Ayat Injil:Indah pada Waktunya

Dalam sebuah artikel di blog ini, mungkin Anda pernah menjumpai judul “Dan Semua ‘kan Indah pada Waktunya“. Atas nasihat dari seorang ikhwah, bahwa kalimat tersebut berasal dari Injil, saya segera mengganti judul tersebut dengan “Bersabarlah, Kemenangan Itu Pasti ‘kan Tiba“.

Ungkapan “indah pada waktunya” banyak tersebar di dunia maya. Awalnya, saya mengira ungkapan tersebut hanya sekadar ucapan puitis, yang bukan berasal dari Alquran maupun Injil.

Akan tetapi, ada berbagai cara bagi Allah untuk mengaruniakan ilmu kepada hamba-Nya yang jahil. Setelah mendapat nasihat tersebut, saya pun googling dengan kata kunci “indah pada waktunya, injil“. Dari beberapa daftar yang ditampilkan oleh Google, ada satu referensi singkat tentang ungkapan tersebut,

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkotbah 3:11)

Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan “indah pada waktunya. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak. Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alquran Al-Karim. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segala puji hanya bagi Allah, yang memberi pengajaran kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mudah-mudahan, ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin ….

Bandar Universiti, 3 Juli 2011,
Athirah

About these ads

13 pemikiran pada “Ayat Injil:Indah pada Waktunya

  1. Sblm baca tulisan di atas, beberapa waktu sebelumnya saya merasa heran dg sebagian kawan yg mempermasalahkan kalimat “segala sesuatu indah pada waktunya” di forum fb dg alasan ada di injil. Meskipun saya tidak pernah menggunakan kalimat ini sebelumnya, saya justru merasa aneh dg pelarangan ini. Memangnya maknanya salah?

    Pertanyaannya adalah, “Apakah ada penyimpangan aqidah dalam kalimat ini” -meskipun kalimat ini ternyata ada juga ada di injil-”?

    Jika maknanya benar, apa salahnya menggunakan kalimat ini?

    Saya tahu kalimat ini justru setelah mengklik link yang terdapat dalam link dalam badan artikel di atas. Tidak tergambarkan sebelumnya bahwa kalimat ini terdapat dalam injil. Artinya, sebelum baca injil pun, sudah pernah mendapatkan kalimat seperti ini. Eh… ternyata ada di injil. Yang muuncul di otak saya, “Wah nanti kalau membuat kalimat, tiba-tiba ada sama persis di buku Kong Hu Chu, Injil, Taurat, dst” apakah kita serta merta meralat kalimat tersebut? Apa tolak ukurnya?. Kalau menurut saya sih, tolak ukurnya adalah ada atau tidak penyimpangan aqidah dalam kalimat tersebut? Kalau tidak ada, apa salahnya?
    Kalau yang dimaksud adalah pembatsan sifat dzatiyyah Allah, artinya Allah menjadi indah pada waktu tertentu dan tidak indah di waktu yg lain, tentu ini adalah perkara batil. Namun, apakah penggunaan kalimat di atas ditujukan bagi Allah? Apalagi jika yang mengucapkannya adalah seorang muslim?

    Terus terang saja, saya justru terinspirasi dari kalimat “Indah pada Waktunya”. karena setelah merenungkan, ada berbagai fase yang dialami manusia, ada kalanya ia mengalami fase terpuruk, ada kalanya ia mengalami ujian yang berat, ada kalanya ia pernah menjalanai fase yang buruk/gelap baginya. Ketika fase2 berat itu ia lalui , atau ketika kesabaran menahan ujian telah ia lampaui, kemudian ia mendapatkan balasan yang baik dari Allah. Bukankah ini adalah sesuatu yang indah?

    Asli, sepertinya sepele. Namun terus terang ketika melihat ada kawan FB yg juga mempermasalahkan penggunaan kalimat ini, saya justru merasa terganggu. Melarang sesuatu yang mubah itu bukan perkara yang remeh. Apalagi bagi yang terbiasa menulis, ketika menulis nanti ia berpikir,

    “Wah bagaimana nanti jika membuat kalimat, tiba2 kalimat tersebut ada di buku2 orang kafir/kitab suci mereka, padahal saya sama sekali tidak pernah terpikir membaca buku2 mereka?”

    • Barakallahu fik.

      1. Untuk pertanyaan Anda:

      (1) Apakah di dalam pengutipan “indah pada waktunya” ada penyimpangan akidah,
      (2) “Wah nanti kalau membuat kalimat, tiba-tiba ada sama persis di buku Kong Hu Chu, Injil, Taurat, dst” apakah kita serta merta meralat kalimat tersebut? Apa tolak ukurnya?,
      (3) Kalau yang dimaksud adalah pembatsan sifat dzatiyyah Allah, artinya Allah menjadi indah pada waktu tertentu dan tidak indah di waktu yg lain, tentu ini adalah perkara batil. Namun, apakah penggunaan kalimat di atas ditujukan bagi Allah? Apalagi jika yang mengucapkannya adalah seorang muslim?
      (4) Terus terang saja, saya justru terinspirasi dari kalimat “Indah pada Waktunya”. karena setelah merenungkan, ada berbagai fase yang dialami manusia, ada kalanya ia mengalami fase terpuruk, ada kalanya ia mengalami ujian yang berat, ada kalanya ia pernah menjalanai fase yang buruk/gelap baginya. Ketika fase2 berat itu ia lalui , atau ketika kesabaran menahan ujian telah ia lampaui, kemudian ia mendapatkan balasan yang baik dari Allah. Bukankah ini adalah sesuatu yang indah?

