Oh, Pesbuk …

dengan sebab kamu, aku bisa sapa-sapaan dengan keluarga dan teman-temanku
juga, sebab kamu, aku jadi tahu siapa temanku yang sedang bahagia, sedih,
atau mungkin ada yang perlu dibantu

tapi
gara-gara kamu, aku jadi tahu isi rumah orang lain
dan gara-gara itu, kepalaku jadi sibuk memikirkan aktivitas orang lain
jadinya, memori otakku yang segini-ini malah semakin berkurang
yang sebaiknya kupakai untuk menghafal alquran dan merambah dunia buku
eh, malah sibuk tahu apdetan status orang lain

tapi

aku bukannya bilang kamu jahat ya, pesbuk
aku cuma ingin cerita saja,
sekadar cerita, begitu

lanjut ya …

sejak kenal kamu, aku yang hidup di kota kecil yang tak riuh ini
mendapat banyak teman baru dan kesibukan baru
iya, teman-teman di dunia bayangan
dan kesibukan yang betul-betul menyibukkan tapi belum tentu membawa manfaat

meski begitu, memang aku tidak akan mangkir
bahwa tetap ada manfaat
yang kudapat dari teman-teman yang membagikan ilmu padaku lewat dirimu

tapi, ada “tapi” di balik “meski”
kalau kuhitung-hitung,
lebih besar rugi yang kudapat jika kuteruskan pertemanan denganmu

nah …

pas suatu hari, kok aku tiba-tiba merasa jenuh temanan sama kamu, pesbuk
aku juga enggak tahu, tiba-tiba begitu saja
tiba-tiba pengin enggak temanan sama kamu lagi

memang sih, agak spontan dan terkesan tak pikir panjang

eh, itu ‘kan hanya yang “terkesan”
tapi yang “terjadi” sebenarnya tak se-spontan itu, pesbuk
aku sempat baca sebuah tulisan singkat tentang nasihat untuk menjauhi dirimu
intinya, si penulisnya bilang kalau berteman sama kamu itu bukan hal yang utama
mendingan aku temanan akrab sama buku, ikut kelas pelajaran agama
kupikir-pikir, nasihat itu benar juga
kalau enggak temanan sama kamu, aku ‘kan juga bisa lebih fokus belajar dan bekerja,
atau membuat tulisan yang bermanfaat
mudah-mudahan bisa jadi bekalku kalau sudah mati nanti

habis baca tulisan itu,
hatiku tergerak untuk salat istikharah

ini beneran loh, pesbuk
saking aku berpikir panjang
aku bayangkan kalau enggak temanan sama kamu lagi,
aku juga bakalan susah “ketemuan” sama keluargaku di indonesia,
juga susah sapa-sapaan sama teman-temanku yang udah ada di mana-mana

dan akhirnya …

Allah mantapkan hatiku, pesbuk
sungguh!
akhirnya, siang itu juga
aku memutuskan untuk enggak temanan lagi sama kamu
aku buru-buru pamitan sama teman-teman yang sempat lihat apdetan statusku saat itu
lima belas menit saja kuberi waktu untuk diriku meng-apdet status terakhir itu

dan sekarang …
alhamdulillah, hidupku terasa lebih nyaman sejak enggak temanan sama kamu
waktuku jadi lebih terkelola karena enggak sibuk ketemuan sama kamu

aku pun berharap Allah akan ganti dirimu dengan segala sesuatu yang jauh lebih baik bagiku

oh ya, pesbuk
perlakukan keluarga dan teman-temanku dengan baik ya …
aku tahu mereka masih temanan sama kamu dengan pertimbangan mereka sendiri-sendiri
dan aku bukanlah hakim yang berhak mengadili

pesbuk …
bertemanlah dengan keluarga dan teman-temanku itu secara baik ya …
jangan kamu bikin mereka membuka rumah-rumah mereka lebar-lebar
bisa-bisa, siapa saja nanti akan melihat isi rumah itu

pesbuk …
kamu jangan mengajak orang-orang yang kusayangi itu main-main dengan kelalaian ya …
kalau mereka sibuk dengan kebaikan, dukunglah mereka
tapi kalau mereka kebanyakan bercanda, ngobrol, atau main-main yang enggak penting,
tolong kamu nasihati mereka ya …

pesbuk …
berteman dengan kamu memang mubah,
dan bisa saja kamu jadi teman yang baik,
atau bisa juga kamu jadi teman yang buruk

pesbuk …
kalau kamu ketemu sama orang-orang yang kusayangi itu,
tolong sampaikan salamku pada mereka
bilangin: aku sayang mereka karena Allah
sungguh ….

