wallaahu a’lam.

  8. ini komen2nya bisa diposting dlm 1 bab tersendiri…
    terus bu-ibu, gmn caranya menyamarkan nama yg sudah terkenal tanpa menyalahi kaidah? ganti ini dikenal, ganti itu dikenal, gonta-ganti dikenal jg…

    dek fafa, dek athirah, maap ini namanya jg disamarkan… dek athirah jgn salah panggil nama asli saya/ nama saya yg sdh dikenal di dunia maya ya…. *senyum*

    -ini lg praktek penyamaran nama ceritanya- (semoga sukses)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s