Kapankah Perkataan Para Shahabat Menjadi Hujjah?

متى يكون قول الصحابي حجة

وَمَنْ قَالَ مِنْ الْعُلَماءِ إنَّ قَوْلَ الصَّحَابِيِّ حُجَّةٌ فَإِنَّمَا قَالَهُ إذَا لَمْ يُخَالِفْهُ غَيْرُهُ مِنْ الصَّحَابَةِ وَلَا عُرِفَ نَصٌّ يُخَالِفُمَهُ

Barang siapa di antara para ulama yang berkata, “Sesungguhnya, perkataan shahabat adalah hujjah,” maka itu hanya berlaku jika perkataan shahabat tersebut tidak menyelisihi perkataan shahabat lain dan jika diketahui bahwa tidak ada nash yang menyelisihi perkataan tersebut.

ثُمَّ إذَا اشْتَهَرَ وَلَمْ يُنْكِرُوهُ كَانَ إقْرَارًا عَلَى الْقَوْلِ فَقَدْ يُقَالُ هَذَا إجْمَاعٌ إقراريإذَا عُرِفَ أَنَّهُمْ أَقَرُّوهُ وَلَمْ يُنْكِرْهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ وَهُمْ لَا يُقِرُّونَ عَلَى بَاطِلٍ.”

Kemudian, jika perkataan tersebut telah tersebar luas sedangkan mereka (para shahabat yang lain) tidak mengingkarinya maka itu merupakan sebuah bentuk persetujuan. Karenanya, dikatakan, “Ini adalah ijma’ iqrari (kesepakatan yang diperoleh berdasarkan tidak adanya pengingkaran atas perkataan tersebut),” jika diketahui bahwa mereka benar-benar setuju dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya, dan mereka (para shahabat) ini tidaklah bersepakat di atas kebatilan.

وَأَمَّا إذَا لَمْ يَشْتَهِرْ فَهَذَا إنْ عُرِفَ أَنَّ غَيْرَهُ لَمْ يُخَالِفْهُ فَقَدْ يُقَالُ هُوَ حُجَّةٌ “.

Adapun jika perkataan tersebut tidak tersebar luas maka dalam kondisi ini, jika diketahui bahwa shahabat lain tidak menyelisihinya, dikatakan bahwa, “Perkataan tersebut adalah hujjah.”

وَأَمَّا إذَا عُرِفَ أَنَّهُ خَالَفَهُ فَلَيْسَ بِحُجَّةِ بِالِاتِّفَاقِ.

Jika diketahui bahwa ada shahabat yang menyelisihinya maka perkataan shahabat tadi bukanlah hujjah, berdasarkan kesepakatan para ulama.

وَأَمَّا إذَا لَمْ يُعْرَفْ هَلْ وَافَقَهُ غَيْرُهُ أَوْ خَالَفَهُ لَمْ يَجْزِمْ بِأَحَدِهِمَا وَمَتَى كانت السُّنَّةُ تَدُلُّ عَلَى خِلَافِهِ كَانَتْ الْحُجَّةُ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا فِيمَا يُخَالِفُهَا بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ

Sedangkan jika tidak diketahui apakah shahabat lain menyetujui perkataan shahabat ini atau shahabat lain menyelisihnya, maka statusnya tidak ditentukan dari dua kemungkinan ini. Ketika Assunnah menunjukkan bahwa Assunnah menyelisihi perkataan shahabat tersebut maka yang menjadi hujjah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan perkataan yang menyelisihinya tadi, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam pandangan para ahli ilmu terkait ketetapan ini.

Diterjemahkan dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, Juz 1, hlm. 79, Maktabah Asy-Syamilah.

Bandar Universiti, 30 April 2011,
Athirah

Satu pemikiran pada “Kapankah Perkataan Para Shahabat Menjadi Hujjah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s