      Jawaban dari saya: Saya tidak tahu. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh para Ustadz yang ilmunya kokoh, bukan kepada saya masih jahil.

      2. Tanggapan dari saya:

      - Dalam tulisan di atas disebutkan, “Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan ‘indah pada waktunya’. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak. Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alquran Al-Karim.” Ini sebuah harapan, bukan tahkim, bukan fatwa. Jika memang mengutipnya adalah perkara yang mubah, maka bagi yang ingin mengutip, silakan mengutip; bagi yang tidak ingin mengutip, silakan tidak mengutip. Jika memang perkataan saya di atas tergolong sebagai tahkim atau pun fatwa, maka saya ruju’ kepada al-haq.
      - Sebagian orang menyukai kutipan “indah pada waktunya” karena susunannya yang puitis, maknanya yang dalam.
      - Tulisan di atas hanya berlaku untuk kalimat “indah pada waktunya”, bukan membahas rincian hukum Islam terkait pengutipan Injil.
      - Ucapan Anda memang benar. Secara makna, kalimat “indah pada waktunya” adalah sesuatu yang benar, sebagaimana contoh yang telah Anda uraikan. Akan tetapi, jika memang mengutipnya itu mubah, maka untuk saya pribadi, saya lebih suka jika tetap mengutip kalimat yang maknanya seperti itu, dari Alquran maupun hadis. Syukur-syukur bisa menghafal kalimat dari Alquran atau hadis itu, sehingga bisa mendapat keindahan kalimat itu, juga mendapat pahala karena menghafal Alquran.

      Mohon maaf jika ada penyampaian yang kurang berkenan. والله أعلم

    • erwin berkata:

      Maaf, saya orang yang sangat dangkal ilmu agama… tapi sdh lama saya tahu kata2 di atas adalah kutipan injil. Menurut saya yang awam, menggunakan kutipan ( meng quote ) dari injil, sama saja dengan meninggalkan qur’an. Al-Qur’an penuh dengan hikmah, mengapa harus mengutip dari kitab lain?

      Bayangkan analogi berikut : menggunakan ayat kitab lain dengan meninggalkan Al-Qur’an, sama seperti meningalkan istri untuk tidur dengan perempuan lain. Perempuan lain itu juga sama cantiknya dengan istri kita, sopan, pandai, dlsb. Tapi apakah dibenarkan? Tidak. Karena kita telah mengikatkan diri dengan istri kita.
      Dengan memeluk Islam, kita mengikatkan diri dengan Al-Qur’an. Tidak ada kitab lain yang lebih berhak untuk dipelajari dan diperdalam selain Al-Qur’an.

      Saya tidak percaya jika tidak ada ayat Al-Qur’an yg berkaitan dengan pengajaran yang sama. Al-Qur’an adalah kitab terlengkap, pada saat saya mengetik ini pun saya teringat ayat “inna ma’al usrii yusraa”. Mungkin bisa mewakili pengajaran yg sama dengan yang terdapat di ayat injil tsb?

      Wallahu a’lam… piss :)

  2. syarifah berkata:

    Al qur’an memiliki bahasa yg lebih indah,… lebih bermakna, dan memiliki syair yang tinggi nilainya,… knp hrs membela mati-2an bahasa dari kitab agama yg Allah tidak akui,….

  3. Assalamu`alaikum.
    Saya mau tanya jujur aku masih awam tentang Islam terlebih tentang rukun IMAN jadi jika aku boleh bertanya maka inilah pertanyaanku:

    1.Iman kepada kitab Allah apa hanya pada Al-Qur`an saja?
    2.Apa injil itu bukan kitab dari Allah/karangan manusia?
    3.Apakah semua isi Injil itu salah gak ada yang bener satu ayat pun?
    4. jika TIDAK untuk jawaban no 3 maka tunjukanlah letak kesalahan dari ayat injil di atas?

    Terimakasih saya tunggu jawabannya ea … Wassalamu`alaikum.

    • @nto berkata:

      Alaikum salam.
      Izinkanlah saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas, apabila ada kesalahan dalam jawaban mohon kiranya saya dimaafkan dan dikoreksi.

      1. Taurat,Zabur,Injil dan Alqur’an.
      2. Bukan, karena Injil ditulis setelah nabi Isa alaihissalam di angkat.
      3. Saya tidak berkomentar tentang ini, yg bisa saya katakan adalah masing2 Injil memiliki kalimat yang berbeda (Mathius,Lukas & yg lain). Sedangkan Alqur’an semuanya sama.

      berikut beberapa referensi untuk saling bertukar pendapat dan saling mengisi.

      Wallahu a’lam

  4. hamba اَللّهُ berkata:

    Sebagai umat muslim, sepantasnya dan lebih baik menggunakan perkataan dari nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

    ”Dan sesungguhnya kelapangan pasti datang setelah kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan pasti disudahi dengan kemudahan.” (HR. Ahmad)
     

    ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s