Bandar Universiti, 31 Maret 2011
Athirah binti Mustadjab

13 pemikiran pada “Oh, Pesbuk …

    1. eh, lama tak jumpa ezan. smoga jumpa lepas mid-sem break ini yer.. 14hb …

      asiyah dah tunggu 2 kawan dia nak datang tiap khamis ni..

  1. ath, minta izin copas artikel ini yah,…

    utk masukan anak2ku (yg baru) insyaAllah, soalnya lg masa seneng2nya pesbukan tuh mereka.

    smga lbh byk lg dlm mencetak artikel2 yg berfaedah lainnya

    1. silakan.. silakan…, Bu Guru Galuh ^^

      فجزاك الله خيرا

      Galuh… kalau pulang ke Klaten (dan pas Galuh inget), saya nitip salam untuk ibunya Galuh ya.. Jazakillahu khayran ….

    1. assalamu ‘alaykum, mba zulfa… udah 4 tahunan gak ketemu mba zulfa.

      mmh… saya gak anti2 amat sama fb sih mb.. di atas ditulis:

      pesbuk …
      kamu jangan mengajak orang-orang yang kusayangi itu main-main dengan kelalaian ya …
      kalau mereka sibuk dengan kebaikan, dukunglah mereka
      tapi kalau mereka kebanyakan bercanda, ngobrol, atau main-main yang enggak penting,
      tolong kamu nasihati mereka ya …

      jadi, kl yg fb-an untuk kebaikan, mudah2an ALLOH memberi kebaikan dunia-akhirat untuknya ^^

      dulu saya berhenti fb-an karena banyaaaaak sekali pertimbangan. dan kl dipikir2 lagi, PR-PR saya masih bertumpuk banyak sedangkan waktu terbatas 24 jam sehari. dan dipikir2 lagi maslahat-madharatnya untuk saya pribadi, kayaknya bakal lebih banyak maslahatnya kl saya berhenti fb-an, dan alokasi waktunya bisa untuk memaksimalkan penyelesaian PR-PR yg udah numpuk : )

    1. diplomatis supaya gak salah ngomong, galuh.. supaya gak jadi khuthoba’ akhir zaman (pinter ngomong tapi gak pake ilmu). tidak menghakimi itu lebih aman dibandingkan menghakimi tanpa bukti ^^ urusan hisabnya di yaumil akhir bakal repot…..

      banyk jg dr teman2 yg say kenal yg bs dakwahin keluarganya via fb tanpa terlalaikn sm fb..

      tapi kl saya mah mudah tergoda membuang waktu sia2 di depan fb.. jadinya belajar dan dakwahnya via wasilah lain saja : )

  2. Seorang teman pernah berkata:”salah satu cara menyampaikan kebenaran kepada orang yang belum tersentuh dakwah sunnah adalah dengan media yang mereka sukai,diantaranya FB,Twitter,Instagram dll…” tentunya dengan syarat kita tidak terlarut di dalamnya.

    Dan seseorang pernah berkata bahwa banyak hal yang membuatnya terharu,menangis bahagia,ketika ada beberapa orang yang menemukan hidayah dengan wasilah membaca postingan2nya di fanspage .

    Barangkali inilah diantara sisi positif dari media sosial yang kemudian digunakan oleh para asatidzah sebagai ladang dakwah…sebab tidak dipungkiri tidak sedikit yang mengenal sunnah melalui media ini…

    Tinggal kita bagaimana menempatkannya,sebagai ajang pamer kehidupan pribadi kita atau sebagai ladang berbagi kebaikan,atau bahkan membuang-buang waktu dengan membaca hal-hal yang tidak bermanfaat.Wallahu a’lam

    Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang benar..aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s