Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung

Untuk sebuat kata, lain tempat, bisa lain pula maknanya. Dari pengalaman saya, ada beberapa kata yang maknanya malah jadi unik atau kontradiktif jika kita gunakan pada tempat yang berbeda.

Tania: Nama diri (vs) Bukan
Secara umum, “Tania” biasa digunakan sebagai nama diri (proper name). Saya tidak tahu asal-muasal nama ini, namun saya pernah menjumpai nama diri seperti ini. Akan tetapi, sekadar info untuk Anda, dalam bahasa Bugis, “tania” berarti ‘bukan’. Misalnya, kalau ada yang bertanya, “Anak naki’ Puang Muhammad (Anda anak Puang Muhammad)?”, lalu orang yang ditanyai tadi ingin menjawab ‘bukan’, dia akan berkata, “Tania.”

Punggung: Punggung (vs) Pantat
Dalam bahasa Indonesia, “punggung” itu bisa kita padankan dengan kata ‘back‘, dalam bahasa Inggris. Lain lagi ceritanya kalau Anda mengucapkan kata “punggung” dalam bahasa Malaysia, karena “punggung” itu berarti ‘ass‘ (pantat). Jika Anda ingin mengungkapkan “back” dalam bahasa Malaysia, katakanlah “belakang”. Misalnya: Punggung saya sakit (bhs. Ind.) -> Belakang saya sakit (bhs. Mly.). Terkadang juga, untuk percakapan sehari-hari dalam bahasa Malaysia, kata “ass” dipadankan dengan kata “ekor”.

Aja: Saja (vs) Jangan
“Kamu pulang duluan aja!” artinya ‘Kamu pulang duluan saja!’ Kata “aja” untuk beberapa daerah di Jawa bermakna ‘saja’, tetapi dalam bahasa Bugis, kata “aja’” bermakna ‘jangan!’. Misalnya, “Aja’ na mu pakkutananngi!” artinya ‘Jangan beritahu dia!’

Saja: Saja (vs) Sahaja
Akar bahasa yang nyaris sepenuhnya serupa, membuat bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia pun nyaris sama pada banyak sisi. Salah satunya, untuk kata “saja”. “Saya punya satu buku saja.” Itu versi bahasa Indonesia. Kalau versi bahasa Malaysia: “Saya punya satu buku sahaja.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema “sahaja” itu bermakna:

sa·ha·ja [2] kl adv 1 sebenarnya; memang demikian: — ia tidak tahu adat-istiadat Melayu; 2 sewajarnya; apa adanya: makin — makin elok parasnya; 3 (dng) sengaja: maka tiada sekali-kali hambamu berniat — hendak memanah;
basahan sudah menjadi kebiasaan berbuat sesuatu yg kurang baik;

ber·sa·ha·ja a sederhana; tidak berlebih-lebihan: orang desa itu hidupnya –;

me·nya·ha·ja v 1 berbuat sederhana; 2 kl berbuat dng sengaja;

me·nya·ha·ja·kan v 1 menyederhanakan; mempermudah: kita telah berusaha – prosedur pengeluaran barang dr gudang; 2 melakukan dng sengaja: penjajah – hal itu untuk menghambat kemajuan rakyat;

mem·per·sa·ha·ja·kan v menjadikan bersahaja; menyahajakan;

ke·sa·ha·ja·an n kesederhanaan; kewajaran: – orang itu tampak dr tutur katanya yg polos dan perilakunya yg lugu

Itu saja yang bisa kita sebutkan di sini. Pastinya, masih banyak lagi lema lain semisal ini di luar sana.

Banda Universiti, 23 April 2011,
Athirah binti Mustadjab

3 pemikiran pada “Